.
Oleh : Aan Mardianto (Alumni KMO Basic Batch 50)
“Teruslah menulis walaupun hasilnya kurang bagus. Dari kebiasaan rutin menulis itu kita akan mendapatkan pembelajaran. Menulis mampu melegakan hati sekaligus memberikan manfaat bagi orang lain” –Aan Mardianto, 2022.
.
Pandemi covid-19 banyak menghasilkan kebiasaan baru bagi masyarakat. Ada yang gemar beternak, melukis, membuat bonsai, menanam bunga, olah raga, maupun menulis. Saya termasuk salah satunya.
Awalnya di saat pekerjaan ditetapkan untuk Work From Home (WFH) saya sempat dihinggapi kejenuhan. Terlebih waktu itu tidak ada yang tahu akan terjadi sampai kapan.
Saya mulai berselancar di dunia maya. Searcing di internet, untuk mencari-cari hal apa yang kira-kira dapat dilakukan selama pandemi. Tertarik dengan sepeda saya pun membeli sepeda, tertarik dengan tanaman hias aglonema saya pun mulai memeliharanya –sampai hari ini. Lalu saya pun tertarik dengan dunia tulis menulis, dengan tergabung dalam Kelas Menulis Online (KMO) Basic Batch 50.
Berangkat Dari Perenungan
“Saya teringat perkataan Pak Cah pada awal materi bahwa menulis itu bukanlah bakat tapi kebiasaan” –Aan Mardianto, 2022.
Sebenarnya ketertarikan saya terhadap tulis menulis ini berangkat dari renungan saya sendiri. Di kantor saya biasa mengerjakan pekerjaan yang melibatkan analisa dan seni merangkai kata, namun saya tipikal orang yang kurang suka untuk show up.
Terkadang banyak ide dan gagasan yang berlalu begitu saja. Terpikir oleh saya, kenapa ide dan gagasan itu tidak dibagi kepada orang lain? Waktu itu saya bingung harus mulai dari mana. Maklum, tulis menulis adalah hal yang baru bagi saya, sampai akhirnya menemukan kelas menulis online Alineaku.
Saat ini saya sering membuat tulisan untuk mengikuti perlombaan karya tulis. Saya juga mencoba mengirimkan tulisan di majalah. Saya juga berlatih untuk membuat cerita pendek, atau kadang hanya sekedar membuat tulisan tentang cerita perjalanan.
Hal itu semua saya lakukan untuk melatih diri saya sekaligus membangun kebiasaan menulis. Saya teringat perkataan Pak Cah pada awal materi bahwa menulis itu bukanlah bakat tapi kebiasaan. Dengan terus berlatih, diharapkan akan menjadi suatu pengalaman yang berharga.
Analoginya, dahulu pada saat belajar sepeda tentu sering terjatuh. Namun seiring berjalannya waktu, kita akan menjadi mahir. Maka teruslah menulis walaupun hasilnya kurang bagus. Dari kebiasaan rutin menulis itu kita akan mendapatkan pembelajaran. Menulis mampu melegakan hati sekaligus memberikan manfaat bagi orang lain.
Manfaat Menulis
“Menulis dapat menjadi ajang curhat untuk menuangkan isi hati, hal itu akan membantu meredakan stres dan melegakan hati” –Aan Mardianto, 2022.
Banyak peristiwa yang terjadi di sekitar kita setiap hari. Sering terbersit gagasan, ide, motivasi dan lain sebagainya,dari peristiwa tersebut. Semestinya kita berusaha untuk menuliskan gagasan, ide dan pelajaran dari berbagai peristiwa kehidupan.
Jika kita biasakan menulis, sesungguhnya ada banyak hal yang bisa kita dapatkan. Menurut saya, menulis memberikan paling tidak tiga manfaat berikut ini.
Yang pertama menulis dapat membantu sesama dalam menghadapi permasalahan yang sedang aktual terjadi. Misalnya, di masa pandemi ini banyak orang kebingungan dalam mendampingi belajar anak di rumah. Jika kita memiliki pengalaman mendampingi anak selama berlajar di rumah, bisa dituliskan untuk membantu banyak orang yang memerlukan informasi.
Kedua, menulis dapat menjadi ajang curhat untuk menuangkan isi hati, hal itu akan membantu meredakan stres dan melegakan hati. Menulis adalah sarana untuk mengeluarkan semua isi pikiran dan isi perasaan yang mengganjal. Kegelisahan akan reda dengan menuliskannya. Tentu saja harus dikemas dengan positifdan konstruktif, agar tidak semata berisi curhat.
Ketiga, tulisan-tulisan kita dapat menghasilkan uang. Bagi Anda yang ingin mendapatkan tambahan penghasilan darimenulis, bisa dilakukan dengan mengirim tulisan ke koran atau majalah. Jika tulisan kita dimuat, akan mendapatkan honor kepenulisan. Bisa pula dengan mengikuti perlombaan yang berhadiah.
Selalu terkandung hikmah di dalam setiap kejadian yang Allah subhanahu wataala tentukan. Namun kadang karena keterbatasan ilmu manusia tidak mampu menangkap pesan maupun hikmah yang terkandung dalam setiap takdir-Nya. Termasuk karena adanya pandemi ini, saya dipertemukan dengan dunia tulis menulis dan kelas menulis yang di asuh oleh Pak Cah dan Bu Ida.

Aan Mardianto, lahir di Kota Bumi, 21 Februari 1987. Berkegiatan sebagai aparatur sipil negara. Tinggal di Lampung. Nomer HP / WA 081369034667.

Benar sekali, menulis adalah melegakan. Menuangkan isi hati. Jika di ungkapkan secara lisan terkesan menggurui atau terkadang kurang pas waktu (timingnya). Namun dengan tulisan lebih mengena, dan mudah di cerna. Terima kasih pak Aan Mardianto.