19 September 2026

.

Catatan Isoman Hari Ke – 4    

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Sangat banyak orang di dunia ini tengah menjalani isolasi mandiri. Namun, “hasil akhir” yang mereka dapatkan sangat berbeda-beda, tergantung bagaimana mereka memberi makna. Jika mereka sekedar melalui sebagai sebuah kewajiban, ya akan lulus dengan kualifikasi standar saja.

Masih mending dibandingkan mereka yang jelas bergejala tapi tidak mau periksa swab, karena takut dicovidkan. Masih mending dibandingkan mereka yang bergejala, tidak mau periksa, dan tetap aktivitas leluasa ke mana-mana. Mereka ini yang potensial menjadi penyebar virus di seantero dunia.

Saya pribadi, hari ini Senin 9 Agustus 2021 masuk hari keempat isoman. Alhamdulillah kondisi masih aman terkendali. Biasalah ada sedikit pusing, sedikit radang tenggorokan, dan sedikit lemas.

Saya tertarik untuk menerapkan konsep ajuan Martin Seligman selama menjalani isoman. Lima aspek yang diyakini bisa memberikan pertumbuhan bagi kebahagiaan, yakni positive emotion (emosi positif), engagement (kelekatan), relationship (relasi yang positif), meaning (kemampuan memberi makna) dan accomplishment (pencapaian / prestasi).

Pada postingan sebelumnya telah saya sampaikan aspek pertama (positive emotion), kedua (engagement) dan ketiga (relationship). Kali ini saya ajak Anda untuk membahas aspek keempat yang mampu memberikan pertumbuhan kebahagiaan, termasuk saat tengah isoman, yaitu memberikan makna (meaning).

Meaning, Kemampuan Memberikan Makna

Dalam kehidupan, sering kali kita tidak bisa memilih peristiwa atau kejadian yang berlaku dalam diri kita atau di sekitar kita. Hidup ini berjalan tidak selalu sesuai dengan yang kita rencanakan atau kita harapkan. Yang pasti, selalu sesuai dengan garis ketentuan Tuhan.

Ada hal-hal yang sangat kita inginkan, namun ternyata tidak bisa menjadi kenyataan. Ada hal-hal yang tidak kita inginkan, ternyata justru menjadi kenyataan. Misalnya peristiwa pandemi Covid-19 saat ini. Pandemi jelas bukanlah pilihan, namun kita dipaksa harus menghadapi.

Demikian pula, di masa pandemi umumnya manusia berharap bisa terjauhkan dari serangan virus corona yang sangat berbahaya. Ada sebagian yang tidak percaya adanya virus corona –yang ternyata meninggal dunia kena virus corona yang tidak dipercayainya. Namun realitas menunjukkan, sebagian dari kita harus mengalaminya. Termasuk saya dan keluarga.

Ini jelas bukan pilihan, bukan keinginan. Dalam doa dan harapan, kita selalu memohon agar terlindungi dari virus corona dan penyakit berbahaya lainnya. Tak ada orang yang meminta agar terinfeksi corona. Ketika sebagian dari kita terpilih untuk mengalaminya, maka di antara hal yang harus kita lakukan adalah memberikan makna (meaning) yang positif.

Pertanyaan penting adalah, apa makna pandemi bagi kita? Apa makna terpapar virus corona bagi yang mengalaminya? Cara kita memberi makna, akan sangat menentukan kondisi diri kita.

Coba kita lihat perjalanan respon manusia, dan bagaimana mereka memberi makna ketika mengalami kejadian yang tak diinginkan. Misalnya terkena virus corona. Kita pakai pendekatan Kubler-Ross saja ya, biar enak membahasnya.

Satu, Menolak

Ada orang yang menolak untuk menerima kenyataan bahwa dirinya terkena virus corona. “Tidak mungkin saya kena. Tubuh saya sehat, saya rajin olah raga, makan teratur, gizi seimbang, istirahat cukup, mengikuti protokol kesehatan, mana mungkin bisa terkena corona?

Dua, Marah

Ada orang yang emosi dan marah setelah mengetahui dirinya terkena virus corona. “Siapa yang mengirim virus jahat ini ke tubuh saya? Pasti ada orang jahay yang sengaja mengirim ke rumah saya. Akan saya cari pelakunya sampai dapat. Saya tidak bisa terima”.

Tiga, Bergaining

Ada orang yang melakukan bergaining ketika mengetahui dirinya terpapar corona. “Kenapa sih harus sekarang? Ini benar-benar waktu yang tidak tepat bagi saya. Saat ini saya sedang konsentrasi mempersiapkan pernikahan, kenapa dapat corona sekarang? Kalaupun harus terkena, nanti saja setelah setahun menikah”.

Empat, Depresi

Ada orang yang depresi ketika mengetahui dirinya terpapar corona. “Sudah banyak saudara, tetangga dan teman yang meninggal dunia karena virus corona. Mengapa sekarang terjadi pada saya? Apa salah dan dosa saya sehingga harus terkena virus jahat ini? Hidupku tinggal sebentar lagi”.

Lima, Menerima

Ada orang yang langsung bisa menerima dengan rela tatkala mendapat konfirmasi dirinya positif corona. “Sudahlah, ini ketentuan Allah. Tak bisa kita menolak, ketika sudah kejadian. Manusia hanya bisa berusaha sekuat tenaga. Namun jika Allah menghendaki, pasti akan terjadi juga”.

Bagaimana Memberi Makna?

Jika kita mampu memberi makna posisit atas pandemi yang tengah terjadi, kebahagiaan selalu kita dapatkan. Misalnya, pandemi adalah cara Allah untuk menguji manusia. Setiap ujian, artinya akan ada kenaikan kelas atau kenaikan jenjang. Ini kesempatan bagi kita untuk bisa lulus ujian dan meningkatkan kualitas diri.

Demikian pula, bagi sebagian di antara kita yang telah terpapar corona, berikan makna yang positif atas kondisi ini. Jangan habiskan waktu untuk menolak, marah, bergaining ataupun depresi. Karena tidak ada gunanya. Terima saja dengan sepenuh kerelaan, bahwa sakit adalah anugerah untuk menghapuskan dosa dan salah.

Para ulama menyatakan, sakit adalah cara Allah untuk memberikan ampunan kepada para hamba. Cara Allah untuk menyatakan cinta. Cara Allah untuk memberikan rahmat dan ridha. Maka jangan menolak, jangan marah, jangan bergaining  dan jangan depresi saat diberi sakit. Terima saja, nikmati kondisinya.

Jika sakit dimaknai sebagai beban, tetaplah melihat secara positif. Tidaklah beban ditambahkan, kecuali kita tengah dipersiapkan untuk bertambah kekuatan. Dalam dunia olah raga angkat besi ada ungkapan, tak ada cara yang lebih baik untuk menjadi semakin kuat, kecuali dengan menambah beban.

Nah, inilah yang akan membuat kita baik-baik saja meski tengah terpapar dan harus isolasi mandiri, di rumah, shelter maupun rumah sakit. Mentalitas kita akan menjadi kuat saat mampu memberikan makna positif atas realitas apapun yang kita hadapi.

Kelak, saat bergelar LC (Lulus Covid), kita akan memiliki kondisi yang lebih baik. Lebih pandai bersyukur, lebih mendekat kepada Allah, lebih banyak berbuat kebaikan, dan lain sebagainya.

Bahan Bacaan

Martin Seligman, Flourish, A Visionary New Understanding of Happiness and Wellbeing, Atria Books, 2012

Melissa Madeson, Seligman’s PERMA+ Model Explained: A Theory of Wellbeing, 22 Mei 2021, https://positivepsychology.com/

.

Foto : diambil dari Twitter @txtdarionlshop

3 thoughts on “Apa Makna Isoman? Jangan Sampai Tak Ada Kesan

  1. Memuji Allah dalm segala ujian-Nya merupakan cara membahagiakan diri sendiri. Semoga kesehatan Pak Cah dan keluarga cepat pulih, dan dapat meraih LC. Aamiin Allahumma aamiin…

    Syukron wa jazaakallah

  2. Memberi makna dari setiap peristiwa yang kita alami dan menuliskannya. Terima kasih Pak. Semoga cepat pulih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *