.
Oleh : Cahyadi Takariawan
“I had just lived an entire day of life. Any story I read I want to be from someone who has been living their life. All of the different experiences of the last 12 hours seeped into my writing” –Zander Shores, 2018.
.
Zander Shores (2018), kontributor blog menulis Medium, adalah contoh manusia malam. Semua ide, kreativitas dan motivasi dirinya muncul saat malam hari. Semula ia ingin menjadi manusia pagi, secara ‘normal’ menjadi rutinitas sebagaimana orang-orang lainnya bekerja.
Namun memaksa diri menulis di waktu pagi, membuatnya justru tidak produktif. Ia tidak bisa lancar menulis di waktu pagi. Sangat sedikit kata bisa dituangkan, sehingga menghambat produktivitasnya. Maka ia mulai menulia pada waktu malam, dan berhasil. Ia merasakan produktivitas menulis yang optimal, pada pukul 22.30 hingga 01.00.
Ini contoh, bagaimana ketika menulis pada sebuah waktu merasakan kendala, tidak berputus asa. Tidak menjadikan waktu sebagai alasan untuk tidak menulis. Anda bisa mencoba menulis pada waktu yang lain, sampai menemukan waktu yang paling tepat bagi tipe diri Anda. Bukankah waktu kita semua sama, yaitu 24 jam sehari semalam.
Keuntungan Menulis Malam
“Some people may love the mornings, and that is entirely respectable, but I am not that way. When it hits 9:00 PM, I jump a level in energy” –Zander Shores, 2018.
Setelah merasakan produktivitas di malam hari, Zander Shores memutuskan untuk totalitas menjadi manusia malam. Baginya, malam adalah pilihan waktu menulis yang paling tepat. “Saya percaya bahwa menulis larut malam bisa sama baiknya, jika tidak lebih baik daripada di pagi hari”, sambung Shores.
Tentu saja harus disertai komitmen. Bukan sekedar selesai dengan menemukan pola waktu, Shores bertekad untuk benar-benar meluangkan waktu untuk menulis. Zona waktu menulis baginya, pukul 22.30 – 01.00 tidak akan diganggu dengan kegiatan lainnya. Waktu tersebut menjadi zona eksklusif bagi Shores untuk menulis.
“Saya memutuskan berkomitmen untuk menulis, saya perlu meluangkan waktu bahkan jika ada hal lain yang harus dilakukan”, ujar Shores. Saat menulis di malam hari, Shores menikmati keheningan di mana sudah banyak orang beristirahat dan tidur. Sudah tidak banyak aktivitas yang ada di sekelilingnya.
“When writing late this energy powers me to write and let the ideas flow. Ideas I would get a less creative more mundane version of in the mornings” –Zander Shores, 2018.
Menulis di malam hari dirasakan memberikan keuntungan bagi Zander Shores. “Saya baru saja menjalani kegiatan satu hari penuh”, ujar Shores. Sepanjang kegiatan seharian, ada sangat banyak kejadian dan interaksi yang terjadi. “Semua pengalaman selama 12 jam terakhir meresap ke dalam tulisan saya”, ungkapnya.
Dengan berbekal pengalaman kegiatan seharian, Shores merasakan tulisannya lebih hidup dan bertenaga. “Saya tidak sekedar menulis agar tampak seperti diri sendiri, namun saya benar-benar diri saya sendiri dengan memiliki waktu latihan sehari penuh untuk membantu saya melakukannya dengan baik”, sambungnya.
Kebahagiaan Menulis Malam
“I wasn’t just writing to sound like myself, I was myself and had a full day of practice to help me do so” –Zander Shores, 2018.
Menulis di malam hari memberikan kegembiraan tersendiri bagi Shores. Baginya, malam hari adalah waktu yang paling tepat. “Kegembiraan yang jelas terasa adalah, saya tidak begitu lelah”, ungkapnya.
Tentu saja hal ini menjadi sangat subjektif. Bagi tipe manusia pagi, waktu fresh dan bertenaga adalah pagi. Di malam hari mereka akan merasakan kelelahan sehingga perlu beristirahat. Malam adalah waktu tidur, bukan waktu bekerja. Namun bagi manusia malam, berlaku sebaliknya, seperti yang dirasakan Shores.
Beberapa penulis menyukai bekerja pagi hari di saat pikiran dan tenaga fresh. “Itu sangat terhormat, tetapi saya tidak seperti itu,” ungkap Shores. Realitasnya, Shores jutru menemukan quantum energipada malam hari. “Saat pukul 21.00 malam, saya melompat satu tingkat lebih tinggi dalam energi,” ujarnya. Ini tentu sangat membahagiakan bagi dirinya.
“At night it is easier to let ideas flow. We don’t have the same hang-ups and worries that we do when the sun is just beginning to climb. Instead, we are free to say whatever we think and feel” –Zander Shores, 2018.
Banyak penulis telah menghasilkan karya sejak pagi hari, sementara Shores baru berkarya pada malam hari. Bukankah ini sebuah keterlambatan? “Saat terlambat menulis, energi ini memberi kekuatan kepada saya untuk menulis dan membiarkan ide mengalir”, ujar Shores. “Ide-ide saya akan mendapatkan versi yang lebih biasa-biasa saja yang kurang kreatif di pagi hari,” sambungnya.
Kebahagiaan Shores hadir karena menemukan produktivitas yang meningkat dimalam hari. Ketika memaksa menulis pagi hari, beberapa jam hanya menghasilkan 80 kata. Setelah rutin menulis malam hari, ia mampu memproduksi 3.000 kata dengan durasi waktu yang sama.
“Pada malam hari lebih mudah untuk membiarkan ide mengalir. Kita tidak memiliki kekhawatiran seperti yang kita dapatkan ketika matahari baru saja terbit. Sebaliknya, kita bebas untuk menyatakan apa pun yang kita pikirkan dan rasakan”, sambung Shores.
“My favorite part though is when writing down the main topics of an article, a sudden idea will appear. It may be the next section I want to explore or a story that fits the theme well. Suddenly, I let my fingers go” –Zander Shores, 2018.
“Saat menulis 3.000 kata, saya selalu menghabiskan bagian awal malam untuk memetakan tulisan. Saya akan bekerja untuk menemukan keseluruhan cerita dan ide dan bagaimana saya akan menjelajahinya”, ungkap Shores.
“Bagian favorit saya adalah ketika sedang menuliskan topik utama artikel, sebuah ide baru tiba-tiba muncul. Mungkin berupa bagian selanjutnya yang ingin saya jelajahi atau cerita yang cocok dengan tema”, ungkap Shores.
“Jika Anda adalah orang yang lebih menyukai malam, jangan melawannya. Anda dapat menatap layar selama yang Anda inginkan. Rangkullah cara Anda bekerja, dan buat itu bekerja baik untuk Anda”, ujar Shores.
“Malam adalah tempat yang luar biasa, dan saya harap ini akan membantu membuat tulisan Anda semakin indah”, tutupnya. Bagaimana dengan Anda?
Bahan Bacaan
Zander Shores, Why I Work at Night and Write 3,000 Words Each Time, https://writingcooperative.com, 8 September 2018

Menulis dan menulis saja, walau banyak sekali alasan di hadapan.
Terima kasih pak Cah. Syukran katsiran ustadz Cahyadi Takariawan.