20 September 2026

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

“I’ve always been a spiritual person, and writing makes me feel more connected to my soul and the universe” –SL. Saboviec.

.

Salah satu hal penting yang bisa kita dapatkan dari aktivitas menulis adalah nilai spiritualitas. Seseorang yang rutin menulis akan memiliki pengalaman spiritual yang mendalam. Membaca dan menulis adalah satu rangkaian proses memahami diri sendiri dan alam semesta.

Banyak penulis dunia yang menemukan kedalaman spiritualitas melalui aktivitas menulis. SL. Saboviec, penulis novel Guarding Angel menyatakan, “Saya selalu menjadi orang yang spiritual, dan menulis membuat saya merasa lebih terhubung dengan jiwa saya sendiri dan alam semesta.”

Leo Tolstoy sangat produktif menulis, dan membuatnya memiliki kebiasaan hidup yang sehat dan bercorak spiritualis. Ia bangun pagi jam lima, dan tidur malam paling lambat jam sepuluh. Ia rutin olahraga di alam satu jam sehari, dan sangat memedulikan jenis makanan. Tolstoy menghindari makanan yang mengandung banyak gula, karena itu tidak sehat untuk penulis.

Aktivitas menulis membuat kita selalu berusaha mengetahui semakin banyak hal dan berusaha menjalankan banyak kebiasaan positif dalam kehidupan keseharian. Menjalani protokol kehidupan secara sehat, berusaha menyeimbangkan sisi spiritual, mental, intelektual dan fisik.

Menulis membuat kita terbiasa merenungi dan mengontemplasikan segala sesuatu. Para penulis besar dunia, mencoba mencari hubungan-hubungan misterius antara satu kejadian dengan kejadian lainnya. Mereka merangkai cerita dan berimajinasi bebas, setelah melalui perenungan dan kontemplasi. Ini yang membuat mereka terhubung dengan jiwa mereka sendiri dan alam semesta.

Berbagi “Suara Jiwa”

“All I can do is ‘share my soul,’ as Paulo Coelho puts it. When I focus on that, rather than what the outside world thinks of my work, everything falls into place” –Jennifer Bernard.

Disadari atau tidak, setiap penulis tengah membagikan ‘suara jiwanya’ kepada pembaca dalam setiap tulisan yang dipublikasikan. Baik tulisan fiksi maupun nonfiksi, setiap penulis tak akan bisa keluar dari menuliskan suara jiwanya sendiri. Maka jika Anda membaca buku atau tulisan apapun, selalu bisa mencerminkan suara jiwa penulisnya.

Menuliskan sesuatu yang sesuai dengan ‘suara jiwa’ penulis, akan lebih kuat bertenaga dibandingkan harus menulis sesuatu yang bertentangan dengan suara jiwanya. Mengapa ada penulis yang bersedia menulis sesuatu yang bertentangan dengan suara jiwanya sendiri? Tentu ada sangat banyak alasan. Salah satunya adalah alasan tugas dari instansi tempat bekerja, atau sebagai content creator yang harus menulis sesuai pesanan pelanggan.

Maka salah satu cara mempertahankan spirit menulis adalah dengan menyuarakan berbagai dinamika yang berkembang dalam jiwanya. Ini akan membuat menulis terasa mengalir, tidak mengalami sumbatan yang disebabkan tekanan perasaan atau tekanan nilai dalam dirinya. Ia bisa leluasa menyampaikan suara jiwanya yang terdalam melalui karya tulis kreatif dalam berbagai tema.

Jennifer Bernard, penulis novel The Rockwell Legacy dan puluhan lainnya menyatakan, “Yang bisa saya lakukan hanyalah ‘berbagi jiwa saya,’ seperti yang dikatakan Paulo Coelho. Ketika saya fokus pada hal itu, daripada apa yang dunia luar pikirkan tentang tulisan saya, semuanya menjadi pada tempatnya”.

Kembali kepada kesejatian diri, kembali kepada hal mendasar dalam literasi, akan lebih membuat produktif menulis daripada pusing oleh komentar orang terhadap hasil dan kualitas tulisan kita. Biar saja tulisan kita menjadi bahan kritik dan cemoohan, yang paling penting kita telah menuliskan hal-hal yang kita yakini benar dan bermanfaat.

Menemukan Kesejatian Diri

“The hardest part might well be shoving aside peer pressure, advertising pressure, corporate world pressure, religious pressure, pop culture pressures, and much of today’s media wash, so that you can be your own person, thinking independently, developing your own ideas, flexing your own creative muscles and establishing a clear voice/vision that’s your own, not derivative” –Eric E. Wallace.

Setiap penulis memiliki jati diri masing-masing. Sebagai insan beriman, tentu kita memilih untuk memiliki jati diri yang sesuai keimanan masing-masing. Kita tumbuh pada masyarakat yang religius dan menghormati nilai-nilai keagamaan. Hendaknya value seperti ini yang akan mewarnai semua jenis tulisan kita.

Bagi insan beriman, jati diri keimanan bukanlah ‘pressure’ yang membebani. Karena ini pilihan sadar sekaligus bertanggung jawab. Memang tidak mudah untuk meramu dalam tulisan kreatif –antara kebebasan imajinasi dan kebebasan berpendapat, dengan batasan-batasan nilai yang menjadi jati diri kita. Bahkan menurut Eric E. Wallace, ini menjadi bagian tersulit setiap penulis.

“Bagian tersulit penulis adalah,” ungkap Eric E. Wallace, penulis Mind After Mind dan puluhan buku lainnya menyatakan,  “mengesampingkan tekanan pertemanan, tekanan iklan, tekanan dunia korporat, tekanan religiusitas, tekanan budaya pop dan tekanan media, sehingga Anda bisa menjadi diri sendiri, berpikir secara mandiri, mengembangkan ide-ide Anda sendiri, melenturkan otot kreatif Anda sendiri dan membangun suara/penglihatan yang jelas milik Anda sendiri, bukan tiruan.”

Bertahanlah pada value, ini akan menyelamatkan jati diri kita. Mungkin ada sangat banyak orang mencela dan mencaci maki, namun jika pilihan jati diri sudah kita tetapkan, semua akan baik-baik saja. Bagi insan beriman, ide-ide kreatif yang muncul darinya tak akan merusak keimanannya. Seliar-liar imajinasi yang muncul dariinsan beriman, tak akan keluar dari keimanannya.

Pada akhirnya, suara jiwa insan beriman menjadi gaya dan corak natural karena telah menjadi kepribadiannya. Bukan karena tekanan, bukan karena paksaan, namun pilihan sadar dan bertanggung jawab untuk menjadikan menulis sebagai jalan ketaatan dan pengabdian.

“That would be my advice to others—once you’ve found that natural style (and it’s different for everyone) just stick with it. Don’t write in a way that you’re not comfortable with—your readers will notice” –Simon Williams.

Simon Williams seorang grandmaster catur sekaligus penulis catur menyatakan, “Ini saran saya untuk siapapun— begitu Anda menemukan gaya alami (dan itu berbeda untuk semua orang), tetaplah dengan itu. Jangan menulis dengan cara yang tidak Anda sukai—pembaca Anda akan menyadarinya.”

Bahan Bacaan

Colleen M. Story, 30 Quotes to Boost a Writer’s Spirit, https://writingandwellness.com, 26 Desember 2016

1 thought on “Menjaga Spirit Menulis – 8

  1. Menjadi diri sendiri dan menulis dengan gaya bahasa sendiri itu lebih menjiwai. Mudah di mengerti dan akan cepat terealisasi. Semoga bisa saya ikuti. Syukran katsira ustadz Cahyadi Takariawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *