Oleh : Cahyadi Takariawan
Jika aku bertanya kepadamu, di manakah ruanganmu? Jawaban apa yang akan kamu berikan kepadaku?
Sesungguhnya semua manusia memerlukan ruang untuk menempatkan dirinya. Menempatkan potensinya. Menempatkan jati dirinya. Menempatkan semua cita-cita dan harapannya.
Maka, ciptakan ruang yang paling nyaman untuk dirimu. Di ruang itu, kamu merasa enjoy, kamu betah berlama-lama di situ. Tak ingin pergi dari situ. Kamu menikmati ruang itu. Bahkan kamu merasa, ruang itu adalah kamu.
Ruang itu bisa bernama dan berupa apa saja. Tapi ruang itu membuatmu memiliki daya tahan untuk selalu melakukan hal-hal terbaik dalam hidupmu. Berbagi, memberi, berkontribusi, sehingga hidupmu menjadi sangat berarti. Ruang ini —-sering kali serupa makna anti mainstream.
Jangan risau, jika ada yang mengatakan bahwa ruangmu itu tidak menarik atau jelek. Toh semua orang punya ukuran masing-masing untuk menyebut sesuatu sebagai menarik atau tidak menarik, bagus atau jelek. Selama itu bukan wilayah kesalahan atau dosa, maka penilaian manusia menjadi tidak relevan untuk membuatmu kecewa.
Zaman dulu, ketika belum berkembang internet, sihir terbesar adalah televisi. Sangat banyak orang ingin tampil di televisi, karena dengan cara itu dirinya menjadi terkenal. Saya sangat salut dengan Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun yang dengan tegas menolak tampil di stasiun televisi manapun.
Kalimat sangat khas dari Cak Nun waktu itu adalah ‘ora pateken’. Cak Nun menikmati ruang yang diciptakan untuk menempatkan dirinya. Ruang itu bernama Pengajian Padang Bulan. Ruang itu bernama Maiyahan. Di ruang itu, Cak Nun mengekspresikan semua potensinya.
Maka, “Ora mlebu Tivi aku ora pateken”. Tidak tampil di televisi, sama sekali tidak masalah bagiku —demikian kira-kira terjemahan bebasnya. Meski menolak tampil di televisi, Cak Nun tetap magnet yang luar biasa bagi masyarakat Indonesia. Maiyah —ruang yang diciptakannya— sangat dirindukan oleh jama’ah. Ini adalah ruang anti mainstream.
Di zaman sekarang, kita memiliki banyak ulama kharismatik, salah satunya adalah Gus Baha. “Jangan undang saya untuk mengisi Tabligh Akbar”, ujar beliau. Bagi beliau, mengajar lima orang santri yang serius ingin menimba ilmu, lebih beliau sukai daripada berceramah di hadapan ratusan ribu massa di lapangan.
“Datanglah ke rumah saya jika ingin belajar”, ujar Gus Baha. Maksudnya, jangan undang beliau ke majelis yang kamu buat. Jika kamu santri, adab belajar adalah mendatangi kiyai. Bukan minta kiyai datang kepada santri. Inilah ruang yang sangat dinikmati oelh Gus Baha, berbeda dengan beberapa ulama lainnya. Ini adalah ruang anti mainstream.
Dalam dunia tulis menulis, kamu boleh memilih ruang yang paling nyaman untuk eksistensi dirimu. Ruang itu bisa web, blog, atau akun media sosial. Kamu bisa memilih untuk menciptakan ruang di berbagai platform atau fitur media, dimana kamu akan optimal menebar karya dan menuai pahala.
Kamu bisa menjadi ‘manusia web’, atau ‘manusia blog’, atau ‘warga instagram’, atau ‘jama’ah fesbukiyah’. Di ruang itu kamu terus mencipta karya dan menebar makna. Tidak masalah tulisanmu tak pernah muncul di koran atau majalah nasional, karena itu bukan ukuran keberhasilan.
Bisa jadi, kamu tidak nyaman untuk menjadi ‘manusia koran’ atau ‘manusia majalah’, karena memang bukan di situ ruang yang nyaman bagimu. Maka pilih, ruang mana yang paling tepat dan paling nyaman bagi dirimu. Sungguh ukuran kehebatan seorang penulis tidak diukur dari ruang yang ditempatinya, namun lebih kepada produktivitasnya.
Kamu tidak perlu merasa minder atau terbelakang, saat mengetahui ada orang-orang yang beternak semua jenis sosial media. Mereka memiliki akun di seluruh jenis sosial media. Kamu tidak harus memiliki banyak ruang —yang ternyata kosong tanpa isi. Lebih baik kamu memiliki satu ruang, yang selalu kamu hias sepenuh hati.
Jika kamu nyaman di fesbuk, itulah ruangmu. Tidak masalah kamu tidak mengenal instagram, twitter, ataupun web. “Ora pateken” — gunakan jawaban Cak Nun jika ditanya mengapa tidak punya akun instagram. Yang penting kamu rutin berkarya dan menebar makna melalui ruangmu itu.
Jika kamu nyaman di instagram, itulah ruangmu. Tidak masalah kamu tidak mengenal fesbuk, twitter, ataupun web. “Ora pateken” — gunakan jawaban ini jika ditanya mengapa tidak punya akun fesbuk. Yang penting kamu rutin berkarya dan menebar makna melalui ruangmu itu.
Jika kamu nyaman di web atau blog, itulah ruangmu. Tidak masalah kamu tidak mengenal instagram, twitter, ataupun fesbuk. “Ora pateken” — gunakan jawaban itu jika ditanya mengapa tidak punya akun aneka sosial media. Yang penting kamu rutin berkarya dan menebar makna melalui ruangmu itu.
Demikian pula untuk mencipta buku. Tidak masalah buku kamu tidak diterbitkan oleh penerbit mayor. “Ora pateken” —istilah Cak Nun. Sangat banyak cara menerbitkan buku di zaman sekarang ini. Kamu bisa eksis dengan pilihan cara terbit yang paling tepat bagimu. Belum tentu penerbit mayor itu ruang yang nyaman bagimu.
Kamu bisa menerbitkan buku melalui penerbit indie yang sangat banyak pilihannya. Kamu bisa menerbitkan dengan model self publishing. Ukuran kehebatan buku tidak diukur dari penerbitnya, namun dari kesungguhan penulis dalam menghadirkan karya sepenuh jiwa.
Nah, kamu sudah menemukan ruangmu? Jangan bingung oleh banyaknya tawaran. Jangan dibuat terpukau oleh ruang yang ditempati orang lain —sebab belum tentu itu nyaman bagimu. Segera pilih, di manakah ruangmu?
Setelah memilih ruang yang paling nyaman, rawatlah, hiasilah, agar kamu semakin bahagia di dalamnya. Seperti ungkapan sahabat saya, mbak Santy —pemilik blog Teras Bunsan www.terasbunsan.wordpress.com, yang menyatakan ia sangat nyaman dengan ruang yang dipilihnya.
“Saya menghias blog seperti menghias ruang beneran. Seru sekali”, tulis mbak Santy di grup Angkringan penulis Indonesia beberapa waktu yang lalu.
Jika nyaman di ruang yang kamu tempati, kamu akan bertenaga. Kamu akan berdaya. Kamu mendapatkan energi yang melejitkan potensi dirimu, seperti Haruki Murakami yang sangat bertenaga di ruang yang diciptakannya sendiri.
“Ketika menulis novel, saya bangun jam empat pagi dan bekerja selama lima hingga enam jam. Pada sore hari, saya berlari sepuluh kilometer atau berenang sejauh seribu lima ratus meter, atau melakukan keduanya. Saya membaca dan mendengarkan musik. Saya tidur jam sembilan malam”
Ini jelas tenaga yang luar biasa. Muncul dari ruang yang sangat nyaman bagi Haruki Murakami.
Jadi, di manakah ruangmu?

Ora patheken. Great. Saya pernah ditawari untuk pindah ke Jakarta agar melejit kemana mana. Ora patheken. Saya milih tinggal di Sragen di rumah mewah mepet sawah dengan tetap menggeluti ladang dakwah di desa. Alhamdulillah bisa mengekspresikan karya. Pernah bangun pagi dan terus menulis jelang tengah malam hanya istirahat saat shalat dan makan.
don’t cry for me sragentina…
Masyaa Alloh…inspiring Pak Cah, matur nuwun sanget
semangat berkarya mbak….
Menyejukkan ustadz✍️
selamat berkarya mbak trisnie….
Mencerahkan, Ustadz.
Terima kasih, nyaman rasanya baca ini.
ruangku sorgaku…sebuah penguatan, jazaakumulloh pak Cah
keren jargonnya mbak syifa… terus berkarya…
ayuk terus berkarya mbak…
Alhamdulillah…satu persatu kegelisahan terhawab oleh artikel ustadz Cahyadi…trmksh ..
barakallah
ayuk, terus berkarya mbak BQ….
alhamdulillaah… yuk terus berkarya…
Express yourself withour any barrier
yessss…..
Mantap pak… terimakasih spiritnya
saya nyaman ngisi blog dan posting di fesbuk
nah, nikmati ruangnya, dan terus berkarya….
Apalagi di era informasi saat ini, begitu banyak tawaran untuk ikut ini itu, webinar ini itu…pokoknya banyak ini itu lah…Jadi memang benar harus pilih sebuah ruangan yang benar benar bikin kita bertenaga untuk berkarya. Pilih kegiatan yang benar benar relevan untuk kita berkarya lebih maksimal…bukan karena ikut arus.
betttuuuul mbak siti….
Terimakasih pak Cah.
yuk makin semangat menulis mbak…
kalau ane di ruang tidur, biasa santai sambil buka laptop. Lalu buat artikel walaupun dikit yang penting kecantol. Dikirim di facebook lalu dipatenkan ke blog pribadi.. Hehe.. Menulis seperti bernafas Pak Cah.. Terim kasih Pak Cah atas ilmunya..
luar biasa Pak Eka… sambil tidur aja bisa nulis… huwehehe…