19 September 2026

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

If you wait for inspiration to write you’re not a writer, you’re a waiter” –Dan Poynter.

.

Paul J. Silvia, profesor psikologi di University of North Carolina di Greensboro dan penulis buku “How to Write a Lot: A Practical Guide to Productive Academic Writing” menyatakan, di zaman sekarang, semestinya sangat banyak kemudahan yang bisa dimanfaatkan oleh para ilmuwan untuk menulis. Namun nyatanya tidak demikian.

Sangat banyak alasan untuk menunda menulis, hingga akhirnya tidak pernah menulis. Semua penundaan itu, menurut Silvia, berakar dari sifat manusia. Apakah Anda termasuk penulis yang suka menunda membuat karya?

Penulis itu Menulis, Penunda itu Menunda

June Whittle menyebut istilah, you procrastinate about stopping procrastination. “Anda menunda untuk menghentikan penundaan”, ini adalah tanda-tanda datangnya kemalasan pada penulis. Saat tiba waktu menulis, ada saja alasan untuk tidak menulis, sembari mengatakan kepada diri sendiri, “Aku bisa menulis besok”.

Begitu pula besok, ia melakukan hal serupa dan mengatakan kalimat yang sama. Gloria Pitzer, penulis puluhan buku, menyatakan “Penundaan adalah dosa saya. Hal itu tidak memberiku apa-apa selain kesedihan. Aku tahu bahwa aku harus menghentikannya. Namun faktanya, aku akan melakukannya… besok”.

Kita semua tahu menunda-nunda itu tidak baik. Namun banyak di antara kita yang menunda untuk menghentikan penundaan. Ini adalah tanda datangnya kemalasan menulis, yang harus kita lawan.

Paul Rudnick, penulis buku “I’ll Take It”, mengomentari fenomena lazy writers dengan menyatakan, “Sebagai seorang penulis, saya membutuhkan banyak waktu untuk menyendiri. Menulis adalah 90 persen penundaan terhadap aktivitas membaca majalah, makan sereal di luar kotak, menonton televisi. Ini adalah bab melakukan segala aktivitas untuk menghindari menulis, sampai sekitar jam empat pagi –saat Anda berada pada titik di mana harus menulis.”

Ungkapan Paul Rudnick menggambarkan zamannya –membaca majalah, menonton televisi. Saat ini, alasan itu tentu berbeda lagi. Namun esensinya sama : tidak pernah menulis, dengan alasan sibuk mengerjakan hal-hal lain. Inilah karakteristik “lazy writers”.

Menemukan Makna Menulis

“Everyone must write. Not for money, fame, or notoriety. Most professional writers know none of these things. I want you to write for deeper and more existential reasons” –Ryan J. Pelton, 2017.

Menulis menjadi aktivitas penting, bagi mereka yang telah menemukan makna menulis. Ketika menulis adalah untuk sebuah tujuan, untuk sebuah harapan, untuk sebuah visi, untuk sebuah motivasi, untuk sebuah orientasi –maka menulis menjadi sangat menantang dan menggairahkan. Di manapun dan kapanpun akan selalu bisa menulis.

“Setiap orang harus menulis, “ujar Ryan J. Pelton. “Bukan untuk uang, ketenaran, atau kemasyhuran. Para penulis profesional tidak mengagendakan hal-hal seperti ini. Saya ingin Anda menulis untuk alasan yang lebih dalam dan lebih eksistensial daripada sekedar hal-hal tersebut”.

Maka saat Anda merasa sulit memulai menulis, lebih mudah untuk menunda menulis, atau lebih gampang menemukan alasan untuk tidak menulis –pertanyaan awalnya adalah, apa makna menulis bagimu? Apakah menulis memiliki makna yang penting bagimu? Jika tidak, jangan berharap Anda menulis meski memiliki banyak waktu.

Membiasakan Diri Rutin Menulis Setiap Hari

The most important thing for me about writing—for most people, not everybody, but maybe 99.99% of them—is if you write every day for a short period of time, one to three hours, you’re going to get deeper and deeper into those parts of yourself that you never understood because writing is a lot like the early twentieth century practice of psychoanalysis” –Walter Mosley.

Anda akan menjadi penulis produktif apabila memiliki kebiasaan menulis rutin setiap hari. Tulislah berbagai tema, atau satu tema –sesuai minat dan kecenderungan Anda. Anda bebas memilih tema, jenis, rumpun –yang paling penting adalah rutin menulis setiap hari. Bukan setiap pekan. Bukan setiap bulan.

Wolter Mosley menyatakan, “Hal terpenting dalam menulis bagi kebanyakan orang, adalah menulis setiap hari untuk waktu tertentu, satu hingga tiga jam”. Tentang alokasi waktu ini, tentu tidak harus satu hingga tiga jam seperti ungkapan Mosley. Berapapun waktu yang Anda mililiki, mungkin 10 menit, 15 menit atau 30 menit –tidak masalah.

Mungkin Anda memiliki target hitungan jumlah tulisan, bukan waktu. Misalnya menulis 100 kata setiap hari, atau 200 kata setiap hari. Silakan dirumuskan dan dipilih yang paling sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing –namun : menulislah!

Rutin menulis setiap hari, adalah sebuah cara mengenali diri sendiri lebih mendalam. “Dengan cara ini Anda akan mengenal semakin dalam dan dalam.bagian-bagian diri Anda yang tidak pernah Anda mengerti sebelumnya”, ujar Mosley.

“Even though psychoanalysis doesn’t really work anymore … it does work for discovering yourself” –Walter Mosley.

Menurut Mosley, “Menulis sangat mirip dengan praktik psikoanalisis awal abad kedua puluh. Andai psikoanalisis tidak bisa berfungsi lagi , maka menulis akan bekerja untuk menemukan diri Anda sendiri”. Luar biasa bukan?

Lalu, atas alasan apa lagi Anda tidak menulis, atau menunda-nunda menulis?

Bahan Bacaan

June Whittle , Do You Recognize the Early Warning Signs of a Lazy Writer? www.writersincharge.com

Mitzi Rapkin, Walter Mosley: Everyone Can Write a Book, https://lithub.com, 13 Januari 2020

Ryan J. Pelton, Writing as a Spiritual Practice, 2017

1 thought on “Menjadi Writer, Bukan Waiter (5)

  1. Betul sekali. Bahwa menunda -nunda itu tidak baik, namun masih terus saya lakukan, niat dan habitlah yang harus di tangguhkan. Syukran katsira ustaz Cahyadi Takariawan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *