19 September 2026

Oleh : Sri Rohmatiah (Alumni Kelas Emak Punya Karya)

“One of the most effective ways to reduce stres with journaling is to write in detail about feelings and thoughts related to stresful events.” (Elizabeth Scott, PhD)

Stres adalah bagian dari kehidupan yang tidak bisa dihindari, tetapi bisa dikontrol, baik itu yang kadarnya ringan ataupun kronis.

Ketika stres ringan menjadi kronis, kesehatan mental dan fisik akan terganggu. Itulah mengapa penting mencari solusi untuk menenangkan pikiran agar tidak stres paten.

Menurut Elizabeth Scott, PhD, seorang psikolog dan penulis di verywellmind mengatakan, untuk mengurangi stres, cara paling efektif adalah dengan menulis jurnal.

Jurnal dalam KBBI bisa diartikan sebagai buku atau catatan harian. Jadi menulis jurnal pada umumnya adalah menulis di buku harian.

Tinjauan ini pun pernah ditulis oleh Karen A. Baikie dan Kay Wilhelm dalam sebuah jurnal ilmiah berjudul “Emotional and physical health benefits of expressive writing”.

Eexpressive writing atau menulis ekspresif  adalah teknik terapi di mana seseorang menulis tentang pikiran dan perasaannya terkait pengalaman hidup yang membuatnya trauma.

Dalam jurnal tersebut, Karen A. Baikie dan Kay Wilhelm, seperti yang saya kutip dari verywellmind melibatkan sejumlah peserta untuk menuliskan peristiwa traumatis. Partisipan diminta untuk menulis jurnal dalam waktu 15-20 menit selama 3-5 sesi.

Mereka mengalami kesulitan ketika memulai menulis, tetapi mereka pun mengakui jika cara ini adalah paling efektif untuk mengatasi stres.

Cara Menulis Jurnal

Menulis jurnal atau di buku harian pada dasarnya bebas. Kita pun mungkin sejak kecil sudah melakukannya. Jika iya sering menulis di buku harian sejak kecil, sebaiknya dipertahankan. Menulis jurnal untuk menghilangkan stres dapat mengambil beberapa bentuk agar lebih teratur dan terarah.

Ada tiga macam jurnal yang direkomendasikan Elizabeth Scott untuk menghilangkan stres, yakni :

Jurnal syukur 

Meskipun kita mengalami hal buruk yang membuat stres. Akan tetapi sebagai manusia beriman tentunya merasa bersyukur. Dengan peristiwa buruk yang dialami ada hikmah yang dapat diambil.

Agar peristiwa buruk tidak memengaruhi suasana hati, tetaplah bersyukur, lalu rasa syukur itu tulis di buku harian setiap harinya. Dengan demikian akan muncul suasana hati lebih positif dan menghadapi hari esok lebih bahagia.

Jurnal pelepasan emosional

Selain menulis rasa syukur atas apa yang terjadi, kita pun dapat menulis tentang emosi ketika mengadapi masalah. Tuliskan bagaimana emosi kita terhadap peristiwa yang terjadi sepanjang hari.

Emosi sedih, kecewa, tuliskan dalam bentuk jurnal setiap harinya. Tidak perlu mengatakan pada diri sendiri bahwa menangis tidak baik yang akan membuat diri lemah. Emosi negatif jika ditanggapi positif akan menekan tingkat stres.

Jika peristiwa itu belum terjadi dan kita sudah merasa stres memikirkannya, jangan menghibur diri dengan merasa yakin semua akan baik. Namun, tulislah kemungkinan buruk yang akan terjadi dan tulis pula cara mencegahnya.

Kekhawatiran yang berulang pun bisa kita tulis dalam buku harian, daripada terus memikirkannya. Misalnya, ketika akan ujian, sering kali cemas tidak bisa mengerjakan soal, tulislah dan simpan di meja belajar.

Setiap saat jika rasa cemas itu datang, kita bisa menulisaknnya lagi. Ibaratnya buku harian adalah tempat berbagi emosi, biasanya ketika kita berbagi hal buruk, setelahnya akan merasakan lega.

Jurnal perencanaan

Beberapa orang mungkin sulit menulis jurnal emosional atau jurnal syukur. Namun, mereka sering membuat jurnal perencanaan, seperti, besok akan melakukan apa dan hal lain yang belum mereka lakukan.

Selain itu, mereka juga membuat jurnal tentang kenangan sebuah perjalanan atau kenangan bersama keluarga, teman, kerabat. Apapun yang mereka tulis adalah untuk menjaga pikiran dan membantu mengingat hal penting. Ini pun bisa menghilangkan stres.

Membuat jurnal sebenarnya tidak sulit karena tidak membutuhkan alat yang mahal, kita hanya membutuhkan buku catatan, pena. Mungkin sekarang dua alat itu sudah asing untuk dibawa, tidak masalah, masih ada handphone untuk menjadi sasaran penumpahan emosi.

Perlu diingat juga dalam menulis jurnal, jangan khawatir tentang ejaan, tata bahasa atau struktur kalimat. Kita hanya membutuhkan keberanian memulai menulis.

Namun, yang perlu dihindari adalah menumpahkan emosi negatif di media sosial, sejujurnya hal tersebut akan menambah stres.

Jika menulis jurnal sudah menjadi kebiasaan setiap hari, kita melangkah lebih jauh yakni menulis artikel atau buku yang bisa dipublikasikan.

Semoga bermanfaat

Biodata Penulis :

Sri Rohmatiah adalah ibu rumah tangga, pebisnis, penulis produktif di Kompasiana dan Jurnalis Media Online. Telah menghasilkan dua buku “Kalau Berbeda Lalu Kenapa?” dan “Isyarat Cinta Sarat Makna”. Tinggal di Madiun. Alumni Kelas Menulis Online (KMO) Alineaku, dan Kelas Emak Punya Karya batch 2. Ia juga menjadi Presiden Komunitas Emak Produktif (KEPO).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *