.
Belajar dari Para Penulis Produktif
Oleh : Cahyadi Takariawan
“What if you love to write, you want to be a writer, but you don’t feel that something sufficiently monumental has happened to you? That is, sufficiently monumental about which it is worthwhile to write? Vonnegut has some things to say about that” — Suzanne McConnel, 2019.
.
Kurt Vonnegut adalah novelis produktif yang telah melahirkan karya mendunia, di antaranya adalah Cat’s Cradle, Breakfast of Champions, dan Slaughterhouse Five. Karya-karyanya dinilai sering memunculkan kontradiksi.
Pada postingan sebelumnya, telah saya sampaikan beberapa pelajaran yang bisa kita ambil dari produktivitas menulis Vonnegut. Kali ini kita simak bersama, delapan prinsip menulis kreatif “tingkat dasar” versi Vonnegut.
Vonnegut dikenal sebagai penulis yang menggunakan gaya sederhana. Ia tidak ingin membuat rumit pembaca. Salah satu nasehat populer Vonnegut untuk para penulis adalah, agar menyederhanakan tulisan, sehingga pembaca tidak merasa rumit.
“Kita harus mengakui bahwa pembaca melakukan sesuatu yang cukup sulit baginya,” ujar Vonnegut. “Alasan Anda untuk tidak terlalu sering mengubah sudut pandang adalah agar pembaca tidak tersesat; dan alasan Anda untuk membuat paragraf adalah agar mata pembaca tidak lelah. Anda membuatnya –tanpa pembaca sadari, mempermudah pekerjaan mereka,” lanjutnya.
Pada Apa Kepedulian Tertinggi Anda?
Di titik mana kepedulian tertinggi Anda? Ini adalah salah satu pelajaran penting dari produktivitas menulis Kurt Vonnegut. Baginya, menulis produktif akan terjadi apabila menuliskan hal-hal yang menjadi kepedulian tertinggi seseorang.
“Ketika saya mengajar di Iowa Writers Workshop selama beberapa tahun, dan di City College Harvard, saya tidak mencari orang yang ingin menjadi penulis. Saya mencari orang yang bersemangat, yang sangat peduli tentang sesuatu” –Kurt Vonnegut.
Bobby Powers (2020) mencontohkan, “Saya bersemangat tentang kepemimpinan, menulis, dan pengembangan pribadi. Jadi apa yang saya tulis? Kepemimpinan, menulis, dan pengembangan pribadi”.
“Saya mungkin bisa menulis cerita yang layak tentang topik lain jika saya mau, tetapi mengapa repot-repot?” ujar Powers. “Tulislah tentang hal-hal yang membuat Anda bersemangat, hal-hal yang tidak dapat berhenti Anda pikirkan, dan hal-hal yang Anda keluhkan saat makan malam bersama teman. Tulislah dari bidang minat Anda yang paling dalam”, lanjut Powers.
Bagi saya, kepedulian yang sangat besar adalah pada tema keluarga. Maka buku dan artikel saya banyak membahas tentang tema keluarga. Ini menjadi mudah saya tuliskan, oleh karena itu bisa menulis di manapun dan kapanpun.
Logika yang paling sederhana adalah, kita tidak akan melakukan sesuatu untuk hal yang tidak kita tidak peduli. Bercerita tentang hal yang menjadi kepedulian kita, bisa dilakukan dengan bersemangat tanpa ada batasnya. Menceritakan sesuatu yang tidak kita minati, hanya sebatas formalitas saja.
Pesan Apa yang Ingin Anda Sampaikan Kepada Pembaca?
Apa yang sesungguhnya menjadi inti pesan yang ingin Anda sampaikan kepada pembaca? Ini merupakan pelajaran penting lainnya dari produktivitas menulis Kurt Vonnegut. Baginya, menulis produktif akan terjadi apabila seseorang memiliki pesan yang jelas dan penting untuk disampaikan kepada pembaca.
“Tidakkah Anda sendiri menyukai atau tidak menyukai penulis –terutama karena apa yang mereka pilih untuk ditunjukkan atau untuk Anda pikirkan? Apakah Anda pernah mengagumi seorang penulis berkepala hampa karena penguasaan bahasanya? Tidak!” –Kurt Vonnegut.
“Ungkapan Vonnegut di atas mengingatkan saya, bahwa banyak penulis favorit saya membuat kesalahan tata bahasa dan ejaan dalam cerita mereka secara online. Saya bertanya-tanya, ‘Bagaimana penulis hebat bisa membuat kesalahan sederhana seperti ini?’” ujar Bobby Powers.
“Belakangan saya menyadari bahwa saya tidak membaca karya mereka disebabkan karena mereka adalah para ahli tata bahasa terbaik. Saya membacanya karena mereka memiliki perspektif unik untuk dibagikan kepada dunia”, lanjut Powers.
Tulisan akan sampai kepada pembaca dengan baik, lebih ditentukan oleh kekuatan dan kejelasan pesan. “Apa sih yang ingin kamu sampaikan?” itu pertanyaan pembaca. Kalaupun ada kekurangan dari segi tata bahasa, kurang indah dalam pemilihan kosa kata, kesalahan dalam teknis penulisan, dan lain sebagainya –mudah dimaklumi pembaca.
Namun jika pembaca tidak bisa menemukan pesan penting dari tulisan kita, mereka bisa kecewa. Waktu sudah mereka alokasikan untuk membaca –ternyata tidak ada kemanfaatan yang bisa mereka terima. Ini menyandera pembaca pada pemborosan waktu dan tenaga.
Maka perjelas tujuan menulis, perjelas pesan yang hendak Anda sampaikan melalui tulisan, perjelas segmen yang hendak Anda kirimi pesan tersebut. Semakin jelas pesan Anda, semakin kuat makna pesan itu bagi Anda, semakin mudah pula bagi Anda untuk menuliskannya.
Mengapa bisa produktif menulis? Salah satunya—karena Anda mengerti pesan yang hendak Anda sampaikan.
Bagaimana dengan Anda? Selamat berkarya, selamat mengubah dunia.
Bahan Bacaan
Bobby Powers, Kurt Vonnegut’s Top 13 Writing Tips, https://medium.com, 15 Februari 2020
Emily Temple, Kurt Vonnegut’s Greatest Writing Advice, https://lithub.com, 11 April 2017
