19 September 2026


Oleh: Ida kusdiati

Subuh ini cuaca cukup bersahabat, tidur cukup dan hampir semua target kemaren dapat diselesaikan adalah keberkahan yang menumbuhkan semangat terus menerus untuk menjadi lebih baik.

Dalam perjalanannya bukan tiada halangan dan hambatan namun berserah dan pasrah pada keadaan tanpa berikhtiar bukan bagian dari jalan cerita yang saya pilih karena tak ingin menjadi orang merugi.

Sejak dikenal sebagai penulis meskipun masih pemula, Masya Allah sepertinya tanpa dicari berbagai tawaran menulis bareng dan kelas menulis online semakin banyak datang kehadapan dan itu bagi saya sebuah tantangan.

Menjadikan menulis sebagai pilihan untuk menyalurkan berbagai “rasa” haruslah dibarengi dengan komitmen menyelesaikannya, untuk itu fokus pada tujuan menulis menjadi kebaikan akan membuat kita tidak “menggantung” pada ide dan harapan namun pada karya dan bukti nyata berupa naskah tulisan.

Apakah naskah itu kelak akan dijadikan sebuah buku atau menjadi salah satu cerita di buku antologi adalah bagian lain dari cerita. Yang ada di kepala hanya menulis sebanyak-banyaknya naskah yang bisa dilakukan sesuai dengan “rasa” pada saat menulis.

Suatu ketika manakala ide tak kunjung hadir pilihan membuka kembali tulisan yang ada dan melakukan self editing lebih bermanfaat dibandingkan dengan melalaikan atau mengabaikan tulisan yang sudah ada dan membiarkannya menguap tak berbekas.

Kembali fokus pada tujuan menulis menjadi kebaikan maka tiada kesia-siaan dengannya. Baik untuk orang lain maupun untuk diri sendiri.

Bagaimana dengan memperindah tulisan?
Bagi saya tak semua tulisan harus diperindah dengan diksi dan majas. Tak harus dikemas dengan rona dan warna abstrak kekinian manakala isi tulisan itu sendiri adalah sebuah keindahan dari rasa sang penulis yang kaya dan sarat dengan makna.

Saya bisa menangis membaca tulisan seseorang yang saya lihat tak ada diksi istimewa di dalamnya. Saya bisa termotivasi dari membaca tulisan sederhana dengan kata singkat nan lugas namun menggugah. Saya bisa tertawa hanya dengan membaca tulisan ringan seseorang karena terbawa suasananya.

Bagi saya keindahan tulisan akan terbaca dari kemampuan sang penulis menghadirkan “rasa” pada tulisannya. Maka saya tak pernah takut menulis apalagi khawatir jika tulisan tak layak dibaca karena sesungguhnya tiada yang sempurna kecuali tulisan kalam ilahi.

Kembali fokus pada tujuan menulis maka tiada pesimis.

Wallahualam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *