.
Oleh : Aidha uMa Nguyen, ID – 00101 EEPK
.
Seorang yang sukses belum tentu berkah, tapi seorang yang significant, sudah pasti akan berkah kalau dia lillah.
Itu adalah bait favoritku. Jadi cemeti diri untuk melecut semangat melewati hidup, bak mantra ajaib yang harus digumamkan untuk merasakan efeknya.
Siapapun kita, apapun yang kita makan, apapun posisi kita, apapun jabatan kita, apapun fungsi kita di rumah, di kantor, di masyarakat, dalam kehidupan berpolitik, berbangsa, bahkan dunia sekalipun. Ada satu tahapan yang harus dikejar, yaitu tahapan significant.
Pribadi yang significant salah satu karakternya adalah, setelah berhasil mereka punya keinginan serta punya kemampuan memacu diri untuk bisa membuat orang lain sukses. Bahkan tidak khawatir kalau didikannya lebih berhasil dan lebih melejit dari dirinya.
Aku bersyukur bertemu dan mengambil pelajaran dari seorang yang memiliki karakter significant ini. Dialah Pak Cah, guru yang akan memberikan sanad menulis untukku.
Aku kagum padanya. Aku ingin sepertinya, juga seperti pribadi significant lainnya. Tentu tidak di ladang yang sama. Karena setiap kita punya potensi berbeda.
Menjadi sosok yang mampu mencontohkan “selalu berenergi positif dan bersemangat”. Selalu menari-nari dalam pikiranku sebagai guru mengaji.
Lihatlah! Kehidupan terus memenangkannya, terus mengantarkannya pada keberkahan. Dari menulis, mengkader penulis, sampai menghantarkannya jadi pebisnis. Ini murni amatanku sendiri, aku yakin murid muridnya yang lain juga merasakan hal yang sama.
Ketika kita berpikir secara significant, yang ada dalam pikiran kita adalah bagaimana bisa sukes dan mengantarkan orang lain menjadi sukses seperti kita, bahkan melebihi kita. Ini ada pada guruku ini.
Beliau tidak takut disaingi muridnya, tidak khawatir kalah populer oleh murid binaannya. Yang ada bagaimana mereka bisa sukses seperti dirinya, bahkan melebihinya, tanpa pilih-pilih murid yang mana.
Intinya beliau siap sukses dan siap suksesi. Siap untuk dilengserkan, kapan saja dan dimana saja siap diganti kepopulerannya. Inilah ciri orang significant, siap sukses dan siap suksesi.
Kalau mau sukses tapi tidak mau suksesi berarti belum termasuk pribadi yang significant. Maaf maaf saja, ubahlah mindset !
Sebagai pribadi significant, ketika menjadi manager, kita akan mendidik anak buah, murid-murid, binaan binaan kita, untuk bisa jadi manager pula. Tanpa berpikir, lantas dimana posisi kita nantinya?
Ketika mereka menjadi manager tentulah kita akan menjadi general managernya (GM). Lalu ketika kita sudah di posisi general manager, kita didik pula mereka bisa sampai ke posisi GM. Lalu kita dimana ? Tentu sudah jadi direktur, atau advicer, atau leader yang lainnya, atau sibuk dengan challenge yang baru.
Inilah yang ditauladani dari Rasulullah saw. Beliau tidak hanya sukses untuk dirinya tapi juga para sahabat-sahabatnya.
Kita pasti tahu Abu Bakar, Umar ibn Khatab, Ustman ibn Affan, Ali Ibn Abi Thalib radhiyallahu anhum, mereka semua adalah hasil didikan Rasulullah saw. Sehingga setelah beliau wafat, dawah tetap berkembang. Inilah semangat menuju kehidupan lebih baik, membina diri dan membina kehidupan.
Thank you emak emak hebat, yang telah menjadi teman perjalanan untuk “pasti bisa” (mengutip motivasinya gurunda). Meski beberapa hari ini aku dikejar-kejar deadline tugas dan amanah. Kalian mampu menarik perhatianku untuk kembali ke habitat EEPK.
Sydney, July winter 28, 2020
