.
Oleh : Cahyadi Takariawan
“My stock answer about the hardest part of writing a book has always been: The beginning!” –KM. Weiland, 2015
.
Hal apakah yang paling sulit dalam menulis? Jawaban setiap orang bisa berbeda-beda atas pertanyaan ini. Saya telah mengajak Anda bertanya kepada beberapa orang penulis, dalam postingan-postingan sebelumnya. Anda bisa mencermati, jawaban mereka memang berbeda-beda.
Kali ini kita bertanya kepada KM. Weiland, penulis banyak buku, salah satunya adalah “Outlining Your Novel”. Menuru Weiland, hal paling sulit dalam menulis adalah membuat bagian permulaan atau pendahuluan. Baik awal dari buku maupun awal dari bab.
“My stock answer about the hardest part of writing a book has always been: The beginning! A thousand times the beginning!” –KM. Weiland, 2015
Sebagai penulis senior, ia mengakui masih memiliki bagian yang sulit untuk dilakukan. Weiland menyatakan bagian tersulit dari menulis adalah permulaannya. “Seribu kali jawaban saya sama, permulaannya!” ujar Weiland.
Setiap kali menulis buku, ia harus membuat entry atau semacam pendahuluan di awal setiap bab. Ia merasa pusing mengawali setiap bagian. Inilah bagian paling sulit, menurut Weiland.
“I need to write something awesome enough to hook your attention, something that introduces the characters in a memorable and characteristic way” — KM. Weiland, 2015
Mengapa ini menjadi bagian paling sulit? Karena bagian pendahuluan atau paragraf awal di setiap permulaan bab, akan menjadi penentu bagi pembaca. Apakah mereka akan tertarik membaca bab itu, atau akan melewatinya? Demikian pula pendahuluan bagi sebuah buku, sangat menentukan bagi keputusan pembaca.
Weiland mengaku harus memikirkan hal-hal dramatik di awal buku atau awal setiap bab. “Ada begitu banyak hal yang harus disulap di awal buku”, ujarnya. “Saya harus menulis sesuatu yang ‘heboh’ untuk menarik perhatian pembaca”, lajutnya.
Sebagai penulis novel, ia berusaha keras untuk memperkenalkan karakter para tokoh dengan cara yang mudah diingat dan khas atau unik. Ia harus mampu mengelola semua hal dalam cerita, meramu kejadian, konflik, latar belakang, dan lain sebagainya. Itu dilakukan sambil mencoba menemukan posisi dirinya yang tepat. Kesulitan ini biasanya terjadi setelah ia tidak aktif menulis selama beberapa bulan.
“It often takes me until the end of the First Act (the first quarter of the story) to really get my feet under me. My family and friends know by now that I’m extra grumpy during that part of the process!” –KM. Weiland, 2015
Uniknya, ia mengaku harus melewati kesulitan ini hingga menyelesaikan chapter pertama dari bukunya. Lantaran ia tengah berjibaku dengan kesulitan tingkat tinggi, maka ia mengerahkan segenap kesungguhannya untuk melewati bagian tetrsebut. Dampaknya, orang-orang di sekitarnya merasa tersisih.
“Keluarga dan teman-teman saya tahu, bahwa saya menjadi lebih emosional selama bagian dari proses itu”, ujar Weiland. Ia tidak mau diganggu. Konsentrasi ia curahkan untuk menyelesaikan bagian terseulit tersebut.
Kerumitan Menghadirkan “Bad Guys”
Kesulitan berikutnya yang dialami Weiland adalah saat menghadirkan tokoh antagonis, bad boys. Ia merasakan suasana ironi, bahwa ia harus menghadirkan tokoh-tokoh jahat dalam ceritanya. Pada saat manusia pada umumnya menghendaki kebaikan, perbuatan baik dan orang-orang baik, ia justru menghadirkan tokoh jahat dan kejahatan.
“I find it kind of ironic that I, of all people, struggle with bad guys” –KM. Weiland, 2015
Dalam kisah fiksi, baik cerpen ataupun novel, daya tarik bagi pembaca adalah adanya konflik. Meskipun konflik tidak selalu bercorak hitam putih, namun beberapa cerita cenderung menghadirkan pertentangan yang benar-benar pilihan ekstrem. Satu pihak adalah protagonis yang pembela kebenaran, pihak lainnya adalah antagonis yang selalu menghadirkan kejahatan.
Menurut Weiland, saat menghadirkan sosok antagonis yang bercorak pelaku kejahatan, ada pertentangan batin yang harus ia lalui. Kejahatan dan tokoh jahat bukanlah hal yang disenangi manusia secara umum, namun ia harus pandai menghadirkna sosok bad guys untuk menjadi kehebohan cerita.
“Bad guys tend to bore me. I don’t care what they’re doing or why, so much as that they’re catalysts to give my heroes an opportunity to be awesome” –KM. Weiland, 2015
Cerita akan mengalir datar-datar saja, membuat mengantuk pembaca, apabila tidak ada hal yang bercorak bad guys. Ia pun menghadirkan dengan ‘sesempurna’ mungkin. Baginya, ini terasa sangat menjemukan. Namunakhirnya Weiland menemukan alasan yang paling kuat dan rasional mengapa harus menghadirkan kejahatan dalam ceritanya.
“Which is why I work really hard at trying to make them just as interesting and compelling as my protagonists” –KM. Weiland, 2015
“Saya tidak peduli terhadap apa yang dilakukan para penjahat itu, atau mengapa mereka melakukan kejahatan. Bagi saya, mereka adalah katalisator untuk memberi kesempatan kepada tokoh pahlawan protagonis dalam cerita saya, untuk menjadi luar biasa”, ujar Weiland.
“Itulah sebabnya”, lanjut Weiland, “Saya bekerja sangat keras untuk menghadirkan mereka semenarik mungkin, seperti menariknya tokoh protagonis yang saya buat”.
Selamat menulis, selamat menghasilkan karya untuk mengubah dunia.
Bahan Bacaan
KM. Weiland, Your Questions Answered: What Is the Hardest Part of a Book to Write? 13 Oktober 2015, https://www.kmweiland.com

Dengan karya kita bisa mengubah dunia. Tentu dunia kepenulisan yang penuh dengan pesan kebaikan. Cerita datar membuat orang atau pembaca bosan atau mudah mengantuk.syukran ust. Cahyadi Takariawan