19 September 2026

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Episode Hoja Pergi ke Pasar

Suatu ketika, Hoja pergi ke pasar dengan menaiki seekor keledai. Sementara itu anak lelakinya berjalan sambil menuntun keledai.

Ketika mereka melewati segerombolan orang, terdengar komentar, “Dasar orang tua semena-mena. Apa tidak kasihan anaknya disuruh berjalan kaki.” Merasa tidak nyaman dengan komentar miring itu, Hoja turun dari punggung keledai dan mempersilakan sang anak menaikinya.

Kini Hoja berjalan sambil menuntun keledai. Saat melewati kerumunan, terdengar seseorang berkata, “Dasar anak durhaka. Tega sekali membiarkan ayahnya berjalan kaki sementara ia malah naik keledai.”

Kali ini Hoja menyuruh anaknya turun dari keledai dan berjalan kaki bersamanya. Mereka berdua berjalan kaki sambil menuntun keledai.

Ketika meneruskan perjalanan, seseorang berkomentar, “Hai orang-orang aneh, mengapa kalian berdua tidak naik keledai? Bukankah keledai itu binatang untuk tunggangan? Dasar dungu kalian…”

Kini Hoja mengajak sang anak untuk menaiki punggung keledai. Mereka berdua berboncengan menunggang keledai.

Di sebuah tempat, seseorang berkomentar, “Ayah dan anak sama-sama tidak berperikemanusiaan. Seekor keledai lemah ditunggangi berdua, apa tidak kasihan kalian?”

Hoja bingung dengan komentar orang-orang. Ia tak ingin dikatakan tidak berperikemanusiaan. Akhirnya mereka berdua turun, lalu keledai itu dipanggul berdua.

Orang-orang yang melihat Hoja dan anaknya berjalan kaki memanggul keledai tersenyum-senyum sinis. “Ada ayah dan anak yang tidak waras. Keledai sehat kok dipanggul”, ujar seseorang.

Karena tidak ada tindakan yang benar, Hoja semakin bingung. Saat melewati sebuah jembatan, keledai itu dilempar ke sungai.

Kisah fiktif tentang Nasruddin Joha alias Nasruddin Hoja di atas, sudah sangat sering kita dengarkan. Hoja yang hendak berdagang ke pasar, dibuat bingung oleh komentar banyak orang. Tindakan apapun yang dilakukannya, selalu ada yang tidak suka.

Episode Hoja Jualan Ikan

Kisah Hoja asal timur tengah di atas, mirip dengan kisah Hoja versi Indonesia berikut.

Hoja memulai usaha berjualan ikan di pasar. Supaya dagangannya laris, ia membuat tulisan besar yang dipasang di bagian atas dagangannya, “Di Sini Jual Ikan”.

Seseorang lewat di depannya, memperhatikan tulisan tersebut. “Mengapa engkau tulis kata Di Sini? Semua orang sudah tahu kamu jualan di sini, bukan di tempat lain”. Hoja menghapus kata “Di Sini” pada papan, sehingga hanya bertuliskan “Jual Ikan”.

Seseorang datang membeli, sambil memperhatikan tulisan tersebut. “Mengapa engkau tulis kata Jual? Semua orang sudah tahu kamu jualan, bukan membagi-bagi gratis”. Hoja menghapus kata “Jual” pada papan, sehingga hanya bertuliskan “Ikan”.

Seseorang datang, dan memperhatikan tulisan aneh tersebut. “Mengapa engkau tulis Ikan? Semua orang sudah tahu kamu membawa ikan ke tempat ini, bukan sayuran”. Akhirnya Hoja menghapus tulisan di papan.

Seseorang lewat di depan Hoja, sambil melihat dirinya. “Apa yang kamu lakukan, Hoja?” tanya orang itu.

“Aku jualan ikan di sini”, jawab Hoja.

“Mengapa engkau tidak membuat tulisan saja di atasmu ini. Kalau tidak ada tulisan kamu jual ikan, siapa yang akan tahu kalau kamu jualan ikan?”

Akhirnya Hoja memutuskan pulang dan tidak jadi jualan ikan.

Kisah fiktif tentang Joha berjualan ikan ini, juga sudah sering Anda dengarkan. Hoja yang hendak berjualan ikan, dibuat bingung oleh komentar banyak orang. Tindakan apapun yang dilakukannya, selalu ada yang mengkritik.

Memilih Feedback

Demikian pula yang akan terjadi, apabila ada penulis yang ingin menyenangkan semua orang. Pasti dirinya akan bingung karena selalu ada orang yang tidak senang atau tidak setuju dengan tulisannya. Lantaran bingung atas komentar banyak orang, sang penulis putus asa dan melempar laptopnya ke lautan.

Jika Anda meminta feedback dari semua orang, dipastikan Anda akan dibuat bingung. Maksud hati mendapat perbaikan atau pengayaan, yang Anda dapatkan justru kebingungan.

Oleh karena itu, Anda harus pandai memilih feedback. Anda tidak harus memedulikan semua komentar dan masukan. Karena tidak ada satupun tulisan yang bisa menyenangkan semua orang. Anda tidak perlu berusaha menyenangkan semua orang.

Anda juga tidak bisa mencegah orang lain untuk berkomentar negatif terhadap tulisan Anda, meskipun Anda sudah berusaha untuk menulis dengan sebaik mungkin. Anda sudah berhati-hati, sudah melakukan editing berkali-kali, sudah meminta pendapat ahli. Tetap saja akan Anda jumpai orang yang tidak suka dengan tulisan Anda.

“Orang ini sombong sekali. Suka membanggakan diri melalui tulisan”.

“Mentang-mentang sudah sukses, semua dituliskan. Dasar tukang pamer”.

“Kesedihan saja ditulis. Emang dikira tak ada orang lain yang lebih sedih?”

“Menderita kok bangga. Harusnya menderita itu malu, bukan malah ditulis”.

Apakah Anda akan meniru langkah Hoja? Membuang keledai ke sungai? Melepas papan jualan ikan? Melempar laptop Anda ke lautan?

Apakah Anda kira orang-orang akan bertepuk tangan senang setelah Anda lempar laptop Anda ke lautan? Tidak. Tetap saja akan orang yang tidak senang.

“Dasar orang tak tahu diri. Laptop masih berfungsi malah dibuang”.

“Aneh benar kamu. Sudah punya tulisan malah disembunyikan. Bagaimana kamu bisa menebar kemanfaatan?”

Anda makin bingung? Jika Anda bingung, fokus saja pada proses menulis. Bukan fokus mencemaskan komentar orang. Bukan fokus memikirkan pendapat orang.

Karena Anda tidak akan bisa menyenangkan semua orang.

Selamat menulis.

2 thoughts on “Jika Anda Ingin Menyenangkan Semua Orang

  1. Setuju sekali, Pak. Kebingungan malah membuat kita tak bisa berbuat apa-apa. Komentar hanya sekadar komentar. Kadang mereka berkomentar spontan saja, tanpa berpikir. Salahnya kita menanggapi dengan serius.

  2. Bismillahirrahmaanirrahiim

    Manusia diciptakan tidak sama, satu dengan yang lainnya, kalaupun ada itu hanyalah kemiripan. Dari sini manusia harus menyadari Maha Penciptanya Allah SWT.

    Begitu juga dengan kemampuan menulis, untuk menyenangkan semua orang tentu tidaklah hal yang jadi motivasi utama dalam menulis. Karena manusia punya rasa, dan kemampuan menangkap nilai yang berbeda.

    Menyadari hal ini, dalam membangun mental untuk tetap menulis, komentar-komentar yang negatif diabaikan saja. Mulailah karena Allah juga untuk Allah.

    Terima kasih pak Cah
    Jazakallahu khair

    Ahad, 01/11/ 2020

    Alhamdulillah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *