19 September 2026

.

Belajar dari Para Penulis Produktif

Oleh : Cahyadi Takariawan

“Be natural my children. For the writer that is natural has fulfilled all the rules of art” –Charles Dickens.

.

Menulis adalah aktivitas kreatif, yang bercorak sangat dinamis. Pada dasarnya tidak ada satu cara atau teknik untuk produktif menulis yang bisa berlaku secara umum. Setiap penulis bisa memiliki cara dan teknik yang paling cocok untuk dirinya –yang bisa berbeda dengan orang lain.

Namun kita juga menyadari, tidak semua orang berbeda secara keseluruhannya. Selalu akan ditemukan orang-orang dengan sifat dan karakter yang sama atau hampir sama. Selalu ada orang-orang dengan situasi dan kondisi yang sama atau hampir sama. Untuk itu kita bisa saling belajar.

Salah satu tips untuk bisa produktif menulis, adalah dengan banyak belajar dari para penulis produktif. Mereka sudah terbukti memiliki banyak karya, maka kita belajar kepada mereka bagaimana bisa mendapatkan produktivitas dalam menulis. Tidak semua tips cocok untuk kita, namun akan ada hal yang bisa kita ambil sebagai inspirasi.

Kita batasi wilayah pembelajaran, hanya dalam konteks proses kreatif dan produktivitas menulis. Kita tidak sedang belajar atau mengadopsi ideologi, isme, keyakinan, ataupun ajaran. Kita tengah belajar tips kreatif dan produktif menulis.

Seri # 17 – Belajar Produktif dari Charles Dickens

Kali ini kita akan belajar dari Charles Dickens, seorang penulis yang produktif. Siapakah jati dirinya? Mari kita simak.

Charles John Huffam Dickens adalah sastrawan Inggris yang sangat peduli dengan nasib kaum pinggiran dan miskin. Dickens lahir pada 1812 dan wafat pada 1870. Karya sastra Dickens sarat kritik sosial namun dikemas dengan cara yang menyenangkan.

Sebelum menulis novel, Dickens pernah menjadi reporter, ilustrator, dan editor di London. Tahun 1837, novel berjudul Oliver Twist diterbitkan. Novel inilah yang mulai mengangkat nama Dickens hingga populer ke berbagai dunia.

Menuliskan Trauma dalam Sastra

Kejadian traumatis di masa lalu, sering kali mengganggu kehidupan seseorang di masa dewasanya. Tidak semua orang mampu mengatasi gangguan pasca trauma seperti ini. Bahkan banyak yang harus mengalami stres pasca trauma.

Bagi beberapa orang, peristiwa traumatis mampu mendewasakannya. Bahkan mereka bisa berdamai dengan masa lalu serta mengubahnya menjadi karya yang bermakna. Charles Dickens adalah salah satu dari mereka yang mampu menuangkan trauma menjadi karya sastra sarat makna.

Kemiskinan menjadi tema yang menjadi perhatiannya. Peristiwa kelam saat ia berusia 12 tahun selalu mengganggunya. Saat itu sang Ayah harus diseret ke penjara, dan Dickens dikeluarkan dari sekolah. Sebagai anak tertua, ia harus bekerja demi mencukupi kebutuhan harian adik-adiknya. Ia bekerja sebagai buruh pabrik.

Dalam novel Oliver Twist, Dickens bercerita tentang anak-anak yatim piatu di kota London yang terpaksa menjadi pencuri. Mereka tidak tahu cara lain untuk bertahan hidup, kecuali dengan mencuri. Kisah ini digunakan Dickens untuk melontarkan kritik terhadap pemerintah yang dinilainya abai pada kondisi masyarakat.

Pada tahun 1843, Dickens menerbitkan novel A Christmas Carol. Novel ini ditulis dalam waktu yang singkat, hanya 5 pekan saja. Novel yang memuat kritik sosial tentang kesulitan rakyat miskin Inggris saat itu, ternyata laku keras. Kembali Dickens melontarkan kritik atas minimnya perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan masyarakat.

Ini pelajaran berharga bagi kita semua. Terkadang ada orang mengutuk masa lalu. Ada pula orang yang terus menerus meratapi kemalangan yang pernah dialami. Namun itu tidak memberikan kemanfaatan apapun dalam kehidupannya di masa sekarang dan yang akan datang. Dickens memilih untuk menuliskannya.

Berlatar kepahitan hidup, ia menulis nasib orang-orang pinggiran yang kurang mendapat perhatiian. Ia melakukan advokasi dengan cara yang elegan. Ia menuturkan kejadian trauma dalam karya sastra yang memesona. Kejadian pahit masa lalu, diolah menjadi keberuntungan pada penggal kehidupan berikutnya.  

Memilih Sikap Alami

Proses kreatif dalam menulis adalah pilihan. Maka sangat banyak jenis karya fiksi, dari imajinasi para penulisnya. Dickens memiliki pilihan tersendiri dalam menciptakan karya. Ia menyebutnya sebagai pilihan natural atau alami.

J. Green dalam buku Famous Last Words Green menuturkan, sebelum meninggal dunia, Dickens sempat berpesan, “Be natural my children. For the writer that is natural has fulfilled all the rules of art.” Bersikaplah alami anakku. Karena penulis yang alami telah memenuhi semua aturan seni.”

Saya kira, yang dimaksud alami adalah sikap apa adanya, bersahaja, tidak sekedar membuat-buat cerita bombastis. Nyatanya Dickens cenderung menuliskan kritik sosial atas kondisi yang dilihat dan pernah dialaminya. Ia mengangkat realitas masyarakat, ia mendengar dan merasakan, kemudian ia menyuarakan.

Bahan Bacaan

Mayo Oshin, The Daily Routine of 20 Famous Writers (and How You Can Use Them to Succeed), 15 Agustus 2017, https://medium.com/

Nusantara News, Biografi Charles Dickens, Sastrawan Reformis Inggris yang Dicinta, https://nusantaranews.co, 10 Juni 2018

Surya Dipa Nusantara, Mengenang Charles Dickens, Sastrawan Inggris yang Menulis untuk Kaum Papa, https://www.mainmain.id, 7 Februari 2020

1 thought on “Agar Selalu Produktif Menulis – 72

  1. Berdamai dengan masa lalu yang tidak menyenangkan bagaikan membuka lumbung sampah. Namun dengan jiwa besar dan mengambil hikmahnya, menjadikan pelajaran dan motivasi kembali.
    Syukran katsira ustaz Cahyadi Takariawan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *