.
Belajar dari Para Penulis Produktif
Oleh : Cahyadi Takariawan
“Why do I like to write short stories? Well, I certainly didn’t intend to. I was going to write a novel. And still! I still come up with ideas for novels. And I even start novels. But something happens to them. They break up. I look at what I really want to do with the material, and it never turns out to be a novel” –Alice Munro.
.
Alice Munro adalah penulis fiksi produktif dan penerima penghargaan Nobel bidang sastra (2013). Munro terkenal dengan gaya tulisan yang sederhana dan bersahaja. Mayoritas karya tulisnya berupa cerita pendek, namun dengan ukuran yang panjang untuk setiap cerpennya.
Pada beberapa postingan sebelumnya, sudah kita bahas tips produktif menulis dari Alice Munro. Kali ini saya tambahkan lagi tips produktif menulis dan Munro. Tentu saja tidak semua hal bisa ditiru. Pilih yang cocok untuk masing-masing kita, tinggalkan yang tidak bisa kita lakukan.
Menulis Sesuai Minat dan Kecenderungan
“Your story idea should tell you how long it wants to be, so embrace whatever length that next narrative of yours is intended to be” –Brian Rowe, 2020.
Bisa jadi kita ingin bisa menulis segala sesuatu. Ingin mahir menulis novel, ingin pandai membuat puisi, ingin cakap membuat artikel, dan sebagainya. Namun realitasnya, kita bukan superman atau superwoman dalam dunia penulisan –yang bisa segala sesuatu. Pasti kita memiliki keterbatasan.
Penulis yang serba bisa, mungkin ada namun sangat sedikit jumlahnya. Ini termasuk kategori ‘unicorn’ yang langka. Umumnya kita hanya akan menguasai pada satu atau dua jenis tulisan. Maka tulis saja sesuai dengan minat dan kecenderungan masing-masing.
Jika sangat banyak orang gandrung dengan fiksi, bukan berarti Anda harus menjadi penulis fiksi. Pun jika ada sangat banyak orang gandrung dengan nonfiksi, bukan berarti Anda harus menjadi penulis nonfiksi. Menulis fiksi atau nonfiksi adalah pilihan. Kita tidak harus ahli dan mahir pada keduanya.
Pada awalnya, Munro juga ingin menulis novel. Namun ada ‘sesuatu’ dengan naskah novelnya, yang akhirnya lebih patut untuk menjadi sebuah cerita pendek. “Mengapa saya suka menulis cerita pendek? Yah, tentu saja saya tidak berniat”, ujar Munro.
“Saya ingin menulis novel, dan masih ingin! Saya punya ide untuk novel, bahkan telah memulai menulis novel. Tapi sesuatu terjadi pada naskah itu. Mereka putus”, ungkap Munro. Ini adalah sebuah pengakuan jujur yang menunjukkan bahwa sebenarnya Munro juga memiliki keinginan membuat novel.
“Saya melihat apa yang sebenarnya ingin saya lakukan dengan materi itu, dan itu tidak pernah menjadi novel”, ujar Munro. Apapun alasannya, yang jelas Munro tidak menulis novel. Dalam bahasa yang paling sederhana, minat dan kecenderungan Munro adalah pada cerita pendek. Bukan pada novel.
Menikmati “Aliran” Kecenderungan
“You might not want to take a big chance on a novel for six months or longer, but you can certainly take a big chance on a short story that only takes you two weeks to write” –Brian Rowe, 2020.
Dalam diri Munro, mengalir kecenderungan cerpen. Bukan novel. Maka ia cenderung menikmati aliran kecenderungan dalam dirinya. Ia memilih untuk tidak memaksa diri memenuhi keinginan publik tentang penulisan novel. Itu bukan minatnya, itu bukan kecenderungannya.
Mengomentari ungkapan Munro tersebut, Brian Rowe (2020) menyatakan, “Saya pernah menulis cerita pendek, yang menggelembung dari lima ribu kata menjadi lima belas ribu kata dan kemudian berkembang menjadi novel”. Apakah tindakan Rowe salah? Tentu saja tidak. Ia mampu mengembangkan cerpen menjadi novel.
“Saya pernah menulis cerita pendek singkat, yang akhirnya menjadi raksasa tujuh ribu kata”, ujar Rowe. “Sedangkan Munro, ia duduk untuk menulis novel, namun kemudian menemukan bahwa narasinya bekerja lebih baik dalam format cerita pendek. Tidak ada yang salah dengan itu”, lanjutnya.
Rowe menyarankan agar kita bisa menentukan, seberapa panjang cerita Anda seharusnya kita buat. Tidak semua kisah harus menjadi novel. Ada banyak jenis cerita yang lebih tepat untuk ditulis dalam format pendek, seperti cerpen. “Manfaatkan format cerita pendek untuk bereksperimen dan mencoba genre baru dan cara penulisan baru”, ujar Rowe.
Untuk membuat sebuah novel yang terdiri 50.000 kata, Anda harus menginvestasikan waktu berpekan-pekan hingga berbulan-bulan. Dalam format cerita pendek, Anda hanya perlu menginvestasikan waktu beberapa jam atau beberapa hari saja. Pilihan novel atau cerpen, tentu menjadi tantangan yang mengasyikkan apabila memang menjadi minat dan kecenderungan Anda.
“I think it’s important as a writer to designate how long your story should be. Not everything should be a novel. And there are certainly many kinds of stories meant to be written in a shorter format” –Brian Rowe, 2020.
Tentu tidak akan menjadi masalah bagi Anda untuk menginvestasikan wakti berbulan-bulan untuk menulis sebuah novel. Seperti Haruki Murakami atau Maya Angelou yang menulis novel selama enam bulan hingga satu tahun. Maka Murakami menyatakan proses menulis seperti sebuah pelajaran survival di alam.
Namun Munro memilih untuk menikmati aliran kecenderungan dirinya. Novel bukan kecenderungannya. Maka saat menulis novel, ia tetap menemukan format yang lebih sesuai dengan kecenderungan dirinya –yaitu cerpen. Toh melalui cerpen inilah Munro mendapatkan penghargaan internasional, Nobel bidang sastra.
Bahan Bacaan
Brian Rowe, 5 Quotes by Alice Munro to Make You a Better Writer, https://medium.com, 31 Maret 2020
Mayo Oshin, The Daily Routine of 20 Famous Writers (and How You Can Use Them to Succeed), 15 Agustus 2017, https://medium.com/
