.
Oleh : Cahyadi Takariawan
The first step in liquidating a people is to erase its memory. Destroy its books, its culture, its history –Milan Kundera
.
Salim A. Fillah, penulis puluhan buku best seller, dalam acara Silaturahim Akbar Penulis Indonesia secara online, hari Kamis 10 Desember 2020, mengungkap istilah passion dan mission. Menurutnya, menulis jangan hanya karena passion, namun harus menjadi mission.
Simak kembali di sini:
Ini hal yang sangat menarik. Menulis bukan sekedar karena “saya suka”, atau “saya bisa”, atau karena telah menjadi hobi. Passion memang membuat seseorang bersemangat dan lancar menulis. Namun jika berhenti pada passion, bisa jadi tulisan yang dihasilkan tidak membawa misi yang membangun.
Maka menulis harus menjadi mission. Ada misi yang diemban dan dinyatakan melalui tulisan. Bahkan ketika menulis bukan menjadi passion dirinya, seseorang tetap bisa menulis karena memiliki misi yang jelas.
Misi Menghancurkan
Tulisan bisa menghancurkan sebuah peradaban. Generasi muda bisa diracuni pemikiran, perasaan dan perilaku mereka melalui tulisan. Perilaku menyimpang, bisa dicitrakan sebagai hal yang normal dan wajar, melalui tulisan.
Generasi muda bisa diajak menerima sex bebas, alkohol, obat terlarang, melalui novel dan naskah film. Dengan alasan kebebasan, hak asasi manusia, demokratisasi, dan jargon-jargon kemanusiaan, generasi muda bisa diracuni pemikiran mereka melalui tulisan.
Masyarakat bisa dirusak ingatan mereka akan sejarah bangsa, melalui tulisan. Milan Kundera, seorang novelis Ceko menyatakan, “The first step in liquidating a people is to erase its memory. Destroy its books, its culture, its history. Then have someone write new books, manufacture a new culture, invent a new history. Before long the nation will begin to forget what it is and what it was”.
Menurut Kundera, langkah pertama menghancurkan suatu bangsa adalah dengan menghapus ingatan mereka. Kundera sangat yakin, bahwa “the struggle of man against power is the struggle of memory against forgetting”. Perjuangan manusia melawan kekuasaan, bagi Kundera, adalah perjuangan ingatan melawan lupa.
Hancurkan buku, hancurkan kebudayaan, hancurkan sejarah. Setelah musnah, tulis buku baru, ciptakan budaya baru, bangun sejarah baru –sesuai keinginan pihak yang merusak. Hancur sudah bangsa, dan muncul bangsa baru yang sesuai kehendak pihak perusak.
Buku sejarah bisa diubah. Persepsi masyarakat bisa diarahkan dengan tulisan. Novel diciptakan, naskah drama, telenovela, sinetron, serta sinema, semua bisa diseting untuk merusak bangsa. Sebuah bangsa bisa hancur dan binasa, melalui tulisan.
Misi Membangun
Bangsa Indonesia dijajah Belanda, adalah sejarah yang harus ditulis. PKI melakukan pemberontakan, adalah sejarah yang harus dituliskan. Harus menjadi bacaan masyarakat, melalui novel, kisah, legenda, film dan berbagai sarana lainnya.
Jika buku sejarah, novel, kisah, sinetron dan film yang beredar di masyarakat menyatakan Belanda membangun Indonesia, pasti tak akan ada kisah perjuangan. Tak akan ada kisah kemerdekaan. Tak akan ada kisah perlawanan.
Yang akan berkembang pada persepsi bangsa Indonesia, Belanda adalah pahlawan yang membangun dan mensejahterakan Indonesia. Belanda adalah negara yang sangat berjasa terhadap Indonesia, karena mengentaskan Indonesia dari kebodohan dan keterbelakangan.
Inilah yang dinyatakan oleh Kundera. “The struggle of memory against forgetting”, dalam bahasa lainnya, menolak lupa. Melalui tulisan kita melawan lupa. Jangan pernah lupa, bahwa kita pernah dijajah Belanda. Jangan lupa, pahlawan bangsa kita telah berjuang melawan penjajah Belanda.
Jangan pernah lupa, bahwa PKI pernah melakukan pemberontakan dan kekejaman. Jangan pernah lupa, pemberontakan PKI menelan korban jiwa yang tak terhingga. Banyak pahlawan revolusi yang gugur karena kekejaman PKI. Jika sejarah tidak ditulis, masyarakat akan lupa.
Menulis hendaklah memiliki mission membangun. Melalui tulisan, kita membangun sumber daya manusia Indonesia. Ada banyak sisi yang bisa kita bangun melalui tulisan. Di antaranya adalah mengarahkan bangsa Indonesia agar sesuai tujuan nasional.
Dalam Pembukaan UUD NRI 1945 dinyatakan, tujuan nasional ada empat aspek. Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, serta ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Maka miliki misi menulis. Bukan hanya karena memiliki passion. Akan sangat kuat pesan Anda melalui tulisan, apabila didasari mission.
Selamat menulis. Selamat berkarya, untuk membangun Indonesia.
Bahan Bacaan
Desmond Berg, We Were Warned About Historical Amnesia, https://sovereignnations.com, 2 April 2019
Silaturahmi Penulis Nasional – https://youtu.be/Om7o8q9Ppdw

Sejarah dan kejujuran hanya berada pada penulis yang tercerahkan….wartawan yang jujur terpinggirkan….kebebasannya merenggut oleh nafsu dan keangkuhan penguasa yang enggan dikritik. Beberapa wartawan memilih meninggalkan profesinya karena tidak sanggup melawan hati nuraninya sendiri.
Bila ingin bangsa ini bermartabat marilah kita menulis sesuai bidang kemampuan kita….perluas jaringan komunikasi, saling berbagi dan memahami lingkungan sekitar kita. Mencoba memahami apa yang terjadi, saling mengisi dan berbagi apa yang kita bisa beri untuk negeri. Hasbunallahu wa nikmal wakil nikmal maula wa nikman nashiir.
Terima kasih Ilmu nya… Semoga bisa menuliskan sejarah yang mampu menggiring generasi untuk lebih mencintai kebenaran dan kejujuran,…
Menulis untuk berperang melawan kedzoliman. Memiliki great yang tinggi dibanding untuk yang lain. Ibarat amal, Ia memiliki keutamaa. Menulislah unthk menghancurkan pelaku kedzoliman.
Penulis yang legendaris menulis berdasarkan passion. Passion yang dilandasi oleh visi yang luas dan jauh ke depan. Bukan lagi tentang diri-sendiri dan kelompok tetapi tentang kepentingan kemanusiaan yang lebih luas. Visi itu diperjuangkan dalam bentuk misi. Hasil tulisan yang bukan saja menarik tetapi mencerahkan, membangkitkan, dan memerdekakan pembacanya itulah buah penulis yang selesai dengan dirinya-sendiri. Penulis yang demikian tak pernah berhenti berkarya karena ia sendiri menyadari hidupnya adalah bagian dari misinya. Karenanya, ia juga terus menerus belajar mengolah ide, pengalaman, dan harapan menjadi milik semua, milik kemanusiaan dan semesta, milik pencipta-Nya sebagaimana ia diciptakan-Nya.
Terima kasih Pak Cah motivasi pagi ini. Dari tulisan Pak Cah semakin memperjelas pemahaman saya dari apa yg disampaikan kemarin sore. Kemarin saya masih abu abu sekarang Alhamdulillah semakin jelas…
Jadilah penulis yg menginspirasi hal positif, ya hanya yang bermakna dan betema membangun peradaban ke arah positif. Kejujuran dikedepankan. Berani melawan kebodohan. Jaga NKRI. Hargai kebhinekaan dan perbedaan. Hindari yang mengandung sara, bisa bahaya..jaga keselamatan diri pribadi maupun sesama, tunjukkan ‘kasih’ sebagai sesama umat ‘beriman’. Salam hormat