19 September 2026

.

Belajar dari Para Penulis Produktif

Oleh : Cahyadi Takariawan

“Naturally my stories are about women — I’m a woman” –Alice Munro.

.

Alice Munro adalah penulis fiksi produktif dan penerima penghargaan Nobel bidang sastra tahun 2013. Munro terkenal dengan gaya tulisan yang sederhana dan bersahaja. Mayoritas karya tulisnya berupa cerita pendek, namun dengan ukuran yang panjang untuk setiap cerpennya.

Pada beberapa postingan sebelumnya, sudah kita bahas tips produktif menulis dari Alice Munro. Kali ini saya tambahkan lagi tips produktif menulis dan Munro. Tentu saja tidak semua hal bisa ditiru. Pilih yang cocok untuk masing-masing kita, tinggalkan yang tidak bisa kita lakukan.

Memanfaatkan Instink Perempuan

“I didn’t really like Faulkner that much. I loved Eudora Welty, Flannery O’Connor, Katherine Ann Porter, Carson McCullers. There was a feeling that women could write about the freakish, the marginal” –Alice Munro.

Sebagai perempuan, Munro tampak memanfaatkan potensi diri sebagai perempuan. Ada kehalusan rasa, ada sensitivitas yang unik dan khas pada perempuan, dalam memandang sesuatu. Tentu berbeda dengan cara pandang laki-laki. Ini disadari sepenuhnya oleh Munro.

“Tentu saja cerita saya adalah tentang perempuan — saya seorang perempuan”, ungkap Munro. Ini memberikan gambaran bahwa menulis yang sesuai jati dirinya akan lebih mudah dan lebih memberikan kekuatan nilai. Sebagai perempuan, lebih mudah baginya menulis tentang keseharian perempuan. Sebab ia menjalani hidup sebagai perempuan.

“Tanpa saya sadari, bahwa semua penulis (Selatan) yang sangat saya sukai adalah perempuan”, ujar Munro. “Saya tidak terlalu menyukai Faulkner (laki-laki). Saya menyukai Eudora Welty, Flannery O’Connor, Katherine Ann Porter, Carson McCullers. Ada perasaan bahwa perempuan bisa menulis tentang hal yang aneh, yang marginal”, lanjutnya.

Munro mengaku nge-fans dengan penulis perempuan. Mungkin karena tema-tema pembelaan terhadap perempuan dalam tulisannya, ia sering dituduh sebagai feminis. “Saya tidak selalu yakin apa yang dimaksud dengan ‘feminis’. Pada awalnya saya biasa mengatakan, ya, tentu saja saya seorang feminis. Tetapi jika itu berarti saya mengikuti semacam teori feminis, atau tahu apa-apa tentang itu, maka saya tidak”, jawab Munro.

Yang jelas Munro melihat umumnya perempuan mampu menulis hal-hal yang aneh dan hal yang marginal. “There was a feeling that women could write about the freakish, the marginal”, ujarnya. Munro pandai memanfaatkan potensi dirinya sebagai perempuan untuk menciptakan karya dalam sudut pandang perempuan.

Memanfaatkan Kekuatan Ingatan

“I have never kept diaries. I just remember a lot and am more self-centered than most people” –Alice Munro.

Ingatan merupakan salah satu potensi yang bisa dimanfaatkan oleh penulis untuk mengungkapkan kejadian atau peristiwa, juga data dan realita. Semakin bagus ingatan penulis, semakin banyak ia mampu menuliskan hal berbobot.

Baik jenis tulisan fiksi maupun nonfiksi, kekuatan ingatan sangat membantu penulis dalam mengolah karya. Apalagi ketika bercerita melalui tulisan, seperti yang dilakukan Munro.

“Saya tidak pernah membuat buku harian”, ungkap Munro. “Saya hanya ingat banyak, dan saya lebih egois daripada kebanyakan orang”, tambahnya. Tanpa harus mencatat segala sesuatu pada buku harian, Munro bisa mengungkap banyak hal dalam tulisan.

Ia membongkar memorinya untuk menemukan bagian-bagian yang diperlukan untuk menyusun ceritanya. Dengan ingatan yang bagus, Munro bisa mengurai cerita-cerita keseharian dengan leluasa. Ada gambaran yang jelas dan kuat terayang dalam benaknya, ingatan-ingatan tentang kejadian, peristiwa dan suasana.

Saat Harus Menyunting Tulisan

“I see a little bit of writing that doesn’t seem to be doing as much work as it should be doing, and right at the end I will sort of rev it up. But when I finally read the story again it seems a bit obtrusive … There should be a point where you say, the way you would with a child, this isn’t mine anymore” –Alice Munro.

Bagaimana perasaan Anda ketika harus membuang tulisan? Bagaimana perasaan Anda saat mengedit tulisan dan menemukan bahwa ada bagian yang tidak seharusnya ada? Kadang kita memutuskan harus membuang, namun ada rasa sayang. Hanya saja jika bagian itu dipertahankan, terasa mengganggu.

“Saya sudah sering melakukan revisi pada suatu tahap yang ternyata salah, karena saya sudah tidak terlalu mengikuti ritme cerita lagi”, ujar Munro. “Saya melihat bagian tulisan yang sepertinya tidak berfungsi sebagaimana mestinya, dan tepat di bagian akhir saya akan memperbaikinya”, lanjutnya.

“Tetapi ketika saya akhirnya membaca cerita itu lagi, sepertinya agak mengganggu”, ungkapnya. “Seharusnya ada titik di mana Anda berkata, seperti yang Anda lakukan dengan seorang anak, ini bukan milik saya lagi”, lanjut Munro.

Intinya, relakan, ikhlaskan, bagian yang harus dibuang. Jangan merasa sayang, karena jika dipertahankan justru mengganggu dan bisa merusak cerita.

Bagaimana dengan Anda? Selamat berkarya, selamat mengubah dunia.

Bahan Bacaan

Jennifer Fernandez, Writing Advice From Alice Munro, https://www.writeordietribe.com, 9 November 2020

Keith Wagstaff, Alice Munro: 7 Insights on Writing from the Nobel Prize Winner, https://theweek.com, 9 Januari 2015

Mayo Oshin, The Daily Routine of 20 Famous Writers (and How You Can Use Them to Succeed), 15 Agustus 2017, https://medium.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *