19 September 2026

.

Belajar dari Para Penulis Produktif

Oleh : Cahyadi Takariawan

“Never underestimate the meanness in people’s souls… Even when they’re being kind… especially when they’re being kind” –Alice Munro.

.

Alice Munro adalah penulis fiksi produktif dan penerima penghargaan Nobel bidang sastra tahun 2013. Munro terkenal dengan gaya tulisan yang sederhana dan bersahaja. Mayoritas karya tulisnya berupa cerita pendek, namun dengan ukuran yang panjang untuk setiap cerpennya.

Pada beberapa postingan sebelumnya, sudah kita bahas tips produktif menulis dari Alice Munro. Kali ini saya tambahkan lagi tips produktif menulis dan Munro. Tentu saja tidak semua hal bisa ditiru. Pilih yang cocok untuk masing-masing kita, tinggalkan yang tidak bisa kita lakukan.

Ide Cerita Bisa Dari Apa Saja

Bagi penulis, ide cerita atau tema bisa beral dari apa saja. Segala sesuatu bisa menjadi ide tulisan, baik fiksi maupun nonfiksi. Maka sebenarnya kita tidak akan pernah kehabisan ide menulis. Setiap peristiwa, setiap kejadian, setiap perasaan, setiap pemikiran, semua bisa menjadi bahan tulisan.

“Dalam cerita pendek saya yang berjudul Thanks for the Ride, saya mengambil sudut pandang seorang pemuda kota yang sombong. Di dalam cerita, pemuda itu mengajak jalan seorang gadis miskin dan akhirnya menidurinya. Pemuda tersebut merasakan konflik emosi, antara daya tarik terhadap gadis tadi serta kejijikan terhadap kondisi ekonomi gadis itu”, ungkap Alice Munro.

Dari mana ia mendapatkan ide untuk menulis cerpen tersebut? “Cerita tersebut saya tulis saat kehidupan saya sudah cukup mapan”, lanjur Munro. “Berawal dari kunjungan teman suami saya di musim panas, ketika saya tengah mengandung anak pertama. Teman suami menginap di rumah kami selama seminggu”.

“Dia bekerja di Badan Pengkajian Film Nasional. Saat itu dia sedang ditugaskan untuk mengawasi proses syuting film di Kanada. Dia banyak bercerita saat menginap di rumah kami—anekdot ini itu tentang kehidupan”, ungkap Munro.

“Salah satu ceritanya adalah tentang pengalaman berada di sebuah kota kecil di Georgian Bay, dan bagaimana dia mengencani seorang gadis lokal di sana. Pengalaman itu sangat singkat: tentang hubungan antara seorang pemuda kelas menengah ke atas dan seorang gadis dari kalangan menengah ke bawah”, kenang Munro.

“Karakter gadis ini sangat familiar buat saya, tapi tidak familiar untuk teman suami saya. Maka saya merasa teramat dekat dengan karakter gadis itu serta keluarga dan situasinya. Saya menulis cerita Thanks for the Ride tidak lama setelah kunjungan itu”, lanjutnya.

Lihatlah betapa sederhana Munro mendapat ide untuk menulis sebuah cerita. Hanya karna mendengar cerita dari teman suami yang berkunjung di rumahnya, ia langsung menangkapnya menjadi ide menulis. Jadi, tidak perlu mencari-cari ide ke tempat yang jauh. Bahkan ide bisa mendatangi kita setiap hari, dari kemampuan mencermati kejadian sehari-hari.

Dinamisnya Kerangka Cerita

Dalam tradisi penulisan fiksi, imajinasi adalah kekuatan yang sangat dahsyat. Maka imajinasi sering kali tidak bisa dibatasi oleh outline, kerangka, plot, alur atau apapun namanya. Menulis cerita fiksi lebih leluasa jika membebaskan imajinasi bekerja secara bebas, tidak dalam batas-batas plot cerita yang kaku.

“Dalam menulis cerita, saya jarang sekali mengetahui detail plot yang akan terjadi”, ujar Munro. Ia tidak perlu membuat plot cerita secara detail dari awal, untuk menulis setiap cerita.

“Bagi saya cerita yang baik selalu mengalami perubahan saat masih dalam proses penulisan”, sambung Munro. “Contohnya, saat ini saya sedang memulai sebuah cerita. Saya menulisnya setiap pagi dan buat saya cerita ini sudah tampak cukup rapi. Tapi saya belum begitu menyukainya; dan saya berharap, entah kapan, saya akan mulai menyukainya”, lanjutnya.

“Biasanya saya harus mengenal cerita yang hendak saya sampaikan sebelum saya mulai menuliskannya”, ujarnya. “Ketika saya tidak punya jadwal menulis yang tetap, saya terbiasa memikirkan cerita yang ingin saya sampaikan di kepala—maka saat saya menulisnya, saya sudah mengenal betul setiap elemen dalam cerita itu. Sekarang saya menuliskan hal-hal tersebut di sebuah buku catatan”, ungkap Munro.

“Saya punya banyak sekali buku catatan berisi tulisan yang semrawut. Saya tidak perduli apa yang saya tulis di dalamnya, karena intinya saya hanya ingin menulis bebas”, ungkapnya. Ia biasa membuat coretan bebas tentang cerita yang hendak ia tulis. Coretan itu untuk menstrukturkan ide yang melintas, agar siap dibentuk menjadi cerita.

“Saya bukan penulis yang bisa menulis kilat dan menyelesaikan sebuah cerita hanya dengan satu draft saja. Biasanya saya akan melintasi jalur yang salah, sebelum akhirnya saya harus kembali ke titik awal dan memulai perjalanan cerita itu kembali”, ungkap Munro.

Di antara pelajaran penting dari cara Munro menulis cerita adalah, tidak perlu tergesa-gesa. Nikmati proses menulis, cermati alur cerita, bagian demi bagian. Adakah bagian yang belum sesuai keinginan. Buang bagian yang tidak sesuai, tulis lagi draf cerita yang lebih sesuai. Sabar, teliti, nikmati, tidak sekedar kejar tayang.

Bagaimana dengan Anda? Selamat berkarya, selamat mengubah dunia.

Bahan Bacaan

Brian Rowe, 5 Quotes by Alice Munro to Make You a Better Writer, https://medium.com, 31 Maret 2020

Jeanne McCulloch & Mona Simpson, Alice Munro : The Art of Fiction No. 137, https://www.theparisreview.org, Issue 131, Summer 1994

Mayo Oshin, The Daily Routine of 20 Famous Writers (and How You Can Use Them to Succeed), 15 Agustus 2017, https://medium.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *