Oleh : Kantin Emak Produktif
(1)
Menu spesial hari raya keluarga Indonesia tidak jauh dari ketupat dan opor ayam. Ada perasaan tidak afdhol jika varian ini tidak hadir. Sebenarnya, yang terpenting adalah kehadiran seluruh anggota keluarga. Kehadiran mereka sungguh berharga, melebihi menu apa pun.
Semoga sehat-sehat semua, harta yang paling berharga adalah keluarga.
–Yulia K Rohima
(2)
Setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam menyikapi dan memaknai Idulfitri. Lalu, apa sesungguhnya esensi dari Idulfitri? Sudah menjadi tradisi, jika di hari Idulfitri kita berkunjung kepada orang tua, sanak keluarga, guru dan para pinisepuh untuk bersilaturahmi dan saling memaafkan.
Rasulullah saw. bersabda, “Ada tiga perkara barang siapa mau mengamalkannya, niscaya Allah akan menghisabnya dengan hisab yang ringan dan memasukkannya ke surga dengan rahmat-Nya. Para sahabat bertanya, apakah perkara itu ya Rasulullah? Beliau bersabda, “Yaitu memberi kepada orang yang tidak memberimu, mau menyambung tali persaudaraan dengan orang yang telah memutuskannya, dan memberi maaf kepada orang yang telah menganiayamu.”
–Dwi Isnaini
(3)
Ibarat perlombaan, makin mendekat ke garis finish, persaingan makin ketat. Rintangan dan hambatan makin berat. Sedang tenaga makin berkurang. Demikian kita di penghujung Ramadan. Mudik, persiapan lebaran, dan segudang alasan, bisa membuat banyak orang berpaling dari tujuan.
Bersabar menghadapi tantangan, itu yang dibutuhkan. Sabar kan menjadi kekuatan, daya positif yang mengukuhkan. Mendorong pada kebaikan dan melihara jiwa dari keburukan. Memacu semangat untuk tetap bertahan, hingga batas kemenangan.
–Junayda
(4)
Didiklah anak-anakmu dengan Al-Qur’an, lurusnya aqidah dan tingginya akhlaq itu lebih berarti dibandingkan mereka berilmu tinggi tapi terjerumus ke dalam kemaksiatan.
–Meivany Azarini
(5)
Kita semua sedang diuji, berbagai cobaan yang datang silih berganti, tanpa henti. Jika tidak dilandasi dengan iman yang kuat, bisa jadi keterpurukan melanda diri. Bahkan di saat bahagia pun, sebenarnya Allah sedang menguji. Namun terkadang kita lupa, yang akhirnya berakhir dengan duka. Qadarullah, semua atas kehendak-Nya.
–Hellen Patraliza
(6)
Sejatinya, pada rentang waktu berpuasa hingga berbuka di bulan Ramadan, ada pelajaran tentang kesabaran. Siapa yang bersabar dalam ketaatan dan ujian, niscaya ia akan mendapatkan dua keutamaan, saat masih hidup di dunia dan kelak di akhirat.
–Atifah Saleha
(7)
Saudara satu rahim, satu darah. Hidup bersama dalam naungan satu rumah. Saat telah dewasa terpencar dan berpisah, bahkan saat jasad membeku kuburan pun terpisah tempat, terpisah kota.
“Maksimalkan kualitas kesalehan diri agar mampu menghantarkan persaudaraan ikatan darah menjadi ikatan aqidah sehingga lebih bermakna dunia dan akhirat.”
–Syasha Lusiana
(8)
Masih ingat pertama belajar naik sepeda saat kecil dulu? Katanya, kalau kita jatuh saat belajar bersepeda, itu pertanda kita akan berhasil dan bisa menaikinya. Begitu pula dalam kehidupan. Ketika kita mengupayakan sesuatu, lalu kita jatuh dan gagal. Jangan pernah berhenti karena bisa jadi kesuksesan sudah sangat dekat dengan kita.
–Eli Halimah
(9)
Bulan datang dan pergi sudah biasa terjadi, tetapi tidak untuk bulan Ramadan ini. Kepergiannya penuh misteri apakah nanti masih datang menghampiri diri. Hanya takdir yang bisa menjawab semua ini. Inilah nasihat diri di akhir Ramadan yang semestinya menjadi pengingat hakikat hidup ini.
–Wydiesti
(10)
Idulfitri dimaknai sebagai kembalinya kita pada karakter asal, fitrah. Dalam hal ini seseorang bisa dikatakan jika rasa cintanya pada Allah Swt., Rasulullah saw. bertambah. Pun bersungguh-sungguh dalam mempelajari dan mengamalkan Al-Qur’an.
–Dewi Indrayati
(11)
Berbagai macam nikmat yang Allah Swt. berikan pada diri kita dan lingkungan sekitar tidak akan pernah dirasakan jika tidak diiringi dengan rasa syukur.
Dengan bersyukur, kita tidak akan pernah merasakan kekurangan karena sungguh nikmat Allah Swt. tak terhingga banyaknya.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an surah Ibrahim ayat 7 yang artinya, “Dan (ingatlah juga) tatkala Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.
–Ayu Muliyati

(12)
Alhamdulillah kita sampai di penghujung Ramadan. Ada sebagian saudara kita yang sedang mempersiapkan mudik atau dalam perjalanan. Semoga selalu dalam keberkahan dan lindungan Allah dan dapat berjumpa dengan sanak saudara di rumah dan meraih keutamaan silaturahim.
Kehidupan manusia di dunia seperti perjalanan kita ketika safar, perlu perbekalan dan kadang mengalami hal yang tidak terduga. Jangan lupa untuk selalu berdoa.
Semoga kita tetap istiqamah pasca Ramadan dan Allah Swt. memberikan ampunan kepada kita semua.
–Nur Pujiasih
(13)
Sedekah ilmu, sedekah harta, sedekah senyum atau sesuatu yang engkau miliki dengan tulus ikhlas kau berikan kepada orang lain. Niscaya Allah akan kembalikan 10 kali lipat dari apa yang engkau sedekahkan, walaupun wujudkan tidak sama dengan apa yang telah engkau sedekahkan.
Wujud lain balasan dari Allah bisa berupa kesehatan, kebahagiaan, ketenangan hidup dan kemudahan dalam segala urusan. Terkadang hal tersebut tidak mampu dijangkau oleh pikiran waras. Wallahuallam.
***
Pengemis, anak yatim-piatu, orang-orang yang kurang mampu datang menghampiri meminta pertolongan darimu, bukan karena kebetulan. Namun, Allah-lah yang menggerakkan hati mereka menghampirimu.
Seakan Allah menunjukkan bahwa rezeki anak yatim-piatu, peminta-minta ada padamu, masih melekat pada hartamu. Bersyukurlah jika orang-orang yang demikian menghampiri, ujian Allah ada di dalamnya. Allah akan mengujimu, apakah engkau termasuk orang yang pemurah taukah yang kikir.
–Warlinah
(14)
Detik demi detik Allah beri kesempatan, hingga bertemu di 28 Ramadan. Ramadan masih ada satu malam lagi, jangan pernah tinggalkan amalan-amalan mulia sebelum Ramadan meninggalkan kita.
“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya.” (HR Bukhori no.6607)
Mari memaksimalkan doa mustajab di akhir Ramadan. Sebagaimana dari Abu Sa’id Al-Khudry r.a., Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang dibebaskan dari neraka pada setiap hari dan malam. Setiap hamba dari mereka memiliki doa yang mustajabah (pasti dikabulkan).”[HR Bukhari dan Muslim]
–Nunun Nurlaila
(15)
Al Hasan Al Bashri rohimahullaah berkata, “Ilmu itu bukanlah dengan banyak menghafal riwayat. Namun ilmu adalah yang menimbulkan rasa takut kepada Allaah.”
–Leni Cahya
(16)
Perjalanan Ramadan hampir sampai ke penghujungnya. Berharap ampunan dari Al-Ghafur, Ar-Rahiim, Allah Yang Maha Pengampun, Yang Maha Penyayang.
Tidak ada ungkapan terindah selain penghambaan diri sepenuhnya, tiada daya dan upaya untuk kecuali atas pertolongan-Nya.
Doa-doa yang dianjurkan kita panjatkan di akhir Ramadan adalah :
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, suka memaaf, maka maafkanlah daku.”
“Wahai Tuhan kami, terimalah puasa kami, salat kami, ruku’ kami, sujud kami dan tilawah kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”
–Puspa Mafazan
(17)
Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih dan lagi maha penyayang. Ramadan datang dengan berbagai keutamaan. Jangan biarkan ia pergi dalam keadaan kita merugi. Beramal di hari-hari yang singkat untuk bekal di hari yang panjang.
Maka sungguh merugilah kaum yang tak memiliki amal dan beruntunglah kaum yang tidak menunda, dan bersegera dalam menanam benih kebaikan.
–Dede Nurjanah
(18)
Ramadhan hampir usai. Semoga amal-amal kebaikan yang sudah kita jalankan kemarin diterima Allah Swt..
Masih ada beberapa hari lagi untuk semakin bergiat beramal saleh dengan penuh keikhlasan. Ikhlas merupakan salah satu syarat diterimanya amal kita, di samping tata caranya harus mengikuti ajaran Rasulullah saw..
Ikhlas harus diupayakan, diluruskan, dan dijaga terus sepanjang hayat kita. Ikhlas pekerjaan hati. Pastikan hati kita bisa menjaganya.
–Dwi Handayanti
(19)
Di penghujung Ramadan, ada harap yang tak mampu terucap. Luruhkan air mata dalam malam senyap. Adakah amal kebaikan yang di buat, seberapa banyak, seberapa ikhlas atau hanya amalan yang sia-sia?
Firman Allah surah Al-Kahfi (18) ayat 103-105:
”Katakanlah: Maukah kamu, Kami beritahukan tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka menyangka telah berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu adalah orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Tuhan dan (kafir terhadap) perjumpaan dengan-Nya, maka terhapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan penimbangan amal bagi mereka pada hari kiamat.”
–Ifah Latifah
(20)
Tiada kekuatan selain daya-Nya, tiada senyum selain izin-Nya, tiada keberkahan selain rida-Nya. Akhirnya, manusia hanyalah menjalankan semua takdirnya.
Pantaskah menyombongkan diri? Merasa bisa karena upayanya, toh semua kembalinya pada Yang Kuasa. Rebahkan hati, semaikan nurani, ajaklah atas nama sang Ilahi, bahwa kita adalah hamba-Nya
Di penghujung malam, mari meminta bukakan pintu maghfirah karena kita termasuk hamba yang khilaf.
–Khuriyatul Ainiyah
++
“Amal terbaik adalah yang diberikan di bulan Ramadan.” (HR. Tirmidzi)
Selain bulan Ramadan pun tetaplah berbuat baik karena dunia, agama, kita membutuhkan orang-orang baik.
–Sri Rohmatiah
++
Naturalnya manusia menyukai kebaikan. Ah bukan hanya manusia, semua saja saya kira suka kebaikan.
“Jika kamu juga suka kebaikan, suka menerima kebaikan orang lain, suka melihat kebaikan. Lakukan lebih banyak kebaikan. Bukankah balasan kebaikan adalah kebaikan.”
Mari kita buat dunia ini surplus kebaikan. Semoga keburukan menyusut dan tersingkir.
–Ida Nur Laila
++
Ramadan pasti berakhir. Tugas kita adalah menciptakan akhir yang indah.
Itulah sebabnya Abu Bakar Ash-Shiddiq berdoa kepada Allah,
اللَّهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ عُمْرِي أَخِيرَهُ ،
وَخَيْرَ عَمَلِي خَوَاتِمَهُ ،
وَخَيْرَ أَيَّامِي يَوْمَ أَلْقَاك
“Ya Allah, jadikan usia terbaikku ada di penghujungnya, amal terbaikku ada di penutupnya, dan hari terbaikku adalah ketika aku bertemu dengan-Mu.” (HR. Ibnu Abi Syaibah 30124).
–Cahyadi Takariawan
