20 September 2026

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

Writing is so hard because we put so many expectations on our writing, and those expectations weigh down not only our fingers while typing, but also our words” –Alex Aster.

.

Tidak ada awal yang mudah. Tidak ada jalan sukses yang lurus-lurus saja. Selalu ada kesulitan dalam mengawali sesuatu. Selalu ada kerumitan untuk menuju posisi keberhasilan. Termasuk dalam menulis. Setiap penulis hebat hari ini, lahir dari proses perjuangan mengatasi kesulitan.

Setelah mereka menempuh perjuangan panjang dalam dunia menulis, akhirnya tiba pada suatu titik di mana menulis menjadi mudah. Mereka telah melewati berbagai kesulitan, dan belajar dari cara mengatasi kesulitan menulis, hingga akhirnya merasakan kemudahan dalam menghasilkan karya.

Bukan hanya kita, para pembelajar, dan para penulis pemula. Mereka yang sudah hebatpun juga pernah mengalami kesulitan. Hanya saja, saat ini mereka telah lebih piawai untuk mengatasi setiap kesulitan. Kelak, kita semua juga akan sampai pada level mereka, bahkan bisa jauh lebih baik dari mereka—dalam mengatasi hambatan menulis.

Benarkah Menulis itu Sulit?

“Writing is hard. If you don’t have a burning desire, don’t do it. But if you are passionate about it, don’t let anything or anyone stop you. Follow your passion. Start today.” –Iris Yang.

“Menulis itu sulit”, ujar Iris Yang. “Jika Anda tidak memiliki keinginan yang membara, jangan lakukan itu. Tetapi jika Anda bersemangat menulis, jangan biarkan apa pun atau siapa pun menghentikan Anda. Ikuti gairah Anda. Mulai hari ini,” lanjutnya.

Bagi Iris Yang, menulis itu sulit bagi mereka yang lemah dalam kemauan. Tidak punya tekad yang kuat. Tidak punya semangat. Namun jika Anda memiliki tekad yang kuat, tak akan ada sesuatu apapun yang menghalangi Anda. Tak ada hal sulit yang tak bisa Anda pecahkan, sepanjang Anda memiliki tekad kuat untuk menulis.

Tapi, benarkah menulis itu sulit secara obyektif? Ataukah kesulitan yang munculnya secara subyektif? Coba kita simak pengakuan para penulis berikut ini, tentang apakah menulis itu sulit? Penuturan sembilan penulis berikut dirangkum oleh Scott Neumyer (2021).

  • Megan Abott : Sulit, Karena Misterius

Megan Abbott, penulis buku The Turnout menyatakan, yang sulit dari menulis adalah “Kesendiriannya, kesunyiannya”. Bahwa menulis itu proses yang misterius. Pada titik tertentu, “Jika dipaksakan, kita bisa menghasilkan kata, kalimat, paragraf, tapi tidak ada artinya,” lanjutnya.

Menurut Abott, ketika menghadapi kesulitan menulis, lalu kita memaksakan tetap menulis, yang akan keluar hanya kata-kata, namun tidak nyambung dengan konteks cerita. Artinya, harus dilakukan langkah solutif untuk mengatasi kesulitan yang sangat subyektif ini.

“The solitariness of it, the elusiveness of it. If forced, we could generate words, sentences, paragraphs, but it would be meaningless. So, the thing that makes it a story, the words that etch out a character that the reader can see and feel and hear … there’s plenty of tricks to get there. You can create the conditions for that element to come forward, and do what you can to push yourself into that state that makes it happen … but part of it remains mysterious” –Megan Abbott.

Menurut Megan Abott, “Hal yang membuatnya menjadi sebuah cerita, kata-kata yang membentuk karakter yang dapat dilihat, dirasakan, dan didengar oleh pembaca, tentu ada banyak trik untuk mencapainya”. Sejumlah trik dan tips bisa dicoba saat Anda berada dalam kebuntuan untuk menghadirkan tulisan yang berkarakter.

“Anda dapat menciptakan kondisi untuk elemen itu untuk maju, dan melakukan apa yang Anda bisa untuk mendorong diri Anda ke dalam keadaan yang mewujudkannya. Namun, sebagian darinya akan tetap misterius”, lanjut Abott.

  • Brandy Colbert : Lebih Sulit Jika Tidak Menulis

Brandy Colbert, penulis buku Black Birds in the Sky menyatakan, “For me, not writing is often harder than writing”. Bagi Colbert, tidak menulis seringkali lebih sulit daripada menulis. Ini tentu pernyataan yang menarik.

Pada level tertentu, lebih sulit untuk tidak menulis daripada menulis. Ketika Anda menulis, kesulitan akan bisa diatasi. Namun jika Anda berhenti menulis, tak ada kesulitan yang bisa diselesaikan.

Maka, menurut pengalaman Colbert, jangan berhenti menulis saat Anda menemui kesulitan. Karena ketika Anda tidak menulis, kondisinya akan semakin sulit. Anda tidak akan menemukan suatu solusi jika berhenti. Maka menulislah.

  • Alex Aster Sulit Karena Terlalu Banyak Ekspektasi

Alex Aster, penulis buku Curse of the Forgotten City menyatakan, “Writing is so hard because we put so many expectations on our writing, and those expectations weigh down not only our fingers while typing, but also our words”.

Menurut Aster, “Menulis itu sangat sulit karena kita menaruh begitu banyak harapan pada tulisan kita. Harapan itu tidak hanya membebani jari kita saat mengetik, tetapi juga kata-kata kita”. Maka hendaklah kita menetapkan harapan yang realistis, sesuai dengan kapasitas yang kita miliki.

Untuk penulis pemula, tidak perlu bermimpi buku perdana langsung best seller nasional atau internasional. Lebih baik kita menyusun harapan yang lebih sesuai dengan situasi dan kondisi yang kita hadapi. Berhasil menerbitkan satu buku, itu adalah sebuah target dan harapan realistis untuk pemula. Adapun kualitas, kita perbaiki di sepanjang proses kehidupan menulis kita.

  • Sarah Gerard Sulit, Karena Ingin yang Terbaik

Sarah Gerard, penulis buku True Love menyatakan, “Menulis itu bisa sulit. Namun juga bisa mudah dan menyenangkan. Atau menyenangkan dan sulit. Atau sulit tapi penting, menggairahkan, dan memuaskan”. Situasi menulis tidak selalu sama.

It can be hard. It can also be easy and fun. Or fun and hard. Or hard but important, exciting, and fulfilling. We wouldn’t keep doing it otherwise. It’s hard because doing it well matters, because stories matter, and the details matter, and there are often a lot of details” –Sarah Gerard.

“Menulis itu sulit karena melakukannya dengan baik itu penting, karena cerita itu penting, dan detailnya penting, dan seringkali ada banyak detail,” ujar Sarah Gerard. “Terkadang mereka membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk terorganisir. Perasaan, ide, dan ingatan yang kita masukkan ke dalam tulisan juga penting, dan berlapis-lapis, dan kita tidak bisa memaksakan pemahaman tentangnya”, lanjutnya.

Sometimes they take years to organize. The feelings and ideas and memories that we put into the writing also matter, and are layered, and we can’t force an understanding of them. We can only try to approach them with words, and, as many words as there are to choose from, or create, and despite their myriad iterations, they’re never enough” –Sarah Gerard.

“Kita hanya dapat mencoba mendekati mereka dengan kata-kata. Sebanyak apapun kata yang dapat dipilih, atau dibuat, dan terlepas dari banyaknya iterasi, kata-kata itu tidak pernah cukup”, sambung Gerard.

  • John Green : Sulit Menemukan Kata-kata yang Sesuai Imajinasi

I think writing is easier than many other things. For me, anyway, it is much easier than talking. But still, writing is difficult for me” –John Green.

John Green, penulis buku The Anthropocene Reviewed menyatakan, “Saya pikir menulis lebih mudah daripada banyak hal lainnya. Bagi saya, bagaimanapun, itu jauh lebih mudah daripada berbicara. Tapi tetap saja, menulis itu sulit bagi saya”.

Sometimes it is difficult because I do not know what I want to say, but usually it is difficult because I know exactly what I want to say but what I want to say has not yet taken the shape of language. When I’m writing, I’m trying to translate ideas and feelings and wild abstractions into language, and that translation is complicated and challenging work” –John Green.

“Terkadang menjadi sulit karena saya tidak tahu apa yang ingin saya katakan”, ujar John Green. “Biasanya lebih sulit karena saya tahu persis apa yang ingin saya katakan tetapi apa yang ingin saya katakan tersebut belum berbentuk bahasa”, lanjutnya. Sudah ada gumpalan keinginan untuk dituliskan, namun begitu memilih  bahasa yang mewakili keinginan tersebut, tidak cukup mudah.

”Ketika saya menulis, saya mencoba menerjemahkan ide dan perasaan dan abstraksi liar ke dalam bahasa. Proses menerjemahkan itu adalah pekerjaan yang rumit dan menantang”, sambungnya.

  • Kosoko Jackson Sulit Memilih Ide yang Akan Ditulis Duluan

For me, the hardest part of writing is deciding what to write about. I have a lot of ideas, but not every idea is a viable idea. Is there a character? Is there a plot? Is there a through line? Is this something I want to spend 18 to 36 months on? Do I know enough to walk through the forest, but not so much that it feels boring to tell the story to myself?” –Kosoko Jackson.

Kosoko Jackson, penulis buku Yesterday Is History menyatakan, “Bagi saya, bagian tersulit dari menulis adalah memutuskan apa yang akan ditulis”. Bagi seorang penulis yang memiliki sangat banyak ide, memutuskan untuk memilih sebuah ide untuk ditulis, adalah kesulitan tersendiri.

“Saya memiliki banyak ide, tetapi tidak setiap ide layak untuk ditulis”, ujar Jackson. “Apakah ada karakter? Apakah ada plotnya? Apakah ada jalur tembus? Apakah ini sesuatu yang ingin saya habiskan selama 18 hingga 36 bulan? Apakah saya cukup tahu untuk berjalan melalui hutan, tetapi tidak terlalu banyak sehingga terasa membosankan untuk menceritakan kisah itu kepada diri saya sendiri?”, sambungnya.

Writing is a journey for me that is as much writing a story that will appeal to readers (and my agent and editor) as much as telling a story to myself. What “lesson” am I trying to teach myself? What skill am I trying to sharpen? These are just a few of the questions I ask myself when making a novel, and not every novel has the answers — yet” –Kosoko Jackson.

Bagi Jackson, menulis adalah sebuah perjalanan, yaitu menulis cerita yang menarik bagi pembaca. “Ini sama seperti menceritakan sebuah cerita kepada diri saya sendiri”, ujarnya. “Pelajaran apa yang saya coba ajarkan pada diri saya sendiri? Keterampilan apa yang saya coba pertajam? Ini hanya beberapa pertanyaan yang saya tanyakan pada diri sendiri ketika membuat novel, dan tidak setiap novel memiliki jawabannya, atau paling tidak, belum”.

  • Morgan Jerkins Sulit Memilih Kata yang Sesuai dengan Adegan

“Writing is hard because sometimes — or perhaps many times — the words do not match the imagery of a specific scene that you have in your mind. It feels like there is always something that’s lost in translation as soon as it’s immortalized on the page” –Morgan Jerkins.

Morgan Jerkins, penulis buku Caul Baby menyatakan, “Menulis itu sulit karena terkadang, atau mungkin berkali-kali, kata-katanya tidak sesuai dengan gambaran adegan tertentu yang ada dalam pikiran Anda”. Imajinasi yang ada dalam benak Anda, terasa demikian indah atau heboh. Namun giliran diwujudkan kata-kata, tak mampu mewakilikeindahan dan kehebohan imajinasi tersebut.

“Rasanya selalu ada sesuatu yang hilang dalam menerjemahkan ide-ide, segera setelah dituliskan di halaman,” ujar Jerkins. Kadang penulis kecewa karena apa yang ada dalam benaknya, tak mampu diungkap sepenuhnyake dalam kata-kata. Di sini kesulitannya.

  • Jonny Sun Sulit, Karena Tidak Terbatas

Writing is hard because you are dealing with the infinite. Out of a blank page, there is an unlimited number of possibilities of what to write. And at every scale of writing, this limitlessness exists — it feels like every word is an impossible choice” –Jonny Sun.

Jonny Sun, penulis Goodbye, Again menyatakan, ”Menulis itu sulit karena Anda berurusan dengan dunia yang tak terbatas. Dari halaman kosong, ada kemungkinan yang tidak terbatas tentang apa yang harus ditulis. Dan pada setiap skala penulisan, ketidakterbatasan ini ada, rasanya setiap kata adalah pilihan yang mustahil”.

 “Every sentence can be written in endless different ways. And the ways those build to say something also exist in a million different permutations. The ideas and the way you structure those ideas are endless — the endlessness multiplies itself” –Jonny Sun.

“Setiap kalimat dapat ditulis dengan cara berbeda yang tak ada habisnya”, lanjut Jonny. “Dan cara mereka membangun untuk mengatakan sesuatu juga ada dalam sejuta permutasi yang berbeda. Ide-ide dan cara Anda menyusunnya tidak pernah ada habisnya, hingga ketidakberakhiran itu menggandakan dirinya sendiri,” sambungnya.

  • Chuck Wendig : Tidak Tahu, Mengapa Bisa Sulit?

I don’t know. Why is it hard digging ditches? Why is it hard being a god? Writing is somewhere in between both of those. You’re the god of digging ditches. You’re navigating this interstitial terrain between art and craft, between self-actualization and commerce, between empathy and evil. It has all these rules, and almost none of them are true” –Chuck Wendig.

Chuck Wendig, penulis buku The Book of Accidents menyatakan, “Saya tidak tahu. Mengapa menggali parit itu sulit? Mengapa sulit menjadi dewa? Menulis ada di antara keduanya”.

“Anda adalah dewa penggali parit. Anda menavigasi medan interstisial antara seni dan kerajinan, antara aktualisasi diri dan perdagangan, antara empati dan kejahatan. Ia memiliki semua aturan ini, dan hampir tidak ada satupun yang benar”, lanjut Wendig.

 “The work is the work, and the work is sometimes hard. It’s supposed to be easy, and some days it is — ironically, the easy days don’t mean the work was good, and the hard days don’t mean the work was bad. The short answer is, again, I don’t know. Maybe it’s hard because it needs to be hard, because if it were too easy, it wouldn’t really matter” –Chuck Wendig.

“Pekerjaan adalah pekerjaan, dan pekerjaan terkadang sulit. Seharusnya mudah, dan kadang-kadang, ironisnya, hari-hari yang mudah tidak berarti pekerjaan itu baik, dan hari-hari yang sulit tidak berarti pekerjaan itu buruk. Jawaban singkatnya adalah, sekali lagi, saya tidak tahu. Mungkin menulis itu sulit karena memang perlu sulit, karena jika terlalu mudah, itu bukan masalah.

Bahan Bacaan

Good Reads, Writing Inspiration Quotes, https://www.goodreads.com

Scott Neumyer, 9 Writers on Why Writing Is So Hard, https://www.shondaland.com, 27 September 2021

1 thought on “Menjaga Spirit Menulis – 16

  1. Menulis menjadi mudah, ketika kita bersemangat dan bertekad kuat untuk menyelesaikannya. Terima kasih spirit nutrisi paginya. Syukran katsira ustadz Cahyadi Takariawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *