.
Belajar dari Para Penulis Produktif
Oleh : Cahyadi Takariawan
“When I am working on a book or a story I write every morning as soon after first light as possible. There is no one to disturb you and it is cool or cold and you come to your work and warm as you write” –Ernest Hemingway.
.
Salah satu tips untuk bisa produktif menulis, adalah dengan banyak belajar dari para penulis produktif. Mereka sudah terbukti memiliki banyak karya, maka kita belajar kepada mereka bagaimana bisa mendapatkan produktivitas dalam menulis. Tidak semua tips cocok untuk kita, namun akan ada hal yang bisa kita ambil sebagai inspirasi.
Pada postingan sebelumnya, kita sudah belajar dari Ernest Hemingway. Kali ini, masih kita teruskan pembelajaran dari cara menulis Hemingway.
Tips Produktif Menulis Ernest Hemingway
Ernest Miller Hemingway adalah penulis novel The Old Man and the Sea (1952) dan puluhan lainnya. Ia mendapat penghargaan Pulitzer 1953, Award of Merit Medal for Novel dari American Academy of Letters, bahkan Nobel Sastra pada 1954.
Ada beberapa tips menarik dari Hemingway untuk produktif menulis. Tidak semua cocok untuk kita, maka pilih dan sesuaikan yang bermakna untuk produktivitas menulis kita. Tips pertama dan tips kedua sudah saya sampaikan dalam postingan sebelumnya. Sekarang saya sampaikan tips ketiga.
Ketiga, Bertahan dan Bersabar Menghadapi Kesulitan Menulis
“I write one page of masterpiece to ninety one pages of shit. I try to put the shit in the wastebasket” –Hemingway, in a letter to F. Scott Fitzgerald
Tidak ada penulis instan, yang sekali menulis hasilnya langsung bagus. Apalagi best sellesr. Semua memerlukan proses. Untuk melewati proses ini, memerlukan daya tahan dan kesabaran.
Membayangkan tulisan pertama langsung hebat, postingan pertama langsung keren, buku pertama langsung ‘meledak’ di pasaran –boleh saja. Tapi itu tak lazim. Ada beberapa orang yang seperti itu, namun mereka itu —menurut Shaunta Grimes (2017), adalah ‘unicorn’.
Anda tahu unicorn? Menurut mitologi Celtic, unicorn adalah makhluk yang mewakili kemurnian, keberanian, dan kekuatan yang tidak tertandingi. Bangsa Skotlandia menjadikan unicorn sebagai ‘hewan nasional’ mereka. Memberikan spirit, ingin menjadi bangsa unggul, tak tertandingi.
Saya dan mayoritas dari kita, hanyalah orang lumrah atau orang kebanyakan, dalam dunia tulis menulis. Kita bukan unicorn. Mungkin hanya ada beberapa gelintir manusia saja yang ‘berwujud’ unicorn itu dalam tulis menulis. Misalnya Harper Lee, J.K. Rowling, atau nenek Toyo Shibata.
“Don’t talk to me about Harper Lee or J.K. Rowling. They aren’t normal people. They’re unicorns”, ungkap Shaunta Grimes. Ungkapan ini untuk mengajak kita memahami bahwa pada dasarnya kita tidak perlu berharap keajaiban. Hendaknya kita lebih berorientasi kepada proses yang konsisten untuk menjadikan tulisan kita semakin berkualitas dari waktu ke waktu.
Menurut Shaunta Grimes, mungkin saja Anda termasuk unicorn itu, namun peluang itu hanya 0,00001 % saja. Sisanya, 99,9999 % adalah kita semua, orang biasa. Yang harus rajin berlatih menulis, dan bekerja keras untuk memasarkan buku kita ke berbagai tempat. Yang harus berusaha untuk melakukan proses perbaikan dari hari ke hari.
Kita adalah orang kebanyakan yang harus menerima realitas bahwa tulisan kita ada mungkin saja ada kesalahan, kekurangan, dan kelemahan. Inilah protokol sebagai manusia biasa. Harus menerima realitas bahwa tulisan yang kita buat tidaklah sempurna. Selalu ada cacatnya. Selalu ada celanya.
Jangan Takut Salah atau Jelek
“Creating a piece worth reading — whether it’s a story, a poem, or a book — will take far more time than you expect. It will plumb the depths of your patience, stretch the limits of your willpower, and test the capacity of your wastebasket” –Bobby Powers, 2020.
Inilah yang diajarkan Hemingway kepada kita. Sediakan banyak kertas, karena draf naskah pertama yang Anda tulis bisa jadi harus Anda buang. Ini ungkapan untuk menggambarkan situasi menulis di era Hemingway. Menulis dengan mesin tik konvensional, menggunakan kertas. Jika ada banyak bagian tulisan yang dinilai tidak bagus, kertas dibuang.
“Saya menulis satu halaman karya dan sembilan puluh satu halaman rusak. Saya membuang ‘halaman rusak’ itu di keranjang sampah,” tulis Hemingway, dalam surat kepada F. Scott Fitzgerald.
Jangan takut salah atau hasil tulisannya jelek. Buang saja bagian yang salah, jelek, atau tidak sesuai harapan. Sediakan banyak kertas, dan teruslah menulis. Hemingway membuang 91 halaman, untuk mendapatkan satu halaman masterpiece.
Seorang pelukis biasa membuat banyak sketsa sebelum mereka menghasilkan sebuah mahakarya. Chef sering kali ‘merusak’ beberapa makanan, sebelum mereka menghasilkan resep hebat. Pembicara publik perlu berlatih pidato puluhan kali sebelum hadir memukau di depan audiens. Wajar jika penulis harus berlatih banyak menulis dan membuang bagian yang tidak berkualitas (Bobby Powers, 2020).
Menurut Powers, menciptakan karya tulis yang layak dibaca — baik berupa cerita pendek, puisi, novel atau buku, sering kali memakan waktu lebih lama dari yang Anda harapkan. Jelas ini menyelami kedalaman kesabaran Anda, meregangkan batas kemauan Anda, dan menguji kapasitas keranjang sampah Anda.
Untuk Menghasilkan Karya Tulis Berkualitas, Tidak Akan Pernah Mudah
“I love to write. But it has never gotten any easier to do and you can’t expect it to if you keep trying for something better than you can do” –Ernest Hemingway.
Menulis semudah bernapas, adalah proses belajar menulis hingga lancar. Hingga Anda merasa ‘los’ dalam proses menulis. Kondisi ini bisa Anda dapatkan dengan rutin berlatih menulis setiap hari.
Namun untuk menciptakan karya tulis berkualitas, tidak bisa semudah bernapas. Bahkan tokoh sekaliber Hemingway, tidak akan bisa. “Saya suka menulis. Tetapi itu tidak pernah menjadi lebih mudah untuk dilakukan, dan Anda tidak dapat mengharapkan untuk menjadi mudah, apabila Anda ingin mendapatkan hasil yang lebih baik dari yang sudah dapat Anda lakukan.”
Hemingway adalah salah satu penulis tingkat di dunia, tetapi dia tidak pernah melihat dirinya “berhasil” sebagai seorang penulis. Dia selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas karya tulisnya, dan mengakui bahwa menulis adalah sesuatu yang tidak pernah dapat Anda lakukan dengan mudah, sepanjang mengharapkan karya yang lebih baik.
“Remember that bad writers think that writing is easy; good writers think writing is hard, and I think there is a lesson in there somewhere” –Bill Glavin.
Selalu ada kesempatan untuk tumbuh lebih baik sebagai penulis, dan penulis terbaik selalu mampu menemukan ruang paling besar untuk membuat dirinya terus berkembang. Seperti yang pernah dikatakan oleh Bill Glavin, “Penulis yang buruk berpikir bahwa menulis itu mudah; penulis yang baik berpikir menulis itu sulit. Saya pikir ini adalah pelajaran penting.”
Jika merasa sulit, bertahanlah dan bersabarlah. Tetaplah menulis, jangan berhenti berlatih.
Bahan Bacaan
Bobby Powers, Ernest Hemingway’s Top 13 Writing Tips, https://writingcooperative.com, 17 Maret 2020
Shaunta Grimes, 25 Habits That Will Make You a Writer, www.medium.com, 5 April 2017
