.
Belajar dari Para Penulis Produktif
Oleh : Cahyadi Takariawan
“Try to develop actual work habits, and even though you have a busy life, try to reserve an hour say–or more–a day to write” –John Updike.
.
John Hoyer Updike adalah seorang novelis, penulis puisi, penulis cerita pendek, serta kontributor The New Yorker. Dua karyanya mendapatkan penghargaan bergengsi Pulitzer untuk kategori fiksi. Di sepanjang hidupnya, Updike telah menerbitkan lebih dari 20 novel, belasan kumpulan cerita pendek, delapan volume buku kumpulan puisi, dan beberapa buku nonfiksi.
Pada beberapa postingan sebelumnya, sudah kita bahas tips produktif menulis dari John Updike. Kali ini saya tambahkan lagi tips produktif menulis dan Updike. Tentu saja tidak semua hal bisa ditiru. Pilih yang cocok untuk masing-masing kita, tinggalkan yang tidak bisa kita lakukan.
Memilih Kata dengan Cermat
“Writers take words seriously –perhaps the last professional class that does– and they struggle to steer their own through the crosswinds of meddling editors and careless typesetters and obtuse and malevolent reviewers into the lap of the ideal reader” –John Updike.
Kata-kata adalah media untuk menyampaikan pesan, gagasan, ide, perasaan kepada orang lain. Ketika kita menulis, memilih kata-kata adalah bagian yang harus dilakukan dengan cermat. Meskipun hanya menulis hal sederhana, namun ketepatan memilih kata, akan menjadi kekuatan dari pesan yang kita sampaikan.
“Penulis menganggap kata-kata dengan serius”, ujar Updike. Bagi penulis, kata-kata adalah senjata. Kata-kata adalah pedang yang bisa melukai, peluru yang bisa membunuh lawan, namun juga betadine yang mampu mengobati luka, antibiotik yang efektif untuk mengatasi infeksi. Kata-kata juga semacam vaksinasi agar seseorang bisa memiliki daya tahan terhadap virus media.
“Mungkin kelas profesional yang melakukannya”, ungkap Updike. Kelas profesional yang mengajarkan pemilihan kata-kata secara tepat. Yang mempertimbangkan segala aspek dan dampak dari pemilihan kata-kata tersebut. Yang mengajarkan perlunya menimbang dan memperhatikan kata-kata sebagai kekuatan. Tidak sekedar susunan dan tatabahasa, namun kecermatan menemukan kata-kata yang tepat.
Miliki Rutinitas Menulis
“Some very good things have been written on an hour a day. So, take it seriously, you know, just set a quota. Try to think of communicating with some ideal reader somewhere” –John Updike.
Sibuk dan tak punya waktu adalah dua kondisi yang sering dijadikan kambing hitam banyak orang untuk tidak menulis. Banyak orang menyatakan ingin menulis, ingin memiliki karya tulis, dan ingin mengembangkan profesi sebagai penulis. Namun mereka tidak segera melakukan tindakan menulis –dengan alsan kesibukan dan tak memiliki waktu lagi.
“Untuk para penulis muda, saya hanya ingin mengatakan, cobalah untuk mengembangkan kebiasaan menulis yang benar”, ujar Updike. “Meskipun Anda memiliki kehidupan yang sibuk, cobalah untuk menyisihkan satu jam sehari, atau lebih, untuk menulis.”
Jika menuruti kesibukan, tidak ada orang zaman sekarang merasa tidak sibuk. Jika menuruti banyaknya agenda, terlalu banyak tawaran agenda untuk dilakukan di zaman cyber ini. Setiap detik tawaran berkegiatan melintas di gadget kita. Tanpa kedisplinan menetapkan waktu menulis, Anda akan larut dalam hiruk pikuk dan keramaian tawaran acara.
“Beberapa tema yang sangat baik telah ditulis (menjadi buku) dalam satu jam sehari”, ungkap Updike. “Atur saja kuota menulis Anda”, sambungnya. Ini sebuah ajakan menarik. Tanpa harus mengalokasikan banyak waktu setiap hari –cukup satu jam sehari untuk menulis, bisa menghasilkan buku-buku dan karya bermutu.
Mengembangkan Potensi Menulis
“Don’t be content just to call yourself a writer and then bitch about the crass publishing world that won’t run your stuff” –John Updike
Untuk menjadi penulis produktif, kembangkanlah potensi Anda. Jangan hanya ‘sekedar’ rutin menulis. Lakukan hal-hal lain yang semakin menguatkan jati diri Anda sebagai penulis. Ada sangat banyak hal bisa dilakukan untuk maksud ini.
“Coba pikirkan untuk berkomunikasi dengan pembaca di suatu tempat”, ujar Updike. Misalnya kita bertemu dengan para pembaca dan berkomunikasi dengan mereka. Tentu akan sangat banyak masukan kita dapatkan dari para pembaca.
“Cobalah untuk masuk ke media cetak”, sambung Updike. Ini juga bagian dari pengembangan potensi kepenulisan. Jika selama ini rutin menulis untuk media sosial atau media online, cobalah masuk ke media cetak. Mengirim tulisan ke koran, majalah atau menerbitkan tulisan menjadi buku.
“Jangan puas hanya dengan menyebut diri Anda seorang penulis dan kemudian mengeluh tentang dunia penerbitan yang buruk”, ungkap Updike. “Kita adalah negara kapitalis, dan menulis –sampai tingkat tertentu, adalah perusahaan kapitalis, ketika bukan dosa total untuk mencoba mencari nafkah dan menarik audiens”.
“Don’t be content just to call yourself a writer and then bitch about the crass publishing world that won’t run your stuff” –John Updike.
“Baca apa yang membuat Anda bersemangat –nasihat seperti ini, bahkan jika Anda tidak menirunya, Anda akan belajar darinya”, lanjut Updike.
Bagaimana dengan Anda? Selamat berkarya, selamat mengubah dunia.
Bahan Bacaan
A Writers Den, John Updike, https://awritersden.wordpress.com, 20 Desember 2017
Mayo Oshin, The Daily Routine of 20 Famous Writers (and How You Can Use Them to Succeed), https://medium.com, 15 Agustus 2017
Sam Tanenhaus, John Updike’s Archive: A Great Writer at Work, https://www.nytimes.com, 20 Juni 2010

Motivasi yang sangat bagus sekali. Sukran katsira atas ilmu kepenulisannya ustaz Cahyadi Takariawan.