.
Oleh : Cahyadi Takariawan
“There is no universal standard for the different classifications” –IAPWE, 2018.
.
Apakah tulisan harus selalu panjang? Tentu saja tidak. Tulisan itu, selalu ada tujuannya. Untuk apa dan untuk siapa tulisan dibuat. Maka panjang dan pendek bukanlah kebakuan dalam membuat tulisan.
“Tidak ada standar universal untuk setiap klasifikasi tulisan”, demikian diungkapkan IAPWE. Namun standar yang ditetapkan oleh organisasi seperti Science Fiction Writers of America (SFWA) bisa memberikan panduan. Menurut SFWA, cerita pendek (cerpen) adalah tulisan fiksi yang panjang maksimalnya 7.500 kata, novelet adalah tulisan fiksi yang panjangnya 7.500 hingga 17.500 kata, novella antara 17.500 hingga 40.000 kata, dan novel 40.000 kata atau lebih.
Namun, apakah tulisan harus memenuhi standar ukuran tersebut? Tentu saja, tidak. Tidak ada lembaga yang berhak membatasi ukuran tulisan yang Anda buat. Kita semua bebas berkreasi, sepanjang tulisan itu untuk tujuan populer atau publik. Kecuali jika membuat tulisan sebagai sebuah persyaratan tertentu, harus sesuai dengan pembuat ketentuan.
Cerita Enam Kata
Anda pernah mendengar cerpen enam kata? Sebuah legenda yang tidak jelas sumbernya menyatakan, suatu ketika Ernest Hemingway sedang makan siang bersama para penulis di sebuah restoran. Mereka bertaruh 10 dollar AS masing-masing jika bisa menulis sebuah cerita pendek dengan enam kata.
Konon, Hemingway dengan cepat menulis enam kata di atas serbet. Ia menulis “For sale: baby shoes, never worn. Dijual: sepatu bayi. Belum pernah dipakai”. Dengan tulisan enam kata itu, ia dinyatakan menjadi pemenang.
Sesungguhnya kisah yang dinisbatkan kepada Hemingway tersebut tidak ditemukan sumber rujukannya[i]. Hanya klaim yang tak bisa dipertanggungjawabkan rujukannya. Bahkan Zack Wortman menjadikannya sebagai bahan candaan dalam esai humornya di tahun 2016.
“Berharap untuk mengulang kesuksesan cerita itu, Hemingway menulis beberapa sekuel enam kata”, ujar Wortman. Berikut sekuel cerpen enam kata versi Zack Wortman:
“For sale: baby shoes. Really big”. Dijual: sepatu bayi. Sangat besar.
“For hire: giant baby. Very amusing”. Untuk disewa: bayi raksasa. Sangat lucu.
“Rent baby for fun, scary evening”. Sewa bayi untuk bersenang-senang, malam yang menakutkan.
“Have you seen enormous baby? Escaped”. Pernahkah Anda melihat bayi yang sangat besar? Lari.
Meski hanya bercanda, namun sebenarnya Wortman memberikan inspirasi kepada kita untuk membuat cerita pendek enam kata. Apakah itu mudah? Ternyata tidak.
Jangan membayangkan menulis cerita yang sangat pendek, lebih mudah dibandingkan dengan membuat cerita yang panjang. Mungkin kita membayangkan mudah, karena toh hanya menulis enam kata. Namun, bisakah menciptakan cerita dalam enam kata yang bisa memunculkan imajinasi luas tanpa batas? Ini yang sulit.
Kita ambil saja kisah legenda yang tak ada sumbernya itu. “For sale: baby shoes, never worn. Dijual: sepatu bayi. Belum pernah dipakai.” Siapapun yang membuat tulisan enam kata ini, memang layak diakui kemampuannya. Hanya enam kata, namun mampu membangkitkan imajinasi yang sangat luas.
Pembaca akan bertanya, mengapa sepatu bayi yang belum pernah dipakai itu harus dijual? Mengapa ada orang membeli sepatu bayi, jika akhirnya harus dijual lagi? Apakah sang bayi meninggal dunia? Apakah sang bayi tidak jadi lahir ke muka bumi?
Spirit Menulis Pendek
“Perhaps the moral of the story, fitting in the Twitter age, is that the great man theory of authorship so often gets it wrong; the most memorable stories and ideas can arise spontaneously, anonymously, from anywhere” –Open Culture, 2015.
Meskipun yang membuat cerita enam kata itu bukan Hemingway, namun telah memberikan inspirasi untuk membuat sesuatu karya yang tidak selalu related dengan sejumlah aturan dan ketentuan. Cerpen, menurut SFWA memiliki batas maksimal 7.500 kata, tanpa batas minimal. Bolehkah jika hanya 6 kata saja? Mengapa tidak?
Situs Open Culture memberikan catatan menarik tentang hal ini. “Mungkin moral dari cerita ini, yang cocok dengan era Twitter, adalah bahwa teori kepenulisan orang hebat sering kali salah; cerita dan ide yang paling berkesan bisa muncul secara spontan, tanpa nama, dan bisa dari mana saja”.
Di zaman modern, sudah sangat banyak karya kreatif yang tidak selalu bisa diikat dengan sejumlah patokan baku. Sebagian penulis menyebut karya mereka sebagai microfiction, flash fiction, atau short story, maupun istilah lainnya. Kita juga disodori ‘novel’ karya penyair legendaris Sapardi Djoko Damono. “Yang Fana Adalah Waktu” disebut sebagai novel padahal sangat pendek.
Jadi, tidak ada yang baku dalam karya kreatif. Yang diperlukan adalah keberanian menghasilkan karya, meskipun berbeda dengan kebiasaan yang telah lama ada.
Bahan Bacaan
IAPWE, Word Count Separates Short Stories from Novelettes and Novellas, https://iapwe.org, 12 November 2018.
Open Culture, The (Urban) Legend of Ernest Hemingway’s Six-Word Story, https://www.openculture.com, 24 Maret 2015
Zack Wortman, Ernest Hemingway’s Six-Word Sequels, https://www.newyorker.com, 11 September 2016
[i] “Suspicions arose, and the final debunking occurred in a 2012 scholarly article in The Journal of Popular Culture by Frederick A. Wright, who concluded that no evidence links the six-word story to Hemingway” (Open Culture, 2015).

Setuju. Meskipun belum bisa membuat tulisan panjang, menuliskan cerita pendek juga mengasyikan. Waktu bisa di alokasikan untuk menulis aksara yang lain. Syukran katsiran ustadz Cahyadi Takariawan