19 September 2026

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Ada masa di mana kita dipaksa untuk istirahat total. Bahkan dengan posisi tubuh yang terbatas, tanpa boleh ada ‘pergerakan’. Hanya boleh tidur berbaring dan memejamkan mata.

Semua aktivitas dilakukan sembari berbaring. Intinya adalah proses meningkatkan pembentukan antibodi secara optimal. Semakin tenang, diam, rebahan, semakin bagus proses pembentukan antibodi.

Inilah yang saya alami mulai 12 Agustus 2021 hingga 18 Agustus 2021. Tujuh hari saya ‘dipaksa’ berbaring di ranjang rumah sakit, tidak boleh melakukan aktivitas lain. TMT, tidur merem tidur. Itu program utama untuk saya.

Alhamdulillah program itu berhasil. Proses pembentukan antibodi terjadi dengan optimal. Antibodi tubuh mampu melawan virus Covid-19 dan sekaligus melakukan proses recovery terhadap kerusakan-kerusakan yang dimunculkan oleh Covid.

Untuk Apa Jeda Menulis?

Tentu saja, selama tujuh hari saya tidak diperkenankan untuk menulis. Bahkan mengobrol. Saya dijauhkan dari gadget dan laptop. Tak ada aktivitas normal kehidupan. Hanya tidur merem tidur, dengan posisi rebahan di ranjang.

Tujuh hari tidak menulis, sama sekali. Inilah jeda menulis. Sebuah jeda yang diperlukan dalam kehidupan keseharian, agar tidak terjebak rutinitas. Adakah manfaat jeda menulis?

  • Mengumpulkan energi menulis

Istirahat adalah salah satu kebutuhan dasar manusia. Setelah istirahat, yang kita rasakan adalah hadirnya tenaga. Seperti saat bangun tidur, kita mendapatkan energi baru untuk melakukan banyak kegiatan sehari-hari.

Tujuh hari jeda, tidak menulis sama sekali, adalah istirahat panjang. Sangat banyak energi terkumpul dari jeda yang panjang tersebut. Dengan demikian, terkumpul energi menulis yang siap disalurkan dalam kondisi yang lebih bertenaga dan lebih segar.

  • Menajamkan kreativitas menulis

Kreativitas bisa mengalami penumpulan akibat rutinitas. Tanpa jeda, kita bisa mengalami defisit kreativitas. Menjalani kehidupan dengan ala kadarnya, rutin mengalir, tanpa kehadiran energi kreatif. Proses kreatif bisa mandeg jika kita terjebak rutinitas.

Menulis jelas memerlukan kreativitas, yang diistilahkan oleh Haruki Murakami sebagai latihan “survival”. Mendapatkan hal-hal baru, menemukan cara pandang baru, bahkan hal sederhana –kosa kata baru, adalah hasil daya kreasi. Jeda memberikan kesempatan kepada kita untuk menajamkan sisi kreativitas dalam berkarya.

  • Mengasah ketajaman emosi

Ketajaman emosi sangat diperlukan dalam melahirkan tulisan. Menulis tanpa kehadiran emosi, hanyalah menuangkan kata-kata dan kalimat-kalimat. Jika penulis tergerus oleh jebakan mekanik berupa rutinitas, sisi ketajaman emosi bisa ikut mengalami defisit.

Istirahat tujuh hari, mampu memberikan kesegaran pada sisi emosi. Apalagi ditambah suasana perawatan Covid-19 di rumah sakit yang sangat ‘menegangkan’, menambah suasana ketajaman emosi itu. Di saat sama, beberapa sahabat telah berpulang karena Covid, saya masih diizinkan bertahan.

  • Menyegarkan ide

Sangat banyak ide-ide segar yang siap meluncur setelah kita bangun dari tidur. Demikianlah istirahat mampu menghadirkan kesegaran. Sangat banyak inspirasi, sangat banyak motivasi, yang bisa hadir setelah jeda.

Rutinitas kehidupan membuat ide serasa mentok. Tidak ada ide baru, tidak ada inspirasi baru, karena habis oleh rutinitas. Jeda membuat kita bisa mendapatkan kesegaran ide, kesegaran suasana, kesegaran jiwa.

  • Menghadirkan kerinduan menulis

Rindu itu penting. Tanpa kerinduan, menulis hanya menjadi kegiatan yang dipaksakan. Jika Anda menulis dengan penuh kerinduan, sangat banyak inspirasi dan motivasi bisa Anda hadirkan melalui kata, kalimat dan paragraf.

Tidak cuma menyusun aksara. Tidak hanya merangkai kata. Kerinduan membuat gairah yang akan tersampaikan dalam pesan. Pembaca Anda buai dalam irama syahdu mendayu. Tak cuma menikmati isi pesan, namun pembaca mampu melumat semua bagian kemasan.

Jangan Lama-Lama Jeda

Jika Anda memiliki barang-barang hobi, harus pandai merawat. Jika tidak, akan sangat cepat rusak. Ini berlaku untuk apa saja. Motor tua, mobil tua yang tak pernah dihidupkan mesinnya, cenderung lebih cepat rusak dibanding motor dan mobil yang dipakai sehari-hari. Berkarat, menjamur, itu yang akan terjadi jika tidak digunakan dalam waktu lama.

Saya ingat kisah mesin-mesin penggilingan tebu di berbagai pabrik gula, yang harus mengalami maintenance serius setiap kali musim panen tebu tiba. Mesin-mesin tua yang lama tidur, harus dibangunkan terlebih dahulu sebelum bisa digunakan.

Jika jeda menulis terlalu lama, bisa jadi Anda harus melakukan setting dari awal untuk menghadirkan kembali suasana menulis. Otot-otot menulis Anda bisa mengalami pelemahan dan pengenduran, jika membiarkan jeda terlalu lama.

Jeda, oke saja. Apalagi jika memang dipaksa untuk jeda. Namun harus terukur. Tidak boleh berlama-lama dalam jeda. Terlalu asyik menikmati jeda, akan terlalu banyak karat dan jamur yang mengganggu otot-otot kreativitas menulis Anda.

Selamat berkarya, selamat mengubah dunia.

3 thoughts on “Jeda Menulis

  1. Tulisan sangat inspiratif dan menggugah emosi menulis yang terlalu lama jeda. Terima kasih pak Cah atas nasehat dan peringatannya.

  2. Alhamdulillah bisa menyimak kembali ilmu kepenulisan ustaz Cahyadi Takariawan. Betul sekali suasana di rumah sakit itu menegangkan. Saya baru melihat banyak tabung dan jarum suntik serta aroma obat di ruangan saja sudah membuat adrenaline berkata segera pergi syukran katysira

  3. Alhamdulillah…
    Senang bisa menikmati kembali tulisan pak Cah pagi ini….
    Bahasa yg sederhana membuat saya rindu membaca tulisan pak Cah…
    Saya pun skg masih dalam fase jeda. Sdh hampir 2 Minggu. Blm bs duduk berlama” d depan laptop.
    Semoga keadaan ini cepat membaik, agar tdk ada otot” kreativitas yang berkarat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *