19 September 2026

.

Oleh : Ummu Rochimah (Alumni Wonderful Writing Class / WWC)

Bisa buntet saya kalau cuma mikirin efek samping kemoterapi. Harus ada sesuatu yang bisa mengalihkan semua rasa itu supaya tetap waras” –Ummu Rochimah, 2022.

.

Sejak tahun 2016, saya mendapatkan vonis dari dokter bahwa ada sel tumor ganas yang menyerang sebagian anggota tubuh saya. Dokter saat itu menyarankan untuk segera menjalani operasi pengangkatan tumor tersebut, namun saya meminta waktu untuk berdiskusi dengan pasangan dan keluarga, terutama anak-anak.

Mulanya ada rasa bimbang dan ragu untuk segera mengikuti saran dokter, masih ada sedikit keinginan untuk menjalani pengobatan alternatif sebagai upaya penyembuhan karena faktor estetika. Setelah diskusi yang cukup panjang dan lebar, akhirnya kami memutuskan untuk memilih jalan penyembuhan secara medis kedokteran, dan siap menjalani operasi mastektomi.

Akhir tahun 2016 menjadi awal mula perjalanan sebagai seorang survivor kanker. Memasuki tahun 2017 mulailah saya menjalani rangkaian terapi lanjutan yang diawali dengan kemoterapi. Kemoterapi adalah metode pengobatan penyakit kanker menggunakan obat-obatan berupa cairan yang dimasukkan ke dalam tubuh layaknya jika seseorang itu diinfus.

Efek samping kemoterapi itu sungguh membuat tubuh merasa sangat tidak nyaman. Lidah kehilangan indera perasa, tidak ada lagi rasa manis, asin, pahit, asam bahkan rasa pedas, semua terasa hambar. Belum lagi efek mual yang luar biasa, membuat seseorang yang sedang menjalani kemoterapi malas dan kehilangan nafsu makan.

Semua rasa tidak enak berkumpul dan berkolaborasi membuat tubuh menjadi tidak nyaman. Hanya akal sehatlah yang bisa membantu untuk menjaga kewarasan. Makan bukan lagi karena rasa tapi karena logika semata.

“Orang yang sakit jika tidak makan tambah sakit. Orang sakit lalu tetap makan, minimal tidak menambah sakit.” Begitu akal mengajarkan saat itu. Jadilah aktivitas makan benar-benar hanya untuk menegakkan tubuh.

Bertemu Kelas Menulis

Dalam keadaan galau dan bingung, mau ngerjain apa, Allah kirimkan lewat di wall facebook saya postingan pak Cah tentang Kelas Menulis Online” –Ummu Rochimah, 2022.

Berbulan-bulan menjalani proses kemoterapi membuat semua aktivitas saat itu dihentikan total, hingga sampailah pada satu titik jenuh. Masa begini aja sih? Bisa buntet saya kalau cuma mikirin efek samping kemoterapi. Harus ada sesuatu yang bisa mengalihkan semua rasa itu supaya tetap waras. Mulailah berpikir untuk mencari aktivitas yang bisa dilakukan dalam keadaan terbatas saat itu.

Semua yang sudah dan akan terjadi pada manusia itu memang sudah diatur oleh Allah. Dalam keadaan galau dan bingung, mau ngerjain apa, Allah kirimkan lewat di wall facebook saya postingan pak Cah tentang Kelas Menulis Online. Mulanya hanya membaca sekilas, ngapain? Lha wong saya ngga bisa menulis dan ngga kenal dunia tulis menulis.

Tak lama setelah itu lewat sebuah tulisan berjudul Menulis Sebagai Obat, yang menceritakan tentang Prof. Habibie yang sempat mengalami depresi sepeninggal istrinya, Ainun. Beliau menolak untuk dirawat di rumah sakit, hingga dokter menyarankannya untuk menuliskan segala hal mengenai Ainun, istri tercintanya.

