19 September 2026

.

Belajar dari Para Penulis Produktif

Oleh : Cahyadi Takariawan

“I don’t need a library or a typewriter. Instead, I need to approach my desk each morning with the joy Bradbury felt about his beloved libraries” –Sue Weems, 2021.

.

Ray Douglas Bradbury (1920 –2012) adalah penulis Amerika yang terkenal karena cerita pendek dan novelnya yang sangat imajinatif. Ia mampu memadukan gaya fiksi, kritik sosial, ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pada beberapa postingan sebelumnya, sudah kita bahas beberapa tips produktif menulis dari Bradbury. Kali ini saya tanbahkan lagi tips produktif menulis dan Ray Bradbury.

Tentu saja tidak semua hal bisa ditiru. Pilih yang cocok untuk masing-masing kita, tinggalkan yang tidak bisa kita lakukan.

Konsistensi Menulis Setiap Hari

“I’ll admit it’s a little intimidating that Bradbury finished his book in two nine-day sprints. That means he wrote an average of 2,800 words a day. The ticking clock of paid typewriter time probably also spurred him to a quicker pace” –Sue Weems, 2021.

Bradbury memang penulis penuh waktu. Ia menggunakan sebagian besar waktunya untuk menulis. Meskipun profesi kita tidak serupa dengan Bradbury, namun ada bagian penting untuk kita pelajari : mengapa Bradbury demikian produktif menulis? Jawabannya adalah –karena ia menulis setiap hari.

Ya, Bradbury mengajarkan konsistensi menulis. Tidak penting seberapa cepat atau seberapa lambat Anda menulis, namun rutinlah menulis. Tidak penting seberapa banyak atau seberapa sedikit tulisan bisa Anda hasilkan setiap hari, namun rutinlah menulis. Karena ini kucinya –konsisten menulis setiap hari.

Sue Weems (2021) menyatakan, “Saya akui hal itu sedikit mengintimidasi bahwa Bradbury menyelesaikan bukunya dalam dua sprint sembilan hari. Itu berarti dia menulis rata-rata 2.800 kata sehari. Waktu terus berlalu ketika waktu mesin tik yang ia sewa bekerja, mungkin ikut mendorongnya ke langkah penulisan yang lebih cepat”.

Sebenarnya, 2.800 kata per hari, ini bukan jumlah yang banyak. Biasa saja untuk ukuran penulis profesional. Hal ini menandakan, Bradbury tidak berorientasi pada kuantitas. Jika hanya ingin berbanyak jumlah tulisan, tentu ia bisa melakukan 10 kali lipatnya. Bradbury lebih berorientasi pada kualitas tulisan.

Pada umumnya, kecepatan mengetik pada keyboard adalah 40 WPM (kata per menit) atau setara 200 CPM (karakter per menit). Penulis profesional mampu mengetik lebih banyak dari itu, sekitar 65 hingga 75 WPM. Bahkan beberapa orang mampu menghasilkan tulisan lebih banyak lagi.

Barbara Blackburn, misalnya –mampu mengetik 150 WPM selama hampir satu jam, dan memiliki rekor kecepatan puncak hingga 212 WPM. Grace Pak pernah memecahkan rekor dunia 2012 sebagai pengetik smartphone tercepat, dengan mengetik 280 karakter per menit (CPM). Ini tentu orang yang istimewa dari segi kecepatan mengetik di keyboard.

Jika kita gunakan ukuran umum penulis, yaitu 40 WPM, maka Bradbury hanya memerlukan waktu 70 menit saja untuk menghasilkan 2.800 kata per hari itu. Apalagi karena ia penulis senior dan profesional, mungkin kecepatannya sudah mencapai 75 WPM. Ia hanya memerlukan waktu 37,33 menit saja untuk menghasilkan 2.800 kata.

Jadi, bukan hal istimewa jika dilihat dari sisi kecepatan menulis, atau dari segi jumlah kata yang bisa dihasilkan setiap hari. Yang istimewa dari Bradbury adalah konsistensi, dan hasil karya yang bermutu tinggi.

Menyelesaikan Tulisan

“The most important part of Ray Bradbury’s writing tips and letter for me though is that he finished this story, not once, but twice” –Sue Weems, 2021.

Tidak cukup hanya dengan konsistensi menulis setiap hari. Namun Bradbury memberi pelajaran, bahwa tulisannya selesai. Selalu ada hasil berupa karya tulis yang selesai ia persembahkan bagi pembaca. Ini yang patut kita pelajari.

Banyak orang menulis setiap hari, namun tidak pernah selesai menjadi karya. Meskipun rajin menulis, tak ada satu cerpen, atau artikel yang bisa dipersembahkan untuk pembaca. Hal ini karena mereka mudah tergoda atau terbelokkan konsentrasinya.

Sedang menulis artikel, tergoda untuk menulis cerpen. Sedang menulis cerpen, tergoda untuk membuat puisi. Dampaknya, tidak ada tulisan yang selesai. Semua hanya setengah selesai atau bahkan seperempat selesai.

Istimewanya lagi, Bradbury biasa membuat dua draf untuk satu karya yang akan dipublikasikan. “Bagian terpenting dari tip Ray Bradbury untuk saya adalah dia menyelesaikan cerita ini, tidak hanya sekali, tetapi dua kali”, ujar Sue Weems.

Dengan cara ini, Bradbury bisa memiliki pendalaman sekaligus alternatif. Bisa leluasa memotong dan membuang. Hingga akhirnya ia memiliki satu naskah akhir terbagus yang bisa dipublikasikan.

“Saya tidak membutuhkan perpustakaan atau mesin tik. Sebaliknya, saya harus mendekati meja saya setiap pagi dengan kegembiraan yang dirasakan Bradbury tentang perpustakaan kesayangannya”, ujar Sue Weems. “Maka saya harus menyelesaikan draf. Mungkin saya akan menaruh sekantong uang receh di meja saya sebagai pengingat”, lanjutnya.

Mana tulisan Anda? Ayo rutin menulis, dan menyelesaikan tulisan.

Bahan Bacaan

Emily Temple, Ray Bradbury’s Greatest Writing Advice, https://lithub.com, 22 Agustus 2018

Mayo Oshin, The Daily Routine of 20 Famous Writers (and How You Can Use Them to Succeed), 15 Agustus 2017, https://medium.com/

Sue Weems, How to Bust Excuses and Focus on Your Writing Like Ray Bradbury, https://thewritepractice.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *