Oleh : Kantin Emak Produktif
(1)
Ketika kita memberikan kebaikan kepada orang lain, orang tersebut tidak membalas dengan ucapan terima kasih, itu ujian keikhlasan yang ringan. Ujian keikhlasan yang berat adalah manakala kita memberikan kebaikan kepada orang lain tetapi orang tersebut memfitnah. Seseorang akan lulus ujian keikhlasan manakala tidak mengharap balasan dari manusia tetapi mengharap balasan dari Allah Swt..
–Wydiesti
(2)
Saudaraku sungguh waktu berlalu begitu cepat, rasanya baru saja memasuki Ramadan, tetapi begitulah tabiat waktu, ia akan cepat berlalu. Masa yang telah lalu, tidak akan pernah kembali dan waktu sangatlah berharga. Mari kita isi hari Ramadan yang tersisa ini dengan memanfaatkannya sebaik mungkin untuk memperbanyak amal kebaikan. Sungguh kesempatan bertemu Ramadan adalah hal yang sangat berharga dalam hidup ini.
–Ayu Muliyati
(3)
Setiap orang punya waktu yang sama 24 jam dengan kesibukan masing-masing. Sebagai umat Islam, sudahkan kita memastikan ada waktu yang kita berikan untuk membersamai dengan membaca Al-Quran?
Rasulullah saw., bersabda, “Amalan puasa dan membaca Al-Qur’an akan memberi syafa’at bagi seorang hamba di hari kiamat. Puasa berkata : Wahai Rabb, aku telah menahannya dari makan dan syahwat di siang hari, maka izinkanlah aku memberi syafa’at kepadanya. Dan Al-Qur’an berkata : Aku menahannya dari tidur di waktu malam, maka izinkanlah aku memberi syafa’at kepadanya, maka keduanya pun diizinkan memberi syafa’at.” [HR. Ahmad, Shahih At-Targhib: 1429]
Maka, sesibuk apapun harimu, sempatkan membaca Al-Quran.
–Endang SP Usman-
(4)
Rasulullah saw., menjelaskan dalam sabdanya mengenai keutamaan bersedekah di masa sulit, “Wahai Rasulullah, sedekah yang mana yang lebih besar pahalanya?” Beliau menjawab, “Engkau bersedekah pada saat kau masih sehat serta pelit (sulit mengeluarkan harta), saat kau takut menjadi fakir, dan saat kau berangan-angan menjadi kaya ….“ (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 1419 dan Muslim no. 1032).
–Dewi Indrayati
(5)
Saat kita mengalami situasi yang tak sesuai ekspektasi, mengeluh dan merutuk keadaan tak akan pernah memperbaiki kenyataan. Cobalah mengubah sudut pandang, maka kita akan mampu melihat hikmahnya. Sungguh, di setiap kesulitan, Allah ajarkan tentang arti kesabaran.
–Atifah Saleha
(6)
Cermin senantiasa memantulkan bayangan setiap benda di depannya, persis seperti aslinya. Demikian pula kehidupan di muka bumi. Apa yang kembali kepada kita, adalah apa yang kita buat sebelumnya. Jika itu baik, akan kembali berupa kebaikan. Jika buruk, maka keburukan pula yang datang. Begitulah hukum tabur tuai. Siapa menanam, dia yang kan memanen. “Barang siapa mengerjakan kebaikan sebesar zarrah pun, maka ia akan melihatnya. Barang siapa mengerjakan keburukan sebesar zarrah pun, maka ia akan melihatnya.” (Al- Zalzalah : 7-8)
–Junayda
(7)
Membeli sesuai kebutuhan, bukan karena keinginan sesaat apalagi karena hawa nafsu. Berpuasa di bulan Ramadan sejatinya mengajarkan kita untuk bersabar, bisa menahan diri dari keinginan-keinginan. Puasa sendiri berasal dari kata shiyam yang artinya adalah : Menahan.
–Meivany Azarini
(8)
Saat kita berusaha mengubah segala sesuatu sesuai dengan keinginan. Belajar untuk mengikhlaskan, merelakan. Serahkan semua kepada Allah Swt.
–Wince Jaminan
(9)
Jika tidak dapat meraih apa yang kita inginkan, janganlah bersedih. Yakinlah Allah akan memberikan apa yang kita butuhkan. Tetaplah bersyukur jalani hidup dengan penuh keikhlasan. Jangan mengharapkan hujan dari langit, air di tempayan dibuang. Genggamlah rizki yang dititipkan Allah untuk kita walau hanya sedikit, tetapi berkah dari pada rizki yang banyak tetapi membawa kemudharatan.
–Ifah Latifah
(10)
“Ribuan kilometer perjalanan berawal dari satu langkah kaki.” Capaian kesuksesan seseorang itu berawal dari tindakan yang sederhana.
–Dwi Handayanti
(11)
Melihat ke atas membuat hati semangat untuk maju. Melihat ke bawah membuat hati bersyukur atas semua yang ada. Melihat ke belakang sebagai pengalaman berharga. Melihat ke depan jadi lebih baik dan sukses. “Sesungguhnya Allah Swt. tidak akan mengubah nasib seseorang atau suatu kaum, apabila orang atau kaum tersebut tidak mau mengubahnya. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menentang-Nya. Tak ada pelindung bagi mereka sebaik-Nya.” (QS. Ar-Ra’d : 11).
–Dede Nurjanah
(12)
Menunggu itu perlu sabar. Berangkat atau tunda haji tahun ini bukan wewenangmu. Takdir Allah selalu baik. Tuliskan saja sederet harapan pada-Nya, sambil berupaya mendekati jalan yang kira-kira nyambung dengan destinasimu. Waktu adalah pedang, waktu adalah emas. Keduanya benar, maka apabila kita tidak memanfaatkannya dengan baik, merugilah. Waktu cepat berlalu dan tak pernah kembali.
–Yulia K Rohima

(13)
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Hasyr : 18). Ramadan menjadi menjadi motivasi bagi kita untuk mempersiapkan hari esok (akhirat) dengan memperbanyak amal solih dan meraih Lailatul Qadar. Betapa banyak orang yang mengejar dunia dan membuat perencanaan yang matang tetapi melupakan akhirat. Semoga orientasi amalan kita adalah selalu mencari keridhaan Allah dan kita menjadi cermin akhirat bagi saudara teman yang lainnya.
–Nur Pujiasih
(14)
Belajar tidak selalu di dalam ruangan atau meja tulis bentuk lebar. Semua ruang bisa dipergunakan untuk belajar. Dari pasangan hidup kita bisa belajar, dari anak kita bisa belajar, bahkan diri sendiri juga sarana belajar. Allah berikan akal untuk belajar dan hanya akal yang mengenal Allah lah yang mampu menangkap hikmah belajar.
–Syasha Lusiana
(15)
Sepuluh hari pertama telah berlalu, tak bisa dipanggil kembali. Ada banyak waktu yang telah terbuang sia-sia dan kita hanya bisa menyesalinya. Kita berharap dapat membalasnya pada sepuluh hari terakhir dan malam Lailatul Qadar. Namun siapakah yang bisa menjamin kita masih punya kesempatan? Sejatinya waktu yang kita miliki hanyalah saat ini. Manfaatkanlah sebelum terlewatkan.
“Apabila kamu berada di sore hari janganlah kamu menunggu (melakukan sesuatu) hingga pagi hari (datang). Apabila kamu berada di pagi hari jangankah menunggu (melakukan sesuatu) hingga sore (datang). Gunakan waktu sehatmu untuk menghadapi sakitmu, dan waktu hidupmu untuk menghadapi matimu.” (HR. Bukhari)
–Leni Cahya
(16)
Memotivasi diri butuh pengakuan, komitmen dan kesungguhan untuk bangkit. Kalimat pun berhamburan di kepalaku lalu aku pergi sesaat menata kembali poranda seperti sebuah puzle hingga wujud itu menjadi senja yang indah di benakku, di hening-Mu dalam tetes hujan yang kian menderas.