Ternyata dengan menuliskan segala sesuatu tentang Ainun, sang istri yang sangat dicintainya itu, pak Habibie menjadi sembuh, segar bugar. Menulis adalah terapi yang ampuh. Begitu bunyi tulisannya.

Ternyata tulisan ini membuka mata dan hati saya untuk segera mendaftar di kelas menulis online yang saat itu diberi nama Wonderful Writing Class, sekaligus ingin membuktikan tulisan tersebut. Sepertinya ini kelas menulis pertama yang digagas oleh pak Cah dan bu Ida.

Jadilah saya mengikuti kelas menulis tersebut yang diampu dan didampingi langsung oleh Pak Cah dan Bu Ida. Hingga di akhir kelas terbitlah sebuah antologi berjudul Perahu Cinta itu adalah Keluarga hasil karya bersama peserta kelas menulis online WWC. Wuihh jangan ditanya ya gimana perasaan saya ketika melihat ada nama saya tercetak dalam sebuah buku. Bahagia bangett..

Sejak itulah dunia tulis menulis menjadi teman yang membersamai  dalam perjalanan saya menjemput kesembuhan. Sedang antri di poli bedah RSCM, ketik-ketik dikit, antri di apotik, nulis-nulis dikit, menunggu jemputan, sambil nulis dikit. Pokoknya, dikit-dikit nulis, dikit-dikit nulis… Nulis kok dikit-dikit? Ah, biarin aja yang penting happy.

Manfaat Positif Menulis

Menulis menjadi tempat curhat yang paling asyik dan membuat bahagia. Kita bisa menuliskan apa saja yang ada dalam pikiran dan hati” –Ummu Rochimah, 2022.

Ada banyak hal positif yang saya rasakan dari aktivitas menulis. Saya merasa sehat dan bahagia. Menulis memberikan manfaat pada saya, antara lain,

  • Menjadi sarana katarsis

Menulis menjadi tempat curhat yang paling asyik dan membuat bahagia. Kita bisa menuliskan apa saja yang ada dalam pikiran dan hati. Menulis menjadi tempat mengalirkan semua rasa baik senang, sedih, bahagia atau pun derita.

  • Menambah penghasilan

Menulis bisa menjadi tambahan sumber penghasilan. Bermula dari buku antologi Perahu Cinta itu adalah Keluarga yang saya ikut menjualnya saat itu dan merasakan laba dari hasil penjualan. Kemudian berlanjut dengan lahirnya buku solo Chemistry Jiwa, yang juga saya distribusikan sendiri.

Nyata adanya bahwa menulis bisa menjadi sumber penghasilan. Ini salah satu yang disebut hobby berbuah cuan. Bukan masalah seberapa besar, tapi yang pasti bisa menjadi pilihan lahan untuk berpenghasilan.

  • Bisa menjadi terkenal #ehh

Banyak tokoh-tokoh dunia terkenal karena tulisan atau buku-bukunya. Saya pun pernah mengalaminya, walau dalam skala yang masih sangat-sangat kecil. Ketika dalam sebuah forum, saat sesi perkenalan dan saya menyebutkan nama, ada seseorang yang berkomentar,  “Oh Bu Ummu ini yang penulis itu ya?” Hehehe.. Benerkan?

  • Produktif

Bisa membuat lebih optimal dalam mengelola waktu. Hari-hari yang dilalui bisa diisi dengan sesuatu yang produktif, yaitu menuls. Menulis apa? Ya menulis apa saja lah, yang penting menulis, menulis dan menulis. Sampai bisa merasakan, “Sehari tanpa menulis hidup serasa ambyar marimar..”

Begitulah pengalaman saya ketika sudah mengenal dunia menulis. Semua maunya ditulis, ditulis dan ditulis. Alhamdulillah saat ini diberi kepercayaan oleh Wonderful Family Institut untuk menjadi kontributor di https://ruangkeluarga.id/

Ayo semangat menulis..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *