20 September 2026

.

Oleh : Sukma Rona (Alumni KMO Basic Batch 49)

.

Setiap orang memiliki potensi literasi. Bahkan manusia dan lingkungannya adalah bagian dari literasi. Pada dasarnya setiap manusia senang dengan kata-kata yang indah, terlebih diabadikan dalam sebuah bentuk tulisan.

Ada yang mengatakan begini, “Aku tak pandai merangkai kata ke dalam tulisan”. Tunggu, jangan buru buru kita menyatakan tak berkemampuan. Sebenarnya berpotensi literasi, hanya saja belum mendapat porsi perhatian dengan tepat.

Salah satu kunci untuk mendorong agar kemampuan itu perlahan terasa adalah dengan mencoba. Bukankah dengan mencoba seseorang akan mengetahui kemudahan dan kebermanfaatan menulis?

Saya meyakini bahwa apa yang kita dapati dari panca indera kita dapat dijadikan bahan untuk sebuah tulisan. Peluang peluang ide bertebaran di sekitar kita. Bagaimana dengan dunia pendidikan?

Pendidikan adalah sentral dan dunianya literasi. Seluruh aktivitas kependidikan sangat tidak bisa dipisahkan dari literasi. Guru menulis, murid mencatat, segudang pembahasan keilmuan selalu sarat dengan tulisan.

Ada narasi yang beragam di wajah para pendidik dan peserta didik. Berbagai rasa dan keluh kesah hadir dari gestur juga air muka mereka. Murid bukan saja jadi objek narasi namun murid adalah subjek tulisan yang bersifat aktif. Sehingga kehadiran para murid sekaligus energi kepenulisan.

Saya pernah melibatkan mereka dalam kepenulisan. Dengan berbagai cara untuk membangkitkan keinginan maupun impian akan sebuah karya tulis, dan pada akhirnya mampu melahirkan karya antologi cerpen maupun karya tulis solo.

Karya pertama berjudul “Tentang kita” yang lahir dari goresan tangan remaja umur belasan tahun. Mereka menuliskan cerita-cerita dengan gaya polos.

Selanjutnya lahir buku novel berjudul “Karena Cintaku di Ujung Piramid“. Bersamaan dengan itu lahir juga sebuah karya motivasi untuk penuntut ilmu dengan judul “The Booster Of Santri”.

Lahirnya karya-karya santri ini sangat menggembirakan. Hal ini sebagai salah satu pembuktian bahwa guru dan murid mampu bersinergi dalam karya tulis. Untuk menggapai hasil dari karya tersebut ada yang perlu kita perhatikan. Di antaranya adalah beberapa hal berikut ini:

Pertama, guru memberikan teladan. Maksud dari hal ini adalah guru mampu memberikan suatu pandangan pasti tentang karya tulis dari guru itu sendiri. Sehingga dengan mudah kita menjadi influence dan memberikan pengaruh lebih besar untuk mencapai tujuan.

Kedua, guru menjembatani kemampuan. Murid itu laksana kertas putih, guru yang tepat pasti bisa menemukan corak dan warna kemampuan murid. Ini menjadi kunci, murid bukan bodoh namun kadang dia belum menemukan guru yang tepat.

Ketiga, guru menjadi motivator. Memberikan dorongan secara terus menerus agar murid mau menulis dan menulis. Secara teknis guru harus memberikan dasar-dasar kepenulisan. Sehingga keinginan dan impian itu nyata menjadi karya.

Saya memandang penting melibatkan murid untuk membangun literasi dalam diri mereka. Sehingga literasi bisa muncul sebagai bagian utuh dari karakter mereka.

Sukma Rona dilahirkan di Desa Keluang, Kecamatan Musi, Banyuasin, Palembang, pada tanggal 23 Agustus 1984. Ayahnya Bernama Abd. Rachman P, dan ibunya bernama Sawinah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *