20 September 2026

.

RM 0009-20

Serial Mendesain Habit Menulis

Oleh : Cahyadi Takariawan

Ada sangat banyak orang menyatakan dirinya ingin bisa menulis, namun kenyataannya tidak pernah menulis apapun —kecuali status. Ada banyak orang yang rajin mengikuti berbagai kelas menulis, namun kenyataannya tidak pernah menghasilkan karya tulis. Ada banyak orang berobsesi ingin menjadi penulis, namun ternyata tak ada yang ditulis. Mengapa bisa demikian? Karena beralasan. Ya benar, karena beralasan. Mereka tidak pernah menulis, karena mereka beralasan.

Lima Alasan Paling Klasik

Ada sangat banyak alasan yang digunakan mereka yang tidak pernah menulis padahal berkali-kali menyatakan pengen menulis. Berikut lima alasan yang paling klasik dan paling banyak disampaikan, yaitu, (1) tidak ada mood (2) tidak punya ide menulis (3) kebanyakan ide sehingga menjadi bingung mana yang akan ditulis (4) tidak memiliki waktu untuk menulis (5) bingung akan memulai menulis dari mana. Mari kita lihat satu per satu.

  1. Tidak Ada Mood

Heran, sejak zaman pra-sejarah hingga zaman cyber – revolusi industri 4.0 saat ini, selalu saja mood dijadikan alasan untuk tidak menulis. Ini alasan paling mudah dan paling nyaman untuk disampaikan. Seseorang mengatakan “tidak mood” sebagai alasan untuk membenarkan dirinya tidak menulis apapun — padahal sudah menetapkan slot waktu tertentu setiap harinya untuk menulis.

Ketika slot waktu yang sudah disediakan itu tiba, ternyata ia tidak menulis apapun. Mood memang kambing hitam yang paling jinak untuk disalahkan. Namun alasan seperti harus dilawan, jangan dibenarkan. Jangan membenarkan diri untuk menerima atau menggunakan alasan itu. Jangan beralasan. Ingat, anda menulis bukan karena mood.

Lalu menulis karena apa, jika bukan karena mood? Anda menulis karena memiliki tujuan tertentu, seperti ingin memberi inspirasi kepada banyak kalangan. Menulis karena ingin memotivasi. Menulis karena ingin mengedukasi. Menulis karena ingin berbagi kebaikan. Menulis karena ingin berbagi hikmah dan tausiyah. Menulis karena ingin curhat. Menulis karena ingin menyampaikan pendapat, atau tujuan apapun. Maka menulislah ketika sudah tiba waktu yang anda tetapkan untuk menulis. Jangan beralasan.

“Makan siang kuy…” / “Gak mau. Aku lagi gak mood makan…”

“Eh, loe kenapa gak masuk kerja? Ini kan bukan hari libur?” / “Gue lagi gak mood nih. Jadinya gue ga kerja….”

“Nulis yuk….” / “Nulis apa? Gak ada mood nih…”

Walhasil. Kasihan si mood, selalu dijadikan alasan untuk tidak melakukan segala sesuatu. Kasihan si mood, selalu digunakan sebagai argumen untuk membenarkan kemalasan. Kasihan si mood, selalu digunakan sebagai excuse untuk mengilmiahkan semua keadaan.

  • Tidak Punya Ide

Ini juga alasan yang sangat mudah disampaikan : tidak memiliki ide. Sejak zaman purba hingga zaman hampir purna, tetap saja ide dijadikan alasan untuk tidak menulis. Padahal ide itu bertebaran di sekitar kita. Segala sesuatu bisa menjadi ide untuk ditulis. Mendengar cerita teman, melihat sebuah peristiwa, obrolan dengan anak, kejadian sehari-hari di rumah atau di tempat kerja, pengalaman berkesan, berbagi resep masakan, berbagi tips hemat, pengalaman pribadi saat belanja, dan apapun.

Bahkan, Anda tidak punya ide, bisa dijadikan sebagai tulisan. Semua bisa menjadi ide untuk ditulis. Maka menulislah ketika sudah tiba waktu yang anda tetapkan untuk menulis. Jangan mencari-cari ide yang tidak ada, karena sangat banyak ide yang ada di sekitar Anda. Anda bahkan boleh dan bisa meminta ide kepada teman-teman Anda. Jangan beralasan.

“Kenapa loe tidak makan seharian ini?” / “Sorry, lagi tidak punya ide makan”.

“Hai, mengapa loe makan terus dari tadi?” / “Gue gak punya ide untuk berhenti makan…”

“Kok kamu gak menikah, padahal hidupmu udah mapan kayak gini?” / “Gak ada ide untuk nikah nih…”

Kasihan si ide, selalu saja disebut-sebut dan disalah-salahin. Untung saya sudah punya ide sejak tahun 1991, Ide Nurlaile, jadinya selalu bisa menulis…. Eaaaaa….

  • Terlalu Banyak Ide

Alasan itu ada-ada saja. Jika sebagian orang beralasan tidak punya ide, sebagian yang lainnya beralasan, terlalu banyak ide sehingga tidak bisa memilih mana yang harus ditulis. Dalam pikirannya, ide itu seperti lalu lintas di sekitaran Bundaran HI Jakarta atau di Malioboro Yogyakarta. Sangat padat merayap setiap hari. Ide terus menerus menyesaki alam pikirannya. Setiap detik, ada puluhan ide bermunculan, sehingga dirinya kesulitan untuk memfokuskan.

Jika anda terlalu banyak ide, milikilah file yang berisi kumpulan ide, untuk anda simpan dalam satu folder di laptop anda. Semua ide anda tulis pokok-pokoknya atau poin pentingnya terlebih dahulu, kemudian anda simpan di sebuah folder. Ini penting agar ide anda tersebut tidak hilang begitu saja. Nah, ketika anda memasuki waktu untuk menulis, bukalah file kumpulan ide tersebut, pilih salah satu yang paling mudah untuk anda tuliskan.

Maka menulislah ketika sudah tiba waktu yang anda tetapkan untuk menulis. Jangan biarkan Anda diganggu oleh ratusan ide yang terus menerus menjejali pikiran. Jangan beralasan.

“Hai, kenapa kamu tidak berpakaian?” / “Gue kebanyakan ide, mau makai apa, jadinya bingung dan akhirnya gak memakai apa-apa…”

“Di restoran buffet, udah bayar mahal banget, kok kamu gak makan apapun?” / “Saking banyaknya ide makan, jadinya bingung, dan gak jadi makan…”

“Bang, kenapa kamu ga segera nikah?” / “Terlalu banyak ide yang ingin aku nikahi. Ada Ide Saride, Ide Mardiye, Ide Aide, Ide Mawarni, dan masih banyak Ide lainnye….”

  • Tidak Punya Waktu

Biasanya ada 10 S = Saya Sungguh Sangat Sibuk Sekali Sehingga Susah Santai Sebentar Saja. Inilah ciri khas manusia modern, merasa sibuk, merasa dikejar waktu, merasa tidak memiliki waktu untuk menulis. Jangankan untuk menulis, bahkan merasa no time for lap —- maksudnya : ga ada waktu untuk nge-lap, saking sibuknya.

Padahal, jika anda ingin bisa dan mahir menyetir mobil, anda harus meluangkan waktu untuk belajar atau kursus. Jika anda tidak meluangkan waktu, selamanya anda tidak bisa menyetir mobil. Demikian pula saat anda ingin bisa dan mahir menulis, anda harus meluangkan waktu untuk belajar dan berlatih menulis, setiap hari. Walau hanya limabelas menit waktu yang anda alokasikan —-dari duapuluh empat jam waktu anda sehari semalam— namun anda harus mengalokasikan untuk belajar menulis.

Jika tidak mau meluangkan, selamanya anda tidak bisa lancar dan mahir menulis. Maka menulislah ketika sudah tiba waktu yang anda tetapkan untuk menulis. Jangan beralasan.

“Guys, kenapa loe gak bernafas?” / “Hmmmm… Gue ga punya waktu untuk bernafas…”

“Bapak udah sebulan gak gosok gigi ya?” / “Gak ada waktu nih….”

Emangnya, dimanakah Anda menaruh waktu?

  • Bingung, Mulai Dari Mana?

Coba jawab : duluan mana ayam dengan telur? Duluan telur lah, Dinosaurus sudah hidup dan bertelur di periode Trias, sekitar 230 juta tahun yang lalu —-saat ayam belum ada. Jadi, masih bingung mau menulis dimulai dari mana? Dari ayam, apa dari telur, atau dari Dinosaurus? Itu semuanya boleh.

Ada banyak orang yang memiliki alasan, bingung mau memulai menulis dari mana. Ini sungguh alasan yang lucu. Karena menulis itu bisa dimulai dari manapun, bisa diawali oleh kalimat atau kata apapun. Bisa diawali oleh huruf manapun. Jadi tidak perlu bingung, tulis saja. Jika masih bingun, buatlah outline atau kerangka tulisan. Setelah memiliki outline, anda boleh menulis dari bagian manapun. Urut dari awal boleh, dari tengah boleh, dari paling akhir juga boleh. Tidak ada yang mengharuskan Anda menulis dimulai dari Bab Pertama, bahkan Anda boleh memulai dari Bab Terakhir.

Masih tetap bingung? Mulailah menulis dari kebingungan Anda, pasti akan tercipta karya tulis. Mengapa? Karena Anda menulis, itu sebabnya Anda memiliki karya tulis. Maka menulislah ketika sudah tiba waktu yang anda tetapkan untuk menulis. Jangan beralasan. Intinya, jangan menerima alasan apapun untuk tidak menulis. Tolak semua alasan untuk tidak menulis —terutama pada waktu yang sudah anda tetapkan untuk menulis.

“Sholat Duhur yuk guys…” / “Malas ah. Gue bingung shalat itu dimulai dari apa dulu….”

“Ibu pergi ke kantor kok ga mandi dulu?” / “Lagi bingung nih…. Gue gak ngerti kalau mandi itu dimulai dari mana?”

“Eh, katanya loe bingung? Kok gak kayak orang bingung gitu?” / “Emmm, gue bingung, kalau bingung itu dimulai dari mana sih?”

Gubraakkkk.

2 thoughts on “Jangan Beralasan! Pasti Anda Produktif Menulis

  1. Mengambil ilmu dari Pak Cah.
    1. Apabila lagi banyak ide tulis point-pointnya. Kalau ada kata-kata dalam suatu percakapan yang menarik tulis dalam kalimat langsung
    2. Paksa setiap hari menulis, mood tidak mood menulis. Kalau lagi tidak ada ide amb dari folder kumpulan ide. Kalau masih ada ide, kelebihan ide, hari itu belum hari itu belum sempat ditulis. Simpan di folder ide
    3. Posting tulisan yang sudah jadi di media sosial (FB, IG, Blog, masih rencana semacam kompasiana dan model Youtuber) sebagai tabungan tulisan yang suatu saat bisa diambil untuk dijadikan buku.
    4. Banyak membaca, tingkatkan jaringan dengan sesama penggiat literasi atau lembaga seperti KMO.
    Demikian yang saya lakukan dari beberapa tahun terakhir berunteraksi dengan Pak Cah

  2. Be nar sekali, Lima Alaskan yg disampaikan pak cah pernah ada dalam diri saya.
    Berawal dari bingunglah saya bergabung di KMO juni 2018. Tak terasa mei 2019 sdh punya buku antologi, sdh masuk koran daerah dan juga jurnal. Alhamdulillah.
    Nikah juga berawal dari bingung mau nikah dengan orang mana, saya beli buku karya Pak Cah, dijalan dakwah aku menikah. Selesai baca buku itu, oke mantapkan hati melangkah menikah dengan orang yg juga siap menuju pelaminan. Sungguh dirumah tangga penuh jalan dakwah. Dakwah untuk diri dan klg. Apalagi saat ini stay at home. 24 jam bersama, pagi sampai paginya lagi… Muncul lah beraneka emosi. Inilah kisah berawal dari bingung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *