.
Oleh : Masdiyanto (Alumni Kelas Menulis Online Basic Alineaku)
“Menulis bukan mengurung diri saja, tanpa berteman atau bergaul” –Cahyadi Takariawan.
.
Beberapa bulan lalu saya mengikuti pembelajaran dari Pak Cah, perihal rangkaian kegiatan tentang menulis hingga akhirnya saya dapat melakukannya. Hal terbesar dan paling berharga yang saya dapatkan dari pembelajaran tersebut adalah motivasi, sebuah pikiran yang menjadi tombol “on” bagi diri saya untuk melakukan kegiatan menulis.
Sungguh luar biasa rasanya, ketika memiliki prinsip sendiri dalam hal menulis. Menulis adalah untuk suasana hati, minimalnya begitu. Ketika tidak ada teman yang dapat kita hampiri, atau tidak ada yang mengampiri kita. Maka sebenarnya teman kita adalah diri kita sendiri.
Menjadikan Menulis Sebagai Teman
“Bertemanlah dengan diri sendiri. Jangan biarkan masalah kehidupan Anda menjadi beban hati dan pikiran. Tetaplah sehat dengan menuangkan isi hati, karena biasanya sakit fisik berawal dari suasana hati yang terbebani” –Masdiyanto, 2022.
Bagaimana merasakan diri kita sendiri sebagai teman? Caranya adalah menuangkan isi hati melalui menulis. Tidak akan ada yang melarang, tidak akan ada yang memberikan sanggahan, tidak akan ada pula yang menghentikan kata-kata kita untuk terus berjalan membentuk kalimat.
Mengapa demikian sebaiknya kita lakukan? Saya mendapat suatu rasa dari melakukannya, yaitu kelegaan. Hati kita akan terasa lepas, apa-apa yang menjadi pemikiran akan terurai menjadi kalimat yang betul-betul mewakili diri kita.
Jika Anda mengalami kesusahan hati, menulislah. Tulis apa yang ingin Anda tulis, apa saja tanpa memilih kata. Ingat tidak ada yang melihat tulisan Anda. Tidak ada pula yang mendengar. Jadi menulislah untuk kepuasan hati Anda.
Bertemanlah dengan diri sendiri. Jangan biarkan masalah kehidupan Anda menjadi beban hati dan pikiran. Tetaplah sehat dengan menuangkan isi hati, karena biasanya sakit fisik berawal dari suasana hati yang terbebani.
Saya juga pernah mengalaminya, sakit. Saat itu tidak ada teman yang dapat saya ajak berbicara. Saya mulai menulis keluhan pada buku kecil, menggerutu berkali-kali. Ketika hati rasanya bebas meluapkan beban, pikiran dan fisik perlahan kembali segar.
Mungkin itu merupakan suatu keberuntungan tetapi poin pentingnya bahwa kepuasan hati dapat diperoleh dari menulis. Jauh ke depan, coba bayangkan ketika dapat menuliskan berbagai macam tulisan yang bermanfaat untuk pembaca.
Lebih besar lagi ketika kita dapat menebar tulisan yang bermanfaat dalam bentuk sebuah buku. Tentu semakin banyak manfaat yang dapat kita rasakan.
Jika Anda Kesepian, Menulis Adalah Teman
“Ketika teman berbica dalam sosok seseorang tidak hadir untuk melegakan hati kita, menuangkan isi hati dan pemikiran melalui menulis adalah bentuk berteman dengan diri sendiri” –Masdiyanto, 2022.
Saat saya merasa kesepian, tidak ada teman yang berkunjung, juga tidak dapat mengunjungi teman. Saya merasa teman saya adalah diri saya sendiri.
Saya kemudian menutup ruang tamu, memasang tirai, dan menempel dinding-dinding menggunakan spanduk bekas. Kemudian saya mulai menulis mengulang kisah-kisah yang saya ingat sejak kecil. Satu–persatu cerita tertulis setiap hari sehingga dapat diterbitkan menjadi buku.
Dari awalnya memuaskan hati melalui tulisan, saya mengumpulkannya menjadi satu naskah. Naskah tersebut kemudian berhasil terbit menjadi sebuah buku “Kumpulan Cerpen, Kisah Man Imar”.
Hati saya semakin puas, mendapat pujian, saran yang membangun, juga uang. Saya ingin menyampaikan apa yang menjadi tombol “on” sehingga saya dapat melakukannya, kegiatan menulis itu.
“Ketika ada orang yang melegakan diri dari kesedihan atau mengoptimalkan kebahagian dari menulis”, kalimat tersebut disampaikan Pak Cah tentang tujuan psikologis dari menulis.
Saya merasa telah melakukannya, tidak merugikan, bahkan menjadi aspek membuat sikap diri menjadi lebih baik. Ketika teman berbica dalam sosok seseorang tidak hadir untuk melegakan hati kita, menuangkan isi hati dan pemikiran melalui menulis adalah bentuk berteman dengan diri sendiri.
Sekali lagi, menulislah minimal untuk kepuasan hati. Menulis untuk diri sendiri. Menulis untuk kedamaian nurani.
.

Masdiyanto, lahir di Tabanan, Bali, 25 Oktober 1997, dibesarkan di Lombok Utara. Saat ini sedang melanjutkan pendidikan di Universitas 45 Mataram, juga mendapat pembelajaran di Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat Ummat. Familiar dengan sebutan Culin. Buku pertama yang telah terbit adalah kumpulan cerpen “Kisah Man Imar”.

Menulis untuk kepuasan atau kelegaan hati. Menulis dapat berdamai dengan masa lalu. Semangat menulis yang tinggi dapat membuat awet muda dan menghasilkan pundi-pundi rupiah. Selamat pak Man Imar. Syukran katsira ustadz Cahyadi Takariawan.