19 September 2026

.

Oleh: Yus Endang Fatmawati, peserta Kelas Menulis Online (KMO) Basic Batch 34 / 2020

.

Kebayang nggak sih rasanya saat kita gabung dalam suatu acara nggak direspon orang? Hanya diliatin aja, rasanya seperti dihakimin.

Pasti gugup, salah tingkah? So pasti nggak kebayang kan rasanya. Hayo sapa yang pernah ngalami?

Yup! Apa lagi tiba-tiba ada yang nyeletuk, “Mbak sepatunya salah warna tu…” Spontan pasti mata kita langsung ke arah kaki. Muka dah kayak kepiting rebus deh, iya nggak?

Dan sedihnya, itu terjadi padaku gaes! Mungkin itulah kira-kira rasa nano-nano  yang ingin aku bagi sama kalian.

Cerita itu bermula saat aku ikut di Kelas Menulis Online (KMO) Basic. Berkenalan dengan sesama peserta latihan, dan saling mengomentari hasil karya.

Biasa kan, dalam suatu grup ada yang respon ada juga yang hanya menonton saja. Aku ada di tengah-tengah. Kadang komen kadang juga hanya menonton. Yang terpenting perintah dan info dari admin kelas, aku usahakan nggak tertinggal.

Saat itu ada instruksi peserta diminta membuat tulisan. Tentu saja aku juga sama seperti yang lainnya, ingin segera menyelesaikan tulisan. Meskipun aku bingung mau menulis apa, dan bagaimana cara menulisnya.

Banyak berseliweran ide dan gagasan untuk menulis, tapi lagi-lagi aku blank. Aku coba fokus untuk memulai menulis, dan alhamdulilah selesai satu artikel.

Inilah awal malapetaka sekaligus bom semangat yang luar biasa yang mencambukku untuk bisa menulis.

Dengan semangat 45 aku mencoba mempublikasikan tulisanku di grup KMO. Dengan harapan ada masukan, kritikan dari temen-temen grup sekaligus dari mentor KMO, untuk perbaikan tulisanku.

Chat demi chat melewati tulisanku. Tidak ada satupun chat yang memgomentari tulisanku. Bahkan mentorku pun nggak sama sekali respon.

“Ah mungkin mereka belum sempet membaca”, demikian batinku. Aku berusaha menghibur diri.

Kututup grup kelas KMO. Kukerjakan kegiatan yang lainnya, meskipun pikiranku tidak bisa lepas dari grup KMO.

Keinginan untuk melihat grup KMO tidak terbendung lagi. Aku buka Whatsapp, ada rasa deg-deg –lebay, mungkin begitu pikir kalian.

Benar saja. Gelegaar! Bagaikan petir di siang bolong. Ada salah satu peserta yang memberi komen.

“Tulisan pertama kali yang tergoreskan dalam lembaran kertas biasanya masih bersifat pribadi”.

“Bila ingin dibuka untuk dibaca orang, maka sebelum dibaca orang, pertama kali juga ia harus membacanya.”

Itulah isi komen itu. Bukan soal kritiknya yang membuatku syok, tapi isi kritikannya yang justru membuat aku bingung. Kedua isi kritikan itu, “Apa maksudnya?”

Pertanyaan itu yang memenuhi pikiranku. Tidak sampai di situ rasa penasaranku. Aku beranikan diri bertanya langsung kepada peserta yang memberi komen tersebut. Jawabannya semakin membuat aku bingung.

Dan jawabannya itu memaksaku untuk membuka file tulisan yang sudah aku kirim grup KMO. Astaghfirulloh…. Ternyata aku salah mengirimkan file.

Betapa tidak telitinya aku. File itu hanya berisi dua kalimat. Bagaimana bisa aku meminta temen-temen, bahkan mentorku, untuk memberi masukan.

“Bener-bener bodoh dan nggak teliti,” gumamku menyesali diri.

Apa sekarang yang bisa aku lakukan? “Teruslah menulis jangan bangga karena pujian,dan jangan merasa sedih karena tidak ada yang memuji tulisan kita”. Kalimat itu tiba-tiba terlintas dalam ingatanku. Sebagian kalimat dari artikel yang diberikan setiap pagi oleh mentorku.

Ternyata kalimat itu mampu membuat aku punya semangat.  Hatiku berkata, “Kamu bisa!”

Tanpa pikir panjang aku kirim artikel itu ke mentorku. Aku memohon dan berharap beliau langsung yang melihat dan membacanya. Aku tidak berpikir lagi nanti gimana, yang penting artikelku sampai ke mentorku.

Benar saja aku harus bersabar. Ternyata tanggapan dari mentorku tidak langsung aku dapatkan. “Pasti beliau sibuk sehingga belum ada waktu untuk melihatnya”. Aku membesarkan hatiku.

Akhirnya artikelku mendapatkan jawaban. Senang sekaligus bingung. Lebih tepatnya bukan jawaban, tapi pertanyaan, yang diberikan oleh mentorku.

“Sudah dishare kemana mbak?”

“Belum kemana-mana Pak”, jawabku singkat. Dengan berbagai pertanyaan dalam hati tentu saja. Menulis aja baru pertama kali, mau share ke mana coba.

“Masukkan saja di Kompasiana”, lanjut mentorku. Tentu saja keluar pertanyaanku yang menyatakan ketidakpercayaanku.

“Sudah layakkah Pak?” tanyaku.

“Sangat layak,” jawab mentorku.

Sekali lagi rasa senang dan bingung bercampur, mendengar jawaban itu.

Esok harinya aku coba menulis dengan tema yang berbeda. Kukirimkan kembali ke mentorku.

“Coba diubah dialognya biar tidak kaku”, permintaan mentorku menanggapi tulisanku.

Duduk terpekur aku melihat tulisanku. Harus aku ubah seperti apa? Begitu banyak pertanyaan yang berputar-putar di kepalaku.

Satu persatu aku buka catatan tentang menulis di kelas KMO. Kubaca ulang tulisan temen-teman KMO, berharap dapat inspirasi untuk tulisanku.

Buntu, itu yang kurasakan. Tidur, itu yang aku lakukan.

Tengah malam aku terbangun, kembali mencoba untuk menulis. Lama aku terduduk tapi tidak ada satu kalimatpun aku tulis. Kuambil wudhu, meminta kepadaNya ketenangan untuk berpikir.

Benar saja, usai sholat aku mencoba untuk fokus pada tujuanku menulis. Kata demi kata kurangkai jadilah satu artikel. Tanpa pikir panjang aku kirim artikel ke mentorku. Tidak sabar ingin tahu apa jawaban mentorku. Begitu besar keinginanku sampai tidak sadar bahwa saat itu adzan subuh belum terdengar.

“Great!” jawaban mentorku.

Bengong, itu reaksiku. Apa lagi yang harus aku tulis. Itu yang ada di pikiranku.

Saat ini kelas KMO belum selesai. Aku begitu senang bisa berada di kelas ini. Dipertemukan dengan mentor sepasang suami istri yang  sabar dan telaten membimbing peserta kelas KMO. Dan selalu mentransfer ilmu yang sangat luar biasa. Khususnya buatku, yang sama sekali tidak tahu tentang dunia tulis menulis.

Satu kalimat yang selalu kuingat, “Menulis-menulis-menulis”. Sampai menulis semudah bernapas.

Itulah gaes ceritaku, jangan pernah merasa bahwa kritikan itu akan menjatuhkanmu. Jadikan kritikan sebagai cambuk penyemangat untuk maju dan maju.

Wabil khusus yang memberikan masukan untukku, terima kasih. Salam literasi.

.

Ilustrasi : https://www.theguardian.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *