20 September 2026

Oleh : Kantin Emak Produktif

(1)

Pernahkah hati gelisah karena takut akan sesuatu yang belum terjadi? Semua milik-Nya, ada dalam penjagaan-Nya. Kembalikan semua urusan hanya kepada Allah, pemilik semua peristiwa, pemilik hati setiap manusia. Yaa muqollibal quluub tsabbit quluubanaa ‘alaaddiinika wa’ala thoo’atika.

–Yulia K Rohima

(2)

Perpaduan warna yang serasi pada alam memberikan pelajaran kepada kita bahwa walaupun berbagai warna tetapi tampak indah. Begitu juga kehidupan manusia, walaupun banyak warna kehidupan sebenarnya terasa indah apabila bisa menempatkannya secara proposional dan tepat.

–Wydiesti

(3)

Makan sahur adalah makan di waktu sahur (30 menit sebelum subuh). Jangan terlalu awal. Hal ini berdasarkan hadist Rasulullah saw. yang diriwayatkan dari Anas nin Malik r.a. yang artinya, “Segerakanlah berbuka dan akhirkanlah sahur.”

–Dede Nurjanah

(4)

Mampu bersyukur adalah karunia tiingkat tinggi. Maka teruslah belajar bersyukur, jangan pernah berhenti. Agar kita bisa merasakan, syukur itu jauh lebih nikmat daripada nikmat yang disyukuri.

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azabku sangat berat.” (QS. Ibrahim : 7)

–Junayda

(5)

Bekerjalah dengan tulus ikhlas, berbuatlah tanpa mengharapkan imbalan lakukan kebaikan tanpa pamrih. Setiap tetes keringatmu, setiap pemikiran yang engkau sumbangkan semua bernilai pahala tanpa kasat mata di hadapan Allah.

Tepislah keluh kesah yang selalu menghantui karena akan merendahkan derajat. Jika di dunia imbalan atas keringat dan pemikiran belum engkau dapatkan, yakinlah bahwa Allah Maha Adil, Maha Kasih dan Sayang.

–Warlinah

(6)

Jilbab sejatinya adalah menutup aurat dari yang bukan mahrom, jadi bukan hanya sebagai penutup kepala ketika bepergian saja. Di teras atau di dalam rumah pun kita wajib menutup aurat apabila terdapat laki-laki yang bukan mahrom. Siapa saja mahrom kita? Ada di dalam Qs. An Nur : 31.”

–Meivany Azarini

(7)

Pernikahan dewasa bukan terletak dari berapa lama dia sudah membangun rumah tangga. Namun, sudah sejauh mana pasangan suami istri ini mampu memanage setiap konflik yang ada?

Pernikahan dewasa ketika mereka mampu memadamkan sebelum api menjalar kemana-mana, mampu melentingkan setiap permasalahan yang ada.

Hanya mereka yang bersungguh-sungguh saja yang mampu mengendalikan konflik untuk mewujudkan pernikahan karena pernikahan adalah ibadah seumur hidup.

–Syasha Lusiana

(8)

Di setiap akhir Ramadan kita merasa sedih harus berpisah dengan bukan penuh keberkahan. Namun, di saat yang sama kita bergembira dengan datangnya hari raya Idul Fitri di mana bisa berjumpa dengan sanak saudara dan kerabat yang lama tidak bertemu.

Ada beberapa hal yang perlu dilakukan agar optimal di akhir Ramadan salah satunya meningkatkan syiar Idul Fitri bukan sekedar tradisi, yakni silaturahim.

“Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar -syiar Allah maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al-hajj : 32).

–Nur Pujiasih

(8)

Seorang ulama mengatakan, begitu selesai salat sebaiknya yang pertama dilakukan adalah istighfar. Hal ini karena kita belum tentu menyadari rukun mana saja yang tidak sempurna dilaksanaan. Boleh jadi hati kita pun ternyata tidak khusyuk kepada Allah Swt..

Sesungguhnya Iblis tidak akan pernah berhenti menggoda manusia sekalipun sedang melaksanakan salat karena mereka musuh yang nyata sampai hari kiamat. Waspadai tipu dayanya.

–Dewi Indrayati

(9)

Jika kehidupan ini membuat dirimu bimbang kehilangan arah, lihatlah kembali ke dasar hatimu. Di sana, engkau akan dapati fatwa paling jernih bahwa fitrahmu adalah baik. Manusia yang paling jahat sekali pun, di lubuk hatinya tetap menginginkan yang terbaik untuk dirinya. Maka, jangan berhenti untuk terus mencari jalan-jalan untuk mendekat kepada Dzat Pemilik segala kebaikan.

–Atifah Saleha

(10)

Apa yang tertinggal dalam diri kita setelah Ramadan berlalu? Bekas-bekas kebaikan apa yang terlihat pada diri kita setelah keluar dari madrasah puasa? Apakah bekas-bekas itu hilang seiring dengan berlalunya bulan Ramadan? Apakah amal-amal kebaikan yang biasa kita kerjakan di bulan Ramadan pudar setelah puasa berakhir?

Imam Bisyr bin Al-Harits Al-Hafi pernah ditanya tentang orang-orang yang hanya rajin dan sungguh-sungguh beribadah di bulan Ramadan, beliau menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang sangat buruk, karena mereka tidak mengenal hak Allah kecuali hanya di bulan Ramadan. Hamba Allah yang shalih adalah orang yang rajin dan sungguh-sungguh beribadah dalam setahun penuh.”

–Dwi Isnaini

(11)

Hidup ini sebenarnya simpel, kita saja yang membuatnya rumit. Hidup ini sebenarnya indah, kita saja yang membuatnya sempit. Hidup ini sebenarnya damai, kita saja yang membuatnya sakit. Dalam keadaan apapun tetaplah mengingat Allah Swt..

Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. Al-Baqarah : 152)

Penuhi syarat-Nya, maka Dia pun akan nemenuhi janji-Nya, Dia akan menunjukkan jalan terbaik dari setiap urusan kita, seberat dan sesulit apapun.

–Hellen Patraliza

(12)

Setiap hari manusia berkutat dengan persoalan, dari yang remeh temeh sampai hal yang penting dan mendesak. Begitulah kesibukan terkadang membuat seseorang  merasa monoton menjalani kehidupan.

Belajar lebih kreatif dalam memandang kehidupan dan persoalan agar hidup lebih hidup.

Mengubah cara pandang untuk mendapatkan hikmah dari persoalan adalah keniscayaan. Hikmah membuat seseorang kaya wawasan dan bijaksana.

“Ubah sudut pandangmu dengan banyak melihat ke luar jendela. Tataplah langit dan matahari, kamu akan temukan banyak arti.”

–Puspa Mafazan

(13)

Apa yang kita pikirkan adalah bagian dari doa, maka hasilnya pun sesuai dengan yang kita harapkan. Berpikirlah positif agar doa menjadi doa yang terbaik.”

–Ifah Latifah

(14)

Saatnya harus berdamai dengan perasaan, seperti kecewa, khawatir, tidak nyaman, su’udzan, tidak suka dan perasaan negatif lainnya.

Jangan biarkan berkelana dalam hati. Jangan biarkan bersemi dalam sanubari yang ada hanya akan menjadi beban. Jangan berpikir ideal karena hanya akan menuntut sempurna. Terima keadaan, tersenyum dan ucapkan Hamdalah

–Khuriyatul Ainiyah

(15)

Sebelum Ramadan benar-benar pergi dan penyesalan benar-benar datang, mari kita lipatgandakan seluruh kebaikan yang masih bisa kita lakukan di penghujung Ramadan tahun ini. Bagaimana jika ini adalah Ramadan kita yang terakhir? Tentu kita ingin mengisinya sebaik dan sesempurna mungkin.

–Eli Halimah

(16)

Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, 

“Barangsiapa mencari teman yang tidak memiliki aib, sungguh ia akan hidup sendiri tanpa teman.” (Sya’bul Iman no. 7887)

Hendaknya kita bercermin untuk melihat kekurangan diri karena ia memantulkan bayangan diri kita apa adanya.

Namun, jangan gunakan teropong untuk melihat kekurangan orang lain karena teropong akan membuat kesalahan kecil menjadi  besar.

–Tatiek R Anwar

(17)

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun, (QS. Al-Mulk : 2)

Mengacu pada ayat tersebut, amalan tidak akan diterima sampai seseorang itu ikhlas dan benar dalam beramal. Pun amalan yang paling baik, dia yang akan mendapat balasan dari Allah Swt.

Mari berlomba-lomba dalam kebaikan.

–Nunun Nurlaila

(18)

Akhlak seseorang bisa dilihat dari sahabatnya. Bila kita dekat-dekat penjual minyak wangi maka akan terkena harumnya. Bila kita dekat-dekat pandai besi maka bisa terpercik apinya.

Maka pilihlah sahabat yang baik.  

“Sahabat yang baik itu, dia akan hadir untuk saling menguatkan dalam kebaikan.”

–Dwi Handayanti

(19)

Ramadan telah mengajarkan kita untuk mengekang hawa nafsu dan memperbanyak amal salih. Namun, kita tidak boleh terlalu percaya diri dengan amal saleh yang kita lakukan karena sebaik-baik muslim adalah yang memiliki rasa takut amalannya tidak diterima. Seperti pesan Allah Swt. dalam Al-Qur’an surah Al-Mukminun ayat 60.

Rasulullah saw. pun menjelaskan ketika ditanya ‘Aisyah, “Apakah mereka orang-orang yang meminum khamr dan mencuri?”

Maka Rasulullah saw. pun menjawab, ”Tidak wahai ’Aisyah. Mereka adalah orang-orang yang berpuasa, menegakkan shalat dan bersedekah akan tetapi mereka merasa takut amalan yang telah mereka kerjakan tidak diterima di sisi Allah. Mereka itulah golongan yang senantiasa berlomba-lomba dalam mengerjakan kebajikan.”

–Leni Cahya

(20)

Setiap manusia tentu pernah bahkan sering mengalami kesulitan, maka ringankanlah kesulitan mereka semampu kita.

 “Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya yang lain.” (HR. Muslim)

–Sri Rohmatiah

++

Ojo dumeh dipasangkan dengan hal yang menyangkut kelebihan:

Ojo dumeh ayu njur ….

Ojo dumeh sugih ….

Ojo dumeh pinter ….

Ojo dumeh kuwoso ….

Ojo dumeh menang ….

“Kelebihan” lalu dihubungan dengan sifat buruk seperti kemayu, pelit, sombong, menangan, kasar, dsb.

Padahal ‘kelebihan’ hanya titipan. Pada saatnya akan diambil oleh Sang Pemilik sejati. Jadi, tak layak untuk merendahkan orang lain.

“Ojo dumeh” adalah nasehat untuk tetap rendah hati, sebesar, setinggi atau seluas apapun potensi dan pencapaian. Tetap bersikap baik dan menghargai orang lain.

“Ojo dumeh” mengingatkan untuk menjaga akhlak mulia.

–Ida Nur Laila

++

Apakah Anda memiliki waktu yang lebih banyak karena memiliki jam tangan yang mahal? Apakah Anda memiliki lebih banyak barang karena harga tas yang mahal?

Jamgan silau oleh harga karena yang memberi manfaat bagi Anda adalah nilai kemanfaatannya. Bukan harganya.

–Cahyadi Takariawan

1 thought on “20 ++ Pesan Kebaikan Hari Keduapuluhenam Ramadan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *