.
RM 0020-20
Oleh : Cahyadi Takariawan
Jika seseorang tengah mengalami depresi, bisakah menulis menyembuhkannya? Joanne Kathleen Rowling berpendapat, sangat mungkin, dan ia telah membuktikannya. Setelah menjalani kehidupan pernikahan yang tidak membahagiakan, ia memilih untuk berpisah dari suaminya. Ia harus memulai hidup baru —tanpa suami— dengan seorang anak berusia dua tahun dan tidak memiliki pekerjaan. Ia juga tidak memiliki kedekatan dengan ayah sedangkan sang ibu sudah meninggal dunia. Joanne memilih mengisolasi diri di sebuah flat kecil, dan menulis tentang pengalaman hidupnya.
Kini JK. Rowling bukan saja sembuh, namun menjadi penulis terkaya di dunia. Sungguh keren.
Demikian pula ketika Prof. Habibie tidak berkenan untuk dirawat di Rumah Sakit, beliau diminta untuk menuliskan semua hal yang beliau rasakan tentang Ainun, istri tercinta. Sebagaimana diketahui, Habibie sempat mengalami depresi saat ditinggal mati sang istri. Ternyata dengan menuliskan segala sesuatu tentang Ainun, pak Habibie menjadi sembuh, segar bugar. Menulis adalah terapi yang ampuh.
Menulis adalah katarsis, yang bisa melepaskan ketegangan jiwa. Dengan menulis, emosi yang terhambat bisa muncul ke permukaan. Seseorang bisa meluapkan ledakan emosi dengan cara yang positif serta konstruktif lewat menulis. Sudah banyak hasil studi yang menunjukkan sisi terapi dari aktivitas menulis, bahkan dengan sengaja dibuat program terapi menulis.
Salah satu studi di Indonesia pernah dilakukan oleh Susilowati dan Hasanat (2011) tentang “Pengaruh Terapi Menulis Pengalaman Emosional Terhadap Penurunan Depresi pada Mahasiswa Tahun Pertama”. Hasil studi menunjukkan adanya penurunan tingkat depresi pada mahasiswa dengan menuliskan pengalaman emosional mereka. Hal ini memberikan landasan yang lebih kuat terhadap pengaruh positif menulis bagi kesehatan fisik dan mental.
Hasil studi dari Karen Baikie, seorang clinical psychologist dari University of New South Wales dan hasil studi peneliti dari Universitas Texas, James Pennebaker, menunjukkan bahwa di antara manfaat menulis adalah bagian dari terapi kejiwaan. Menurut Karen Baikie, menulis tidak ada batasan usia, dan menuliskan peristiwa-peristiwa traumatik, penuh tekanan serta peristiwa yang penuh emosi bisa memperbaiki kesehatan fisik dan mental.
Dalam studinya, Baikie meminta partisipan menulis 3 sampai 5 peristiwa yang penuh tekanan selama 15 hingga 20 menit. Hasil studi menunjukkan, mereka yang menuliskan hal tersebut mengalami perbaikan kesehatan fisik dan mental secara signifikan. Menurut Baikie, dalam jangka panjang, terapi menulis bisa mengurangi kadar stres, meningkatkan fungsi sistem kekebalan tubuh, mengurangi tekanan darah, memperbaiki fungsi paru-paru, fungsi lever, mempersingkat waktu perawatan di rumah sakit, meningkatkan mood, membuat penulis merasa jauh lebih baik, serta mengurangi gejala-gejala trauma.
Terapi ini bermanfaat bagi orang yang memiliki berbagai masalah kesehatan. “Partisipan yang menderita asma dan rematik arthritis menunjukkan adanya perbaikan fungsi paru-paru setelah melakukan tes laboratorium,” kata Baikie.
Menulis, menurut peneliti dari Universitas Texas, James Pennebaker, bisa memperkuat sel-sel kekebalan tubuh yang dikenal dengan T-lymphocytes. Pennebaker meyakini, menuliskan peristiwa-peristiwa yang penuh tekanan akan membantu anda memahaminya. Dengan begitu, akan mengurangi dampak penyebab stres terhadap kesehatan fisik anda.
Menurutnya, menulis adalah aktivitas mengasah otak kiri yang berkaitan dengan analisis dan rasional. Saat melatih otak kiri, otak kanan akan bebas untuk mencipta, mengintuisi, dan merasakan. Menulis bisa menyingkirkan hambatan mental dan memungkinkan seseorang menggunakan semua daya otak untuk memahami diri sendiri, orang lain, serta dunia sekitar dengan lebih baik.
Kisah Nyata : Menulis Sebagai Terapi
Saya tambahkan dua kisah inspiratif, bagaimana aktivitas menulis —selain produktif— juga memberikan efek terapi. Saya ambilkan dari kompas.com.
Kisah Pertama
Kehilangan anak seakan merenggut semangat hidup Astuti Parengkuh (42 tahun). Selama seminggu ia mengunci diri di kamar, hanya sedikit makan dan tidur. Baru sebulan kemudian kondisinya berangsur pulih. Hingga pada suatu hari Astuti teringat wasiat mendiang anaknya untuk membuat buku.
Asa Putri Utami, anak kedua Astuti, meninggal di usia 10 tahun setelah setahun menderita penyakit lupus. Perjalanan Astuti menemani anaknya melawan lupus sebagian ia tuangkan di buku harian, terutama catatan resep obat dan nama-nama dokter yang merawatnya. Tidak heran jika buku Asa, Malaikat Mungilku yang ditulis Astuti bisa dengan rinci menyebut jenis obat yang dikonsumsi Asa. Ingatannya yang tajam juga membuat Astuti mampu membuat deskripsi dalam urutan waktu yang runtut bagi kisahnya.
”Dua hari sebelum meninggal, Asa mengungkapkan keinginannya membuat buku. Ia ingin saya mewujudkannya. Setelah tiada, terungkap bahwa Asa sering menulis buku harian di buku tulis yang ia sembunyikan rapi. Saya bertekad mewujudkan wasiatnya untuk membuat buku,” kata Astuti di rumahnya di Pasar Kliwon, Solo, Jawa Tengah.
Berbekal keinginan memenuhi pesan terakhir Asa, Astuti mencoba menulis buku berisi perjalanan hidup Asa dari sudut pandangnya. Kisah itu diawali sejak Astuti menikah, melahirkan, sampai saat kepulangan Asa sehingga buku yang dihasilkannya menjadi semacam memoar. Selama lima bulan Astuti menuliskan ceritanya sambil teringat kenangannya pada Asa. Ternyata, di luar perkiraan, proses penulisan itu pelan-pelan justru mengobati luka batin Astuti yang dilanda pilu kehilangan Asa.
”Saya menulis sambil menangis, kadang tersenyum dan tertawa mengingat kelucuan dan kecerdasannya menghadapi penyakitnya kala itu,” kata Astuti.
Saat paling sulit ketika Astuti tiba pada bagian menuliskan menit-menit terakhir kehidupan Asa. Ia menuliskannya sambil berurai mata mengingat pesan-pesan Asa berupa doa kepada orangtua dan kakak adiknya. Meski merasa kurang nyaman karena harus mengingat kembali masa-masa perih itu, pada akhirnya Astuti merasakan damai menyelinap di hati setelah menuangkan segala perasaan ke dalam tulisan. ”Saya bisa lebih berdamai dengan diri saya. Seperti ada kebijakan hati dan penyeimbangan emosi saat menulis,” kata Astuti.
Menulis kembali menjadi ”pelarian”-nya saat menghadapi masalah rumah tangga. Astuti menuangkannya ke dalam cerita pendek untuk menyalurkan kemarahan dan kekecewaan atas kasus perceraian yang dihadapinya. Cerita-cerita pendek itu dikirimkan dan dimuat sejumlah media lokal. ”Saya bisa lebih melihat persoalan lewat menulis,” kata Astuti.
Kepergian Asa rupanya menjadi titik balik terwujudnya bakat menulis Astuti yang lama terpendam dan tidak terasah. Kini Astuti sudah menghasilkan banyak tulisan, baik artikel, cerpen, dan puisi yang dimuat sejumlah media, novel anak, maupun buku kumpulan tulisan bersama penulis lain, seperti Senyum dan Perempuan Itu Sesuatu.
Kisah Kedua
Kisah serupa dialami Rosalia yang menggunakan tulisan sebagai sarana menumpahkan perasaan yang tidak mungkin diungkapkan secara langsung kepada orang lain. Pada mulanya, perempuan yang akrab disapa Rosa ini menulis lewat status Facebook. Akan tetapi, karena terlalu panjang, Rosa memindahkan ruang menulisnya ke blog.
Ia merasa lebih leluasa menumpahkan perasaan lewat serangkaian tulisan. ”Saya seperti didengarkan. Kebetulan saya sudah tidak punya orangtua dan saudara. Curhat terbatas ke beberapa teman saja,” kata Rosa yang juga tinggal di Solo.
Rosa mengakui, ia tidak selalu mendapatkan solusi melalui menulis. Akan tetapi, ia terbantu melewati persoalan yang tengah dihadapi dengan baik. Ia terbiasa menulis dengan bebas mencurahkan apa pun yang dirasakan dan dipikirkan. Sebagian kisah hidupnya terbaca di blog pribadinya. Tulisannya terkadang mendatangkan komentar yang menguatkan dan mendukung. Rosa adalah orangtua tunggal bagi putri semata wayangnya.
Bahan Bacaan
Lusia Kus Anna (ed), Menulis sebagai Terapi, Kompas.com, 9 Juni 2014
Peter Lavelle, Depression, She Wrote, www.abc.net.au, 11 Desember 2008

Benar sekali ustad, melalui tulisan kita bisa mengeluarkan unek – unek dalam hati kita.Kesal,sedih, bahagia.dan tulisan yang kita buat dapat memberikan nasehat atau prinsip yang menjadikan motivasi hidup kita selanjutnya.