–Yuli Pinasti
(17)
Setiap hari kita berharap kebaikan dan kebaikan. Berharap bertambah keimanan kita kepada Allah Swt, sehingga kehidupan yang penuh tantangan bisa dijalani sesuai aturan-Nya. Ada yang berhenti atau jalan di tempat. Ada yang terus berjalan, tidak peduli panas dan hujan. Ibarat petani bercocok tanam berusaha menabur benih yang baik dan bersabar dengan pertumbuhannya. Seperti halnya bunga, dia akan bermekaran pada saatnya. Rajin menyiramnya dengan ikhtiar, memberi pupuk doa dan menaburinya dengan tawakkal.
Allah akan melihat usaha kita. Tidak ada yang sia-sia di hadapan-Nya. Jika tidak hari ini, esok masih ada matahari.
–Puspa Mufazan
(18)
Barang siapa merendahkan hati untuk bertanya dan membuka telinga, dia adalah seorang pembelajar sejati. Belajar tidak hanya diartikan dengan membaca buku tebal, mendengarkan guru mengajar, mengerjakan tugas, serta menghafal kalimat demi kalimat. Belajar jauh lebih dari itu. Penyempitan makna belajar dialami saat ini karena hidup ini belajar tentang kehidupan itu sendiri.
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (QS. Al-Mujadilah : 11)
–Nunun Nurlaila
(19)
Stres bisa terjadi kepada siapa saja yang mendapatkan tekanan, beban pikiran yang berlebihan. Jika kita ingin fit jalani hidup, maka harus berupaya membebaskan diri dari stres. Mengapa demikian? Karena stres membuat kita jadi pelupa, memengaruhi mood, fungsi otak menurun, gangguan ingatan, lelah, tekanan darah tinggi, sakit maag.
Untuk itu waspadalah, mendekatlah kepada Allah Swt.. Cepat mengubah rasa pesimis mejadi optimis dan ingat-ingat peristiwa yang pernah membuat bahagia dalam hidup yang membuat tersenyum dan perbanyak membaca atau menghafal Al-Quran.
–Warlinah
(20)
Ayah, Bunda! Kita tidak akan selamanya mendampingi anak-anak. Jangan buat mereka selamanya bergantung pada kekayaan, jabatan, kekuasaan, bahkan ilmu kita. Tanpa kita sadari itu akan mengerdilkan mentalitas mereka.
Mulailah membangun kepercayaan diri anak agar memiliki kekuatan sendiri. Selemah apapun kekuatan yang mereka miliki, jauh lebih baik dari pada kehebatan dan kekuatan yang bersumber dari kita sebagai orang tua.
— Eli Halimah
(++)
Sudah fitrahnya manusia dalam mengerjakan sesuatu menghadapi kesulitan dan akhirnya gagal. Namun, percayalah di balik kesusahan ada kemudahan dan kesuksesan. “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” (QS. Al-Insyirah: 5-6)
–Sri Rohmatiah
(++)
Dua hal yang merampas bahagia adalah menyesali masa lalu dan merisaukan masa depan. Yang lalu tak dapat diulang, tinggal menginsyafi dan menjadi pelajaran. Terkungkung masa lalu menyebabkan tak punya semangat melaju. Yang akan datang belum terjadi dan dapat dirancang. Upaya hari ini bagian dari memastikan masa depan. Fokus saja hari ini, menikmati proses dan memilih bahagia. Perjuangkan dan nikmati hari ini sebab sukses dan bahagiamu diawali hari ini.
— Ida Nur Laila
(++)
Betapa banyak nikmat lupa kau syukuri, sementara engkau selalu menginginkan nikmat yang belum kau dapatkan. Tidakkah engkau takut bahwa nikmat yang telah diberikan kepadamu akan dicabut lagi, lantaran tidak engkau syukuri? Maka Nabi saw., mengajarkan doa,
اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ
“Allahumma inni a’udzubika min zawali ni’matika, wa tahawwuli ‘afiyatika, wa fuja’ati niqmatika, wa jami’i sakhathika. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hilangnya kenikmatan yang telah Engkau berikan, dari berubahnya kesehatan yang telah Engkau anugerahkan, dari siksa-Mu yang datang secara tiba-tiba, dan dari segala kemurkaan-Mu” (HR. Muslim no. 2739).
–Cahyadi Takariawan
