19 September 2026

.

Belajar dari Para Penulis Produktif

Oleh : Cahyadi Takariawan

Even in the valley of the shadow of death, two and two do not make six” –Leo Tolstoy.

.

Leo Tolstoy (1828 – 1910) adalah novelis produktif asal Rusia. Karyanya yang terkenal antara lain War and Peace dan Anna Karenina. Lahir di Rusia pada 1828, Tolstoy menjadi terkenal ke seluruh dunia karena kepribadian serta keyakinannya yang dianggap “rumit dan paradoks”.

Salah satu yang bisa kita pelajari dari produktivitas menulis Tolstoy adalah kemampuannya untuk menjaga rutinitas menulis. Ia harus memastikan bahwa setiap hari ada tulisan yang dihasilkan, tanpa gagal. “I must write each day without fail”, ujar Leo Tolstoy.

Ada banyak pelajaran menulis yang bisa kita pelajari dari Tostoy. Tentu tidak semua tepat untuk Anda. Ambil yang sesuai, tinggalkan yang tidak sesuai.

Tolstoy : Gunakan Akal Sehat

If the success you expected does not set in, don’t run off whining, but get a hard look at the facts and the numbers, analyze them and come up with a different strategy” –Story Artist, 2021.

Tolstoy adalah novelis –artinya berjenis fiksi. Namun ia menjunjung tinggi akal sehat. Meskipun menulis fiksi adalah imajinasi, namun tidak boleh menabrak akal sehat. “Bahkan di lembah bayang-bayang kematian, dua dan dua tidak menjadi enam,” ujar Tosltoy.

Fiksi adalah tulisan yang berisi kejadian “tidak nyata”, berbasis imajinasi. Namun harus tetap logis dan masuk akal. Ary Nilandari (2013) mengungkapkan, fiksi adalah sebuah sistem yang sangat masuk akal. Setiap unsur pembangun fiksi (karakter, setting, plot dll) disusun berdasarkan hubungan sebab akibat, keterkaitan dan sekuensi logis menjadi kisah yang dapat diterima, dipercaya.

“Fiksi ibarat jalan mulus tanpa lubang dari titik awal ke titik akhir. Lubang atau flaws dalam fiksi akan membuat pembaca berkerut kening, dan jika terlalu banyak flaws, buku kita akan diletakkan saja”, ujar Nilandari.

Untuk meyakinkan pentingnya akal sehat dalam menulis fiski, Nilandari memberikan cotoh tentang jerapah. Anak-anak tahu jerapah adalah binatang berleher panjang, mampu menjangkau dedaunan tinggi, tapi tidak cukup panjang untuk menjangkau tanah. Maka jerapah harus merentangkan kaki depan agar bisa minum air sungai.

“Jika, ada cerita atau ilustrasi yang menokohkan jerapah dengan kepala blusukan ke lubang-lubang kelinci tanpa diceritakan susah payahnya, berarti si penulis tidak tahu fakta ini. Lalu berkilah, ini kan fabel. Kukatakan itu flaw”, ujar Nilandari.

“Penulis yang cerdas justru memanfaatkan fakta ilmiah untuk membuat ceritanya lebih menarik. Kalau tidak menggunakan fakta ilmiah, buatlah si jerapah sekalian pakai baju, berdiri dengan dua kaki, dan pergi ke sekolah naik sepeda (antropomorfisme)”, lanjut Nilandari.

Menggunakan akal sehat bukan hanya dari sisi isi cerita, bahkan juga dalam kehidupan penulisnya. Menjadi penulis, menurut Tolstoy, harus selalu menggunakan akal sehat. Karena, “orang kreatif cenderung menjadi sangat emosional dalam menghadapi masalah, keraguan, atau kegagalan” (Story Artist, 2021).

Creatives tend to get very emotional in the face of trouble, doubt or failure. When those feelings threaten to take over, common sense is a great adversary. Be realistic. Get a look at the numbers. Master them, don’t fear them” –Story Artist, 2021.

Jika penulis dikuasai suasana emosional, akan menjadi kendala dalam berkarya. “Ketika perasaan emosional itu mengancam untuk mengambil alih, akal sehat adalah musuh besar. Jadilah realistik. Lihat angka-angkanya. Kuasai mereka, jangan takuti mereka” (Story Artist, 2021).

Misalnya seorang penulis yang kecewa karena tulisannya tidak mendapat respon seperti yang diharapkan. Atau penulis yang putus asa karena dari puluhan bukunya tak ada yang masuk kategori best seller. Sikap emosional muncul –sering kita sebut baper, dalam bentuk berhenti menulis. Tidak bersemangat bahkan mundur dari dunia menulis karena merasa tidak mendapat respon sesuai harapan.

Itu adalah contoh sikap emosional dalam menghadapi respon pembaca. Penulis harus menggunakan akal sehat untuk menimbang dan melihat berbagai kejadian atau peristiwa. Termasuk dalam melakukan pemasaran dan penjualan buku.

Jadilah orang yang logis dan penuh perhitungan akal sehat dalam memasarkan dan menjual buku Anda. “Kenali strategi pemasaran, ketahui cara Anda mengatasi masalah hukum, pelajari teknisnya” (Story Artist, 2021). Semua perlu didudukkan dalam kerangka yang logis. Selalu gunakan akal sehat.

Saat memasarkan buku, mungkin saja sukses besar, mungkin pula gagal. Tetaplah menjadi orang yang menggunakan akal sehat untuk menghadapi semua kemungkinan dalam kehidupan. Sukses penjualan buku tidak membuat sombong, gagal dalam penjualan tidak membuat putus asa. Inilah sikap akal sehat.

Get to know marketing strategies, know your way around legal matters, learn the technicalities” –Story Artist, 2021.

Jika Anda selalu berusaha menggunakan akal sehat, kegagalan adalah pemicu semangat berkarya. “Jika kesuksesan yang Anda harapkan tidak tercapai, jangan lari merengek, tetapi lihatlah fakta dan angkanya dengan cermat, analisislah dan buatlah strategi yang berbeda” (Story Artist, 2021).

Bagaimana dengan Anda? Selamat berkarya, selamat mengubah dunia.

Bahan Tulisan

Ary Nilandari, Logika Cerita, Plot dan Jebakannya, www.arynilandari.wordpress.com, 26 Juni 2013

Mayo Oshin, The Daily Routine of 20 Famous Writers (and How You Can Use Them to Succeed), https://medium.com, 15 Agustus 2017

Story Artist, 12 Habits That Made Tolstoy a Highly Profilic Author – Conquer the Writing Battle, https://storyartist.me, diakses 1 Desember 2021

1 thought on “Agar Selalu Produktif Menulis – 105

  1. Mempergunakan akal sehat, realistis, cermat, analisis, strategi yang berbeda. Syukran katsira ustaz Cahyadi Takariawan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *