.
Oleh : Cahyadi Takariawan
“Orwell excoriated totalitarian governments in his work, but he was just as passionate about good writing” – Gotham Writers
.
Menulis adalah proses. Bagi para pemula dan pembelajar, saya selalu menekankan agar berani menulis. Tidak takut salah, tidak takut kritik, dan hanya fokus pada menulis. Juga tidak fokus pada jumlah likers atau efek viral.
Ketika Anda semakin lancar dan produktif menulis, maka Anda harus mulai meningkat levelnya. Menjadi penulis yang mengarah kepada profesional. Untuk itu, Anda mulai berlatih untuk menjadi penulis yang cermat dan teliti.
George Orwell adalah novelis asal Inggris yang mengecam pemerintah totalitarian, dan sangat memperhatikan kualitas tulisan. Orwell menyatakan, penulis yang cermat dan teliti, akan mengajukan empat pertanyaan kepada diri sendiri, sebelum menulis.
- What am I trying to say?
Pertanyaan pertama menurut Orwell adalah, apa yang ingin saya katakan? Ini yang sering saya sebut sebagai tujuan. Apa tujuan kita menulis? Untuk apa kita menulis?
Semakin jelas tujuan yang kita tetapkan, semakin mudah kita mengungkapkan. Seperti ketika saya hendak bepergian, semakin jelas tujuan saya, semakin mudah saya mencapainya.
Jangan sampai Anda menulis sesuatu yang tidak jelas. Bahkan Anda tidak tahu sedang menulis apa. Ini jelas sangat menjengkelkan bagi pembaca.
Sebagai contoh, tujuan saya menulis adalah mengajak masyarakat untuk membangun rumah tangga yang harmonis dan bahagia. Saya ingin mengajak masyarakat untuk membina kehidupan keluarga yang sakinah mawadah warahmah.
- What words will express it?
Pertanyaan kedua menurut Orwell adalah, kata-kata apa yang bisa mengungkapkannya? Jika tujuan saya adalah melakukan edukasi tentang rumah tangga harmonis dan bahagia, maka saya bisa memilih kata-kata yang efektif untuk tercapainya tujuan tersebut.
Apakah menggunakan kata-kata negatif, ataukah kata-kata positif? Apakah memilih kata-kata motivasi, ataukah kata-kata kedukaan? Apakah memilih kata-kata ajakan, atau kata-kata larangan? Semua adalah pilihan yang bisa diambil sesuai konteks tulisan.
Semakin tajam tujuan yang Anda tetapkan, semakin tajam pula Anda dalam memilih kata. Jika Anda tidak menetapkan tujuan yang detail, maka akan memungkinkan muncul sangat banyak bias dalam pemilihan kata. Bahkan hanya berbusa-busa tanpa ada isinya.
- What image or idiom will make it clearer?
Pertanyaan ketiga menurut Orwell adalah, gambar atau idiom apa yang membuat tulisan saya lebih jelas? Dengan kejelasan tujuan, saya bisa memilih cerita, kisah, quotes, gambar atau ilustrasi yang mendukung.
Kadang seseorang menggunakan cerita hanya untuk sekedar pelengkap, dan tidak terkait dengan pesan yang ingin disampaikan. Hendaknya cerita, gambar atau ilustrasi apapun yang ditampilkan, bisa menambah kejelasan tujuan.
Bahkan dalam banyak kejadian, gambar atau cerita lebih bisa mewakili suasana pesan yang diinginkan. Satu gambar atau satu cerita, bisa mewakili sangat banyak pesan.
- Is this image fresh enough to have an effect?
Pertanyaan keempat menurut Orwell adalah, apakah gambar yang dipilih cukup segar untuk memberikan efek? Jika kita memilih satu cerita, atau gambar, atau quotes untuk menguatkan pesan, hendaknya memiliki dampak yang menyegarkan pembaca.
Satu sisi cerita atau gambar yang kita pilih, bisa memperjelas pesan yang hendak kita sampaikan. Di sisi lain, cerita atau gambar tersebut sekaligus bisa memberikan kesegaran dan kenyamanan terhadap keseluruhan tulisan kita.
Dengan demikian cerita, quotes, gambar, yang kita pilih telah memberikan efek penyegaran untuk pembaca. Bukan sekedar untuk menjadi asesoris pemanis.
Demikianlah empat pertanyaan untuk menjadi penulis yang cermat dan teliti versi Orwell. Di luar empat pertanyaan di atas, Orwel masih menambah dengan dua pertanyaan tambahan, yaitu apakah saya bisa menuliskan lebih pendek? Apakah saya menulis sesuatu yang jelek?
Orwell menganggap, jika pesan bisa ditulis dengan ringkas, tidak perlu menulis yang panjang. Jangan bangga dengan tulisan yang panjang, jika sesungguhnya bisa diperpendek. Demikian pula, cermati agar kita menulis hal-hal yang baik untuk pembaca.
Mari belajar dan berproses menjadi penulis yang teliti serta cermat. Saya sedang belajar, dan terus belajar. Saya belum teliti dan belum cermat.
Bahan Bacaan
Ann Hadley, 9 Qualities of Good Writing, www.annhandley.com
.
Ilustrasi : https://www.mediabistro.com/

4 pertanyaan sebagai panduan saat menulis.
Menjadikan tulisan bermakna dan bermanfaat, bahkan menjadi pahala.
Terimakasih pak Cah
rima kasih Pak Cah. Ini menjadi ilmu kepenulisan saya.