19 September 2026

.

Belajar dari Para Penulis Produktif

Oleh : Cahyadi Takariawan

“I prefer the morning now, and just for two or three hours. In the beginning I used to work after midnight until dawn, but that was in the very beginning” –Henry Miller.

.

Henry Miller adalah seorang penulis dan pelukis produktif asal Amerika. Karya-karya Miller yang mengungkap secara vulgar aspek seksualitas mengundang kontroversi, sehingga dilarang selama beberapa dekade di Amerika Serikat. Miller sering dijuluki sebagai seniman anarkhi kreatif, atas karya-karya yang cenderung memberontak terhadap berbagai kemapanan sosial dan budaya.

Pada tahun 1932, Henry Miller mengemukakan “11 komando” yang membuat dirinya bisa konsisten menulis pada jadwal kerja dan rutinitas harian selama bertahun-tahun. Sebelas “komando” Miller tersebut banyak memberi inspirasi kepada para penulis. Tentu saja tidak semua poin bisa ditiru dan dieksekusi.

Pilih saja yang cocok untuk masing-masing kita, tinggalkan yang tidak bisa kita lakukan. Karena kita akan selalu menemukan cara yang paling tepat untuk diri kita sendiri

Bukan Soal Banyaknya Waktu Menulis

“In the last ten or fifteen years, I’ve found that it isn’t necessary to work that much. It’s bad, in fact. You drain the reservoir” –Henry Miller.

Apakah untuk menjadi penulis hebat harus menghabiskan banyak waktu menulis setiap harinya? Ternyata bukan soal kuantitas –seberapa banyak waktu yang Anda gunakan untuk menulis. Namun soal konsistensi –bahwa Anda konsisten menulis setiap hari.

Dulu Henry Miller biasa menulis dari tengah malam hingga pagi hari. Ia menghabiskan waktu larut malam untuk menulis. Begadang hingga subuh. Ia benar-benar menguras energi dan perhatian yang besar guna menghasilkan karya tulis.

Namun seiring perjalanan waktu, ia menemukan ‘kebijaksanaan’ itu. Bahwa untuk menghasilkan karya berkualitas, tidak harus dengan menguras ‘reservoir’ Anda. Batasi waktu untuk menulis, namun Anda harus menulis dengan konsisten. Tidak perlu banyak waktu, namun jagalah rutinitas dan kontinuitas menulis.

Miller lebih suka menulis di pagi hari, sekitar dua hingga tiga jam setiap harinya. Ini mungkin jumlah yang banyak bagi Anda, namun tidak bagi Miller. Karena sebelum ini, Miller menghabiskan waktu lebih banyak lagi untuk menulis. Dari tengah malam hingga pagi hari, Mungkin sekitar enam jam. Jadi, dua hingga tiga jam ini adalah waktu yang muncul dari proses menemukan ‘kebijaksanaan’ –setelah menempuh pengalaman yang panjang.

“Saya lebih suka pagi hari sekarang, dan hanya untuk dua atau tiga jam. Pada awalnya saya bekerja setelah tengah malam sampai subuh, tetapi itu pada awalnya”, ujar Miller.

“Dalam sepuluh atau lima belas tahun terakhir, saya menemukan bahwa tidak perlu bekerja sebanyak itu”, ujar Miller. Inilah titik kebijaksanaan itu, bahwa ia tidak harus menguras tenaga untuk menghasilkan karya.

Bukan Soal Lamanya Waktu Menyelesaikan Buku

“I could never predict how long a book would take: even now when I set out to do something I couldn’t say. And it’s somewhat false to take the dates the author says he began and ended a book” –Henry Miller.

Ketika ditanya berapa lama dirinya menyelesaikan menulis sebuah buku? Miller menyatakan bahwa proses menulis buku hingga selesai  bukanlah bilangan yang pasti. Bukan soal hitung-hitungan matematika yang memiliki rumus baku.

“Saya tidak pernah bisa memprediksi berapa lama waktu yang dibutuhkan sebuah buku. Bahkan sekarang ketika saya mulai melakukan sesuatu –yang tidak bisa saya katakan. Dan adalah salah untuk mengambil tanggal yang dikatakan penulis bahwa dia memulai dan mengakhiri sebuah buku”, ujar Miller.

Jika saya mengatakan bahwa saya menyelesaikan menulis buku Wonderful Family dalam empat bulan, itu tidak bermakna bahwa sepanjang waktu empat bulan itu saya terus menerus bekerja untuk menulis buku. Pada kenyataannya, saya hanya menulis beberapa jam saja setiap harinya selama empat bulan tersebut.

“It doesn’t mean that he was writing the book constantly during that time… Well, it would be absurd to say that I’ve been working on it all this time. I haven’t even thought about it for years at a time. So how can you talk about it?” –Henry Miller.

Maka tidak bisa kita mengatakan bahwa sebuah buku yang ditulis dalam waktu satu bulan –misalnya, itu lebih cepat atau lebih lambat dengan buku yang ditulis dalam waktu empat bulan. Karena tergantung intensitas pengerjaannya. Apakah ia terus menerus tanpa henti selama satu bulan atau empat bulan itu menulis buku, tanpa mengerjakan aktivitas lainnya?

“Itu tidak berarti bahwa dia menulis buku terus-menerus selama waktu itu:, ujar Miller. “Adalah tidak masuk akal untuk mengatakan bahwa saya telah mengerjakannya selama waktu tertentu. Saya bahkan belum memikirkannya selama bertahun-tahun. Jadi bagaimana Anda bisa membicarakannya?” lanjutnya.

Menulis Dahulu, Edit Kemudian

“I never do any correcting or revising while in the process of writing. Let’s say I write a thing out any old way, and then, after it’s cooled off—I let it rest for a while, a month or two maybe—I see it with a fresh eye” –Henry Miller.

Salah satu teknik agar menulis dengan lancar dan mengurangi hambatan adalah dengan fokus menulis. Saat menulis, jangan melakukan editing apapun. Ketika menulis sambil mengedit, yang akan terjadi adalah proses waktu akan lebih lama.

“Saya tidak pernah melakukan koreksi atau revisi apapun selama proses penulisan. Katakanlah saya menulis sesuatu dengan cara lama, dan kemudian, setelah mendingin — saya membiarkannya beristirahat sebentar, satu atau dua bulan mungkin — saya melihatnya dengan mata segar”, ujar Miller.

“Then I have a wonderful time of it. I just go to work on it with the ax. But not always. Sometimes it comes out almost like I wanted it” –Henry Miller.

Kapan Miller mulai mengedit tulisan? Ia mencari momentum paling tepat. Bahkan terkadang ia hanya melihat selintas saja. “Kemudian saya memiliki waktu yang indah itu. Saya hanya pergi untuk mengerjakannya dengan kapak. Tapi tidak selalu. Kadang-kadang keluar hampir seperti yang saya inginkan”, ujar Miller.

Bagaimana dengan Anda? Selamat berkarya, selamat mengubah dunia.

Bahan Bacaan

George Wickes, Henry Miller, The Art of Fiction No. 28, 1962, https://www.theparisreview.org

1 thought on “Agar Selalu Produktif Menulis – 89

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *