.
Oleh : Cahyadi Takariawan
“Stop asking yourself why you are not successful, and start asking yourself why should you be successful as a writer?” –Laura Tong.
.
Banyak penulis besar dunia yang mengalami kegagalan di awal karier kepenulisan. Anda pasti pernah mendengar nama penulis besar Jane Austen. Ya, ia adalah novelis hebat asal Inggris, yang terkenal karena menulis novel populer, Pride and Prejudice dan Sense and Sensibility. Sekelas Austen pun, harus merasakan kegagalan terlebih dahulu.
Buku pertama yang ditulis Jane Austen untuk diterbitkan adalah Northanger Abbey. Pada tahun 1803, sebuah penerbit membayarnya 10 pound, dan berjanji untuk segera menerbitkan dan bahkan mengiklankan buku tersebut. Namun ternyata, janji tinggal janji. Buku Austen tidak pernah diterbitkan,apalagi diiklankan. Tidak ada penjelasan apa-apa atas kondisi itu.
Pada tahun 1809 saudara Jane Austen menyarankan kepada penerbit agar segera menerbitkan buku itu, atau mengembalikannya kepada Austen. Jika memang penerbit tidak mau menerbitkan naskah itu, Austen bisa mencari penerbit lain. Namun penerbit menanggapi saran tersebut dengan sinis.
Mereka menyatakan bahwa tidak ada perjanjian untuk deadline penerbitan; sehingga mereka merasa memiliki hak atas naskah buku itu. Jika Austen menginginkan naskahnya kembali, harus membayar kembali 10 pound yang pernah diterima. Jumlah yang kecil saat itu, namun Austen tidak bisa menebusnya.
Kondisi seperti ini sering kali membuat banyak penulis berputus asa. Mendapat penolakan dan gagal terbit adalah kondisi yang menyedihkan. Hingga satu dekade berlalu, dan buku Austen belum juga diterbitkan. Untuk banyak kalangan penulis, jika sampai titik ini, mungkin sudah menyerah kalah.
Saat itu ada banyak teman dan keluarga yang meminjam naskah Pride & Prejudice. Austen harus menulis berulang-ulang, sehingga ia memiliki lebih banyak salinan untuk bisa dipinjamkan. Ketika novel Sense & Sensibility diterbitkan pada tahun 1811, ternyata langsung sukses disambut pasar, dan semuanya menjadi berubah.
Austen akhirnya membayar 10 pound untuk bisa mendapatkan naskah Northanger Abbey kembali. Kakak Austen memberi tahu penerbit bahwa yang membayar adalah penulis novel Pride & Prejudice yang sangat laris. Ternyata penerbit melayani mereka dengan baik.
Sukses sebagai Penulis Harus Diperjuangkan
“Success comes with its own demands. If you accept them, you will gain enormous mental clarity and energy. And your level of success or failure will be a direct result of the mental and physical effort you put into your creative endeavor” –Laura Tong.
Kisah perjuangan Jane Austen di atas hanyalah salah satu contoh kecil, dari kerasnya perjuangan para penulis dunia untuk meraih sukses. Mereka bukanlah orang yang mudah baper dan cepat menyerah. Sebaliknya, mereka bersedia bersusah payah dan berjuang sekuat tenaga.
Kita semua berharap bisa meraih kesuksesan sebagai penulis. “Siapa yang tidak ingin novel pertamanya masuk dalam daftar buku terlaris? Atau posting blog pertama mereka menjadi viral?” ujar Laura Tong.
Sayangnya, ketika harapan itu belum kita dapatkan, sering disikapi dengan keputusasaan. Sikap ini yang membuat kita tidak bangkit dari kegagalan. Terus menerus merasa gagal akan mematikan semangat kreativitas dan produktivitas.
“Maka berhentilah bertanya pada diri sendiri mengapa Anda tidak sukses, dan mulailah bertanya pada diri sendiri mengapa Anda harus sukses sebagai penulis?” saran Tong. Realitasnya, terus menerus merasa gagal hanya akan menjadi hantu yang membuat Anda takut melangkah dan berkarya.
“The harsh but liberating truth is that being a writer, good or otherwise, doesn’t entitle you to automatic success” –Laura Tong.
Setiap penulis bisa mencapai sukses dengan perjuangan dan pengorbanan. Mereka tidak mendapat kesuksesan secara gratis dan cuma-cuma. Harus dibayar dengan kesungguhan, keringat dan air mata. Tanpa mau bersusah payah, sulit untuk mendapatkan kesuksesan.
Menurut Tong, dunia tulis menulis tidak akan memberi Anda hak untuk sukses secara otomatis. Ini berlaku untuk dunia apapun. Semua kesuksesan harus diperjuangkan oleh diri kita sendiri. Tak mungkin kita menunggu kesuksesan diberikan oleh orang lain. Karena semua orang juga ingin sukses.
“Sukses datang dengan tuntutannya sendiri. Jika Anda menerimanya, Anda akan memperoleh kejernihan mental dan energi yang luar biasa,” ungakp Tong. “Dan tingkat keberhasilan atau kegagalan Anda akan menjadi akibat langsung dari upaya mental dan fisik yang Anda lakukan dalam usaha kreatif tersebut”, sambungnya.
Jika pernah merasakan kegagalan sebagai penulis, itu hanya kisah awal untuk bekal Anda meraih sukses. Pernah ditolak media cetak, pernah ditolah penerbit mayor, buku yang sudah terbit tidak laku dijual, postingan Anda di media sosial tidak ada yang memberikan jempol likes, dan lain sebagainya –itu biasa saja.
Bersyukurlah bahwa Anda diberi kesempatan untuk merasakan penolakan dan kegagalan, agar bisa menjadi pelajaran. Anda terus belajar, Anda terus memperbaiki kualitas tulisan. Akan ada masanya Anda mencapai kualitas karya yang layak diperhitungkan.
Sudah siapkah Anda untuk perjuangan ini? Ayuk terus belajar dan berkarya.
Bahan Bacaan
Laura Tong, 10 Ways To Stop Feeling Like A Failure As A Writer, https://writetodone.com, diakses 19 Mei 2022
