.
Oleh : Ulfi F. Mahmud, ID – 04001 EEPK 2020
.
“Punya buku sendiri?” Pengin banget,tapi kok sulit ya?
Tentang menulis sebenarnya tidak awam banget. Dulu pernah bersama teman-teman menjadi redaktur sebuah majalah muslimah. Tapi, itu dulu…
Sekarang? Pengin sih, tapi…
Tapi-tapi itulah yang selama ini menghalangiku, menghambatku.. sehingga sampai saat ini belum pernah -kalau tidak boleh dibilang tidak pernah- berhasil memaksaku untuk menulis lagi…Pernah beberapa kali ikut mendaftar grup menulis ,tapi ternyata belum berhasil memaksaku menulis…
Sampai suatu ketika beberapa pekan lalu, Bu Muzna dengan gigihnya memaksaku ikut kelas emak menulis bersama Pak Cah ini.
Awalnya ragu, apalagi bersamaan dengan tahun ajaran baru yang kami harus banyak belajar menyiapkan materi ajar berbasis internet. Tapi, gak enak dengan kegigihan Bu Muzna, sekaligus berharap ini menjadi moment menulis lagi…
Tak bosan-bosannya Bu Muzna mengingatkanku: sudah daftar belum? Hari terakhir lo…. dan akhirnya terlewat juga. Segera kuhubungi Bu Ida, masih bisa daftar gak? Boleh, kata beliau. Maka segera daftarlah aku, dan segera kuforwad ke Bu Muzna begitu aku sudah daftar…
Kemudian persiapan kursus, mbak Hamda buat dua grup EEPK, aku masih nawar, mbok satu saja..Hpkuuuh…
Sampailah sesi kelas… Dengan kepiawaian Pak Cah memotivasi dan meyakinkan kami… akhirnya aku semakin mantap. Walau tetatih-tatih karena persiapan pembelajaran online juga cukup menguras energi, jadilah aku salah satu emak yang sering ketinggalan kereta. Atau kadang hanya mojok mengintip grup emak yang seru…
Tapi, bismillaah… Aku sudah membuat komitmen diri dan sudah mendapat sertifikat peserta. Aku harus jalan terus. Kapan lagi? The show must go on..Tantangan SHSB (seratus hari satu buku) benar-benar mampu memacu adrenalinku.
“Pokoknya tulis…tulis…tulis…. Kita bukan mau buat jurnal, kita hanya menulis…”, begitu kata Pak Cah ketika aku bimbang dengan sumber referensi tulisanku. “20 tahun menjadi guru merupakan referensi utama sebagaimana buku sensasional pak Cah Serial Wonderful Family, adalah juga berangkat dari pengalaman beliau menjadi konsultan RT…”, begitulah Pak Cah berhasil meyakinkanku untuk terus menulis…
“Kalau tulisan kita ruwet, itu nanti tugas editor…”, tak ada alasan lagi bagi kami jika sudah disudutkan Pak Cah.
Jadi, inilah rahmat Allah. Paksaan Bu Muzna dan Pak Cah ini, semoga membawa barokah berlipat. Aku berhasil menulis, dan semoga bagi yang membaca, tulisanku bermanfaat.
Terimakasih Pak Cah, Bu Muzna, Bu Ida, Mb Hamda, dan emak-emah semua. Lup u pull…karena Allah.
