19 September 2026

.

Belajar dari Para Penulis Produktif

Oleh : Cahyadi Takariawan

“It’s always a push to get up the stairs, to sit down and go to work. You’d rather do almost anything, read the paper again, write some letters, play with your old dust jackets, any number of things you’d rather do than tackle that empty page” –John Updike.

.

John Hoyer Updike adalah seorang novelis, penulis puisi, penulis cerita pendek, serta kontributor The New Yorker. Dua karyanya mendapatkan penghargaan bergengsi Pulitzer untuk kategori fiksi. Di sepanjang hidupnya, Updike telah menerbitkan lebih dari 20 novel, belasan kumpulan cerita pendek, delapan volume buku kumpulan puisi, dan beberapa buku nonfiksi. 

Pada postingan sebelumnya, sudah kita bahas tips produktif menulis dari John Updike. Kali ini saya tambahkan lagi tips produktif menulis dan Updike. Tentu saja tidak semua hal bisa ditiru. Pilih yang cocok untuk masing-masing kita, tinggalkan yang tidak bisa kita lakukan.

Pentingnya Memahami Tata Bahasa

“She parsed sentences on the blackboard and gave me, I’d like to think, some sense of English grammar and that there is a grammar, that those commas serve a purpose and that a sentence has a logic, that you can break it down” –John Updike.  

Menulis adalah proses kreatif yang kompleks. Di dalamnya, ada muatan pelajaran ketatabahasaan yang tidak bisa ditinggalkan –meskipun juga tidak boleh membelenggu. Sangat penting bagi para penulis untuk mempelajari tata bahasa serta pedoman berbahasa. Hal ini semacam kita mengetahui rambu-rambu lalu lintas di jalan raya.

Namun, aturan ketatabahasaan tidak boleh membelenggu kreativitas dan produktivitas. Penulis pemula bisa ketakutan untuk membuat karya tulis –jika kedua tangannya diikat oleh sejumlah aturan kaku. Ada rasa takut salah, melanggar kaidah, melanggar aturan ketatabahasaan. Ini membuatnya tidak leluasa, bahkan tidak berani berkarya.

Pada dasarnya semua pelajaran tata bahasa –di Indonesia, pernah kita pelajari di bangku Sekolah dasar hingga Sekolah Menengah Atas. Maka bekal-bekal dasar ketatabahasaan sebenarnya sudah kita mengerti. Hanya saja, mungkin pengetahuan kita tidak mendetail, hanya mengerti permukaan. Tentu tidak masalah, karena kita terus menerus bisa belajar dan menambah pengetahuan ketatabahasaan sembari membuat karya.

John Updike merasa sangat terinspirasi oleh guru bahasa Inggris yang mengajar dirinya di sekolah. “Saya ingat seorang guru bahasa Inggris di kelas delapan, Florence Schrack, yang suaminya juga mengajar di sekolah menengah. Saya pikir apa yang dia katakan masuk akal”, ungkap Updike.

“Dia menguraikan kalimat di papan tulis dan mengajari saya. Dari pelajaran itu saya mengerti beberapa bagian tata bahasa –dan bahwa ada tata bahasa, bahwa koma itu memiliki tujuan dan bahwa sebuah kalimat memiliki logika, juga bahwa Anda dapat memecahnya”, kenangnya.

“I’ve tried not to forget those lessons, and to treat the English language with respect as a kind of intricate tool” –John Updike.

 “Saya berusaha untuk tidak melupakan pelajaran itu, dan memperlakukan bahasa dengan hormat sebagai semacam alat yang rumit”, ujar Updike. Ia mengingatkan kita semua tentang pentingnya mengerti tata bahasa, dan menghormati bahasa sebagai alat untuk mengemukakan ide.

Usaha Mengatasi “Halaman Kosong”

“Because what you do on the page is you, your ticket to all the good luck you’ve enjoyed” –John Updike.

Di antara persoalan penulis pemula adalah sering menghadapi “halaman kosong”. Saat membuka laptop, tidak bisa segera menemukan ide untuk ditulis. Dampaknya, beberapa menit hanya terpaku diam di depan halaman kosong. Belum ada kata, belum ada kalimat, belum ada paragraf yang mengisi halaman.

Permasalahannya, banyak orang tidak sungguh-sungguh berusaha mengisinya. Bahkan sebagian orang lebih suka melakukan hal-hal lain, dibandingkan harus mengupayakan mengisi halaman kosong tersebut. Inilah yang diingatkan oleh Updike –bahwa semestinya kita harus lebih peduli mengisi kekosongan tersebut.

“Selalu ada dorongan untuk menaiki tangga, duduk dan bekerja”, ujar Updike. “(Sayangnya) Anda lebih suka melakukan hampir semua hal, seperti membaca koran, menulis beberapa email, bermain dengan jaket lama Anda, dan banyak hal lain yang lebih suka Anda lakukan daripada mengisi halaman kosong itu”, ungkapnya.

Padahal sebagai penulis, kemampuan mengisi halaman kosong adalah kunci produktivitas. “Apa yang Anda lakukan di halaman kosong itu adalah jiwa Anda, tiket untuk semua keberhasilan yang bisa Anda nikmati”, lanjutnya.

Jika Anda membiarkannya kosong, tidak akan ada produktivitas terlahir dari diri Anda. Tidak akan ada karya berhasil Anda selesaikan. Selamanya akan tetap menjadi halaman kosong, sampai Anda mengisinya dengan kata-kata bermakna.

Anda tidak boleh membiarkan halaman itu kosong. Jangan mengalihkan perhatian dengan mengerjakan hal-hal lain –yang berdampak semakin membuat Anda tidak akan bisa menyelesaikannya. Segera tuliskan ide, pikiran, perasaan, pengalaman, harapan, dan berbagai kata hati Anda. Penuhi halaman demi halaman, menjadi karya yang mencerahkan.

Bagaimana dengan Anda? Selamat berkarya, selamat mengubah dunia.

Bahan Bacaan

A Writers Den, John Updike, https://awritersden.wordpress.com, 20 Desember 2017

Mayo Oshin, The Daily Routine of 20 Famous Writers (and How You Can Use Them to Succeed), https://medium.com, 15 Agustus 2017

Sam Tanenhaus, John Updike’s Archive: A Great Writer at Work, https://www.nytimes.com, 20 Juni 2010

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *