19 September 2026

Oleh : Linda Sri Utari

“Tidak perlu menunggu waktu yang tepat untuk menulis, karena sejatinya setiap waktu sangat bermakna.” (Linda Sri Utari)

Pernah merasa kesulitan menulis? Pasti pernah ya. Rasanya seolah tidak ada waktu luang untuk sekadar membuat tulisan ringan.

Apalagi sebagai penulis pemula yang masih perlu banyak belajar dari para penulis senior. Ada rasa malu dan malas untuk memulai menulis. Padahal saat sudah menulis, hilang semua rasa itu.

Selain rasa malu dan malas yang menghambat untuk menulis, ada lagi kendala yang kerap muncul, yakni ide dan waktu menulis. Iya, waktu yang digunakan untuk menulis.

Kalau ada banyak orang yang menulis, berarti mereka memang menghabiskan waktunya untuk menulis. Padahal tidak demikian, penulis produktif ialah mereka yang pandai memanajemen waktu. 

Kapan waktu yang tepat untuk menulis?

Setiap orang memiliki waktu untuk menulis yang berbeda. Menurut pendapat saya, waktu yang tepat untuk menulis sama seperti kita melakukan aktivitas sehari-hari, di antaranya :

  • Waktu untuk menulis sama seperti kita menghirup udara atau bernapas

Bernapas itu bisa setiap waktu, tidak ada ketentuan baku. Saya mengistilahkan dengan waktu tanpa pamrih. Tak butuh ‘like’ atau ‘viewer’, sebab menulis sudah menyatu dengan dirinya.

Orang yang menulis dengan cara ini, karena dia suka dengan kegiatan menulis. Waktu menulis bisa kapan saja sesuai suasana hati. Tulisan yang dihasilkan pun biasanya lebih santai untuk dibaca, seperti, quotes, hikmah, atau sekedar cuplikan pantun.

  • Waktu untuk menulis sama seperti jadwal makan.

Pada umumnya, orang akan makan dalam tiga waktu, yakni, makan pagi, makan siang dan makan malam. Ketika kebutuhan menulis menjadi hal yang wajib, layaknya makan yang sudah terjadwal, waktu menulis pun lebih ketat.

Penjadwalan waktu untuk menulis menjadi sebuah keharusan, sebab ada target yang harus dicapai. Misalnya kita harus menyelesaikan tulisan dalam waktu sebulan, maka kita perlu waktu khusus untuk menulis.

  • Waktu untuk menulis seperti kita makan camilan

Makan camilan dilakukan jika diperlukan dan kita suka. Bukan hal yang harus dan sekadar kesukaan. Waktunya bisa kapan saja, subuh, pagi, siang, atau tengah malam pun tidak masalah.

Menurut Pak Cahyadi Takariawan, penulis senior, untuk berkomitmen terhadap waktu menulis. Hasilnya memang lebih tertib dan target penyelesaian tulisan sesuai waktu bahkan bisa lebih cepat.

Akan tetapi, setelah tidak terikat dengan sebuah target tulisan, komitmen itu perlahan melemah. Di saat seperti ini, tetap lakukan kegiatan menulis dengan waktu seperti makan camilan.

  • Waktu untuk menulis seperti kita ingin buang hajat

Ketika kita menghendaki buang hajat, waktunya akan terburu-buru dan harus segera dilakukan. Jika menulis kita samakan dengan waktunya buang hajat, menulis pun mendadak di akhir waktu.

Bagian terakhir yaitu memaksa diri untuk menulis karena dead line. Saya mengibaratkan seperti kebutuhan untuk buang hajat karena waktunya yang mendesak dan penting untuk segera dilakukan. Keterpaksaan dari sebuah dead line ini membuat kita menulis. Kalau tidak dilakukan maka akibatnya bisa runyam.

Sebagai contoh, penyelesaian tugas akhir atau skripsi, pengumpulan makalah, laporan kegiatan dan lain-lain. Ini semua dilakukan biasanya karena tekanan waktu yang bernama dead line. Sebuah batas akhir yang bisa mengakibatkan kesulitan jika tidak dilakukan segera.

Ajaibnya, menulis di bawah tekanan pun tetap bisa dilakukan, sebab memang ada sebagian orang yang bisa menghasilkan karya tulis dengan sebuah proses tekanan. Istilah zaman kuliah disebut SKS (Sistem Kebut Semalam).

***

Empat hal di atas hanyalah pengalaman pribadi saja. Kadang menulis dalam waktu yang bebas dan lancar tanpa tekanan menjadi impian. Tulisan mengalir dalam waktu yang tidak ditentukan. Sebuah aliran yang tak terbatas oleh waktu. Kapan ia akan mengalir maka ia mengalir, layaknya udara yang kita hirup setiap waktu.

Semua waktu untuk menulis sejatinya memiliki nilai. Inti dari semua pilihan waktu adalah tetap menulis dalam kondisi waktu apapun. Waktu luang, waktu sibuk, atau pun waktu kepepet, semuanya tergantung dari penulisnya.

Kalau saya ingin yang pertama, yakni waktu tanpa pamrih. Hanya lebih suka menetapkan waktu seperti nomor dua, menulis seperti jadwal makan walaupun kadang setelah makan tetap ingin buang hajat. Pisss ah!

Profil Penulis : Linda Sri Utari dengan panggilan Linda Satari, saat ini tinggal di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Menjadi Ibu Rumah Tangga dengan aktivitas kemasyarakatan menjadi pilihannya. Medsos yang dimiliki : FB Linda Satari dan IG @lindasatari

1 thought on “Manajemen Waktu dalam Menulis

  1. Maasyaallah mak Linda hebat semangat menulisnya luar biasa. Terima kasih sajian nutrisi paginya. Sehat dan berkah selalu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *