Oleh: Rifuwanti, W. Pd (Alumni Kelas Emak Punya Karya)
“Growing old is mandatory but growing up is optional.” (Carroll Bryant)
Banyak orang mengatakan bahwa menulis adalah aktivitas ilmiah, hanya orang -orang pintar dan cerdas saja yang bisa melakukannya.
Terkadang ada benarnya juga pendapat itu, walau kenyataannya menulis tidak hanya sekadar aktivitas ilmiah. Akan tetapi bisa menjadi sarana healing, refreshing, menyegarkan otak dan membuang segala hal yang menyesakkan dada. Bahkan menulis bisa menjadi sarana menyegarkan kembali pikiran juga kedewasaan dalam berpikir.
Mengutip dari National Library of Medicine, 2014, Carroll Bryant, seorang penulis buku, berkata “Growing old is mandatory but growing up is optional.” Menjadi tua adalah pasti, tetapi menjadi dewasa itu pilihan. Semua orang pasti menua, tetapi enggak semua orang menjadi dewasa pada saat bertambahnya usia.
Kedewasaan tidak dilihat dari segi usia, karena yang menjadikan tolak ukur sebuah kedewasaan adalah kemampuan untuk memiliki pola pikir yang matang.
Faktanya memang banyak orang yang usia dewasa, tetapi pola pikirnya kekanak-kanakan. Tidak sedikit anak-anak atau remaja memiliki cara pandang seperti orang dewasa.
Saya jadi ingat ketika dia menulis untuk pertama kalinya di bangku SD kelas empat. Ia mengadu kesal dengan teman sekolahnya. Saya bertanya padanya, “Apakah kamu bisa melawannya secara fisik dan punya keberanian untuk itu?”
Dia mengatakan tidak bisa dan tidak berani, tetapi ia sangat marah dan kesal. Saya menyarankan untuk menuangkan semua kekesalan dan kemarahan dengan menulis atau menggambar.
“Apa yang mau kamu katakan padanya tulislah, jika kamu berani, berikan tulisan itu padanya, tetapi jika tidak, setidaknya kamu sudah mengeluarkan rasa marah dan kesal itu dan kamu bisa tidur dengan nyenyak,” saran saya pada anak.
Setelah itu ternyata anak saya itu benar-benar melakukannya, bahkan ia membuat sebuah cerita dengan karakter yang menggambarkan dirinya dan temannya itu.
Secara diam-diam saya membaca apa yang ditulisnya. Saya pun tersenyum dan cukup senang karena cerita yang dibuatnya sebagai gambaran kekesalan, kemarahannya cukup unik dan menarik.
Sejak saat itu, anak saya mulai terbiasa menulis. Ketika akan mengikuti lomba da’iy cilik di kelas lima, bisa dikatakan dialah satu-satunya peserta yang menulis sendiri naskahnya. Peserta lain mengaku menulis sendiri, kenyataannya mengambil dari internet.
Walau ia kemudian kalah di tingkat provinsi, tetapi ia bersikap dewasa dengan berkata diiringi senyuman, “Ini hanya sekedar lomba, menang dan kalah itu hal biasa, yang penting aku sudah jujur dan berusaha sekuat kemampuanku, lain kali aku akan mencoba lagi.”
Sungguh kalimat ini akan biasa kita dengar dari seseorang yang sudah dewasa, tetapi ini adalah kalimat dari seorang anak kelas lima SD yang kalah. Ia nampak tidak bersedih, malah menyikapinya dengan bijak.
Begitulah, menulis ternyata bisa menjadikan seseorang menjadi lebih bijak dan dewasa secara akal dan pikiran walau usianya masih sangat belia.
Kisah anak saya hanya sebagian kecil contoh manfaat menulis, untuk mendewasaan diri. Dewasa dalam berbicara, bertindak dan menyikapi sebuah kegagalan bahkan keberhasilan.
Untuk itu saya mengajak, mari menulis dan dapatkan kemanfataannya yang luar biasa di masa sekarang atau nanti. Sejatinya dengan menulis kita berinvestasi kebaikan dan pahalanya pun akan terus mengalir.
Semoga bermanfaat
Biodata penulis :

Rifuwanti,S.Pd. biasa dipanggil Wanti adalah seorang Ibu Rumah Tangga, Penulis, Konsultan Perempuan, anak dan Keluarga. Sekarang berdomisili di Sukaharjo, Jawa Tengah. Penulis ber Medsos : Fb : Rifuwanti Wm, IG : rifuwanti2018
