19 September 2026

.

Belajar dari Para Penulis Produktif

Oleh : Cahyadi Takariawan

“I’ve got to make, to build up, a house, a story, to fit around the indescribable ‘feeling’ that is the soul of the story” –Alice Munro.

.

Alice Munro adalah penulis fiksi produktif dan penerima penghargaan Nobel bidang sastra. Munro terkenal dengan gaya tulisan yang sederhana dan bersahaja. Mayoritas karya tulisnya berupa cerita pendek, namun dengan ukuran yang panjang untuk setiap cerpennya.

Pada beberapa postingan sebelumnya, sudah kita bahas tips produktif menulis dari Alice Munro. Kali ini saya tambahkan lagi tips produktif menulis dan Munro. Tentu saja tidak semua hal bisa ditiru. Pilih yang cocok untuk masing-masing kita, tinggalkan yang tidak bisa kita lakukan.

Memulai Dari Kedalaman Perasaan

“So when I write a story I want to make a certain kind of structure, and I know the feeling I want to get from being inside that structure” –Alice Munro.  

Munro terkenal sebagai penulis cerpen yang sederhana namun penuh makna. Ia menyatakan, menulis cerita itu bukan seperti jalan (lempang) yang bisa dilalui dan mencapai titik tertentu. Namun cerita itu lebih mirip seperti sebuah rumah.

“Semua orang tahu apa yang diberikan oleh sebuah rumah”, ujar Munro. “Bagaimana ia menutup ruang dan membuat hubungan antara satu ruang tertutup dengan ruang yang lain; serta menyajikan apa yang ada di luar dengan cara baru,” lanjutnya.

Karakter sebuah jalan, cenderung melelahkan. Namun karakter sebuah rumah, cenderung membangun kenyamanan. Ada perasaan (feeling) tertentu yang bisa kita dapatkan dari rumah. “Ketika menulis sebuah cerita, saya ingin membuat jenis struktur tertentu, dan saya tahu perasaan yang ingin saya dapatkan dari berada di dalam struktur itu”, ujarnya.

Untuk itu, Munro tidak menciptakan plot ataupun kerangka cerita. Ia cenderung menikmati suasana, dengan sepenuh perasaan. Bukan menciptakan kerangka yang kaku. “Tidak ada ‘cetak biru’ untuk struktur itu”, ungkapnya. Dalam membuat cerpen, ia tidak terikat dengan ‘cetak biru’ yang bercorak seperti karakter sebuah jalan.

Sebab, saat menulis cerita, ia seperti membangun sebuah rumah. “Saya harus membangun sebuah rumah, sebuah cerita, untuk menyesuaikan dengan ‘perasaan’ yang tak terlukiskan –yang merupakan jiwa dari cerita”, lanjutnya. Kira-kira, Munro tengah membayangkan ‘rumah seperti apa yang paling nyaman untuk mewadahi cerita ini?’

“As a former professor, I often start my stories by asking what the lesson is that I’m trying to teach or what’s the issue I’m trying to address. But as it turns out, those are the wrong questions to ask as they often lead to heavy-handed stories, houses that feel like the walls are closing in on you” –Alice Munro.  

Cerita akan hidup, tidak semata dengan logika. “Sebagai mantan guru besar, saya sering memulai cerita dengan menanyakan pelajaran apa yang akan saya ajarkan, atau masalah apa yang hendak saya atasi”, ujarnya. “Tapi ternyata itu adalah pertanyaan yang salah untuk diajukan”, lanjut Munro, “karena sering kali mengarah pada cerita yang berat, rumah yang terasa seperti tembok yang mendekati Anda”.

Dengan penggambaran itu, cerpen yang ditulis Munro berkarakter seperti sebuah rumah. “Anda ingin berpindah dari kamar ke kamar, melihat perabotan, dan memperhatikan suara papan lantai yang berderit. Ada tekstur dan aroma –karena ia mulai dengan bertanya, perasaan apa ingin saya sampaikan agar dimiliki pembaca?” (Fernandez, 2020).

Temukan “Adegan Rahasia”

“Open secrets” is “about” a girl who disappears on an overnight camping trip, and the ripples set up in the community by her disappearance. There you have the central incident, the “what happens” of the story” –Alice Munro.   

Setelah menemukan perasaan yang ingin Anda hadirkan, mungkin Anda berpikir bahwa langkah selanjutnya adalah mencari tahu tentang isi ceritanya (Fernandez, 2020). Namun Munro menemukan adanya ‘adegan rahasia’, yaitu adegan yang mengungkap esensi cerita.

Sebagaimana penggambaran sebuah rumah, ada berbagai detail yang ditampakkan sebagai satu kesatuan rumah. Ada fungsi, ada suasana, ada rasa. Seseorang yang masuk ke dalam rumah ingin mengetahui apa yang di balik tembok, apa yang di dalam kamar, apa yang ada di dapur, apa yang ada di gudang.

Menurut Munro, ini adalah adegan yang tidak bisa ditinggalkan, karena tanpanya cerita menjadi terasa kosong. Dia menyebut adegan ini sebagai “the secret of the story” atau rahasia cerita. “Misalnya tentang seorang gadis yang menghilang dalam perjalanan berkemah semalam, dan riak-riak yang muncul di komunitas karena kepergiannya. Di sana Anda memiliki insiden sentral, ‘apa yang terjadi’ dari cerita tersebut”, ujar Munro.

“Tetapi adegan yang tidak bisa saya lakukan tanpanya, adegan yang tampaknya memegang kunci paling penting dari cerita –tidak harus plot, adalah adegan di halaman belakang, dengan seekor anjing”, tambahnya.

Munro menyatakan bahwa seringkali adegan rahasia itu ada sejak awal, tidak dipaksakan di bagian belakang cerita. Adegan rahasia ini ditemukan saat menciptakan cerita. Ditemukan dalam prosesnya.

Selamat berkarya, selamat menuliskan cerita.

Bahan Bacaan

Jeanne McCulloch & Mona Simpson, Alice Munro : The Art of Fiction No. 137, https://www.theparisreview.org, Issue 131, Summer 1994

Jennifer Fernandez, Writing Advice From Alice Munro, https://www.writeordietribe.com, 9 November 2020

Mayo Oshin, The Daily Routine of 20 Famous Writers (and How You Can Use Them to Succeed), 15 Agustus 2017, https://medium.com

1 thought on “Agar Selalu Produktif Menulis – 42

  1. Menulis cerita detail di ibaratkan sebuah rumah beserta perabot dan penghuninya. Menulis cerita yang tidak menantang cenderung karakter sebuah jalan yang melelahkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *