19 September 2026

.

Oleh: Dudi Safari (Alumni KMO Basic Batch 46 dan Kelas Antologi 15)

Ketika Anda menulis, saat itu Anda bukan lagi calon penulis tapi Anda adalah benar-benar seorang penulis” –Cahyadi Takariawan.

.

Sebaris kalimat inilah yang selalu terngiang-ngiang dan terus saya baca berkali-kali. Kalimat yang sangat simple namun dalam maknanya dan itu menjadi motivasi bagi saya untuk terus mencipta karya tulis.

Kalimat penuh motivasi itu saya dengar pertama kali dari mentorku Pak Cahyadi Takariawan di Kelas Menulis Online (KMO) Basic Batch 46 dan Kelas Antologi 15. Semenjak mengikuti dua kelas menulis ini, wawasan tentang kepenulisan saya bertambah banyak. Karena kelas ini tak hanya belajar teorinya saja, namun kita dilatih untuk terus menerus menulis.

Motivasi Menulis

Menuangkan segala rasa dalam tulisan, begitu deras mengalir ide-ide, karena referensinya adalah diri kita sendiri” –Dudi Safari, 2022.

Kuntowijoyo, salah seorang sastrawan Indonesia mengatakan bahwa syarat menulis itu hanya tiga, menulis, menulis dan menulis. Bagi penulis pemula seperti saya, motivasi adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan. Bagaikan anak kecil yang sedang belajar menaiki sepeda, dia harus terus dibimbing orang dewasa dan ditopang dengan roda tiga.

Saat tulisan rasanya acak-acakan tak karuan, saya kembali melihat panduan kepenulisan yang benar. Belajar menempatkan tanda baca yang benar dari buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI), mengecek kembali Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan membaca ulang artikel di blog menulis.nurdin.id nya pak Cah.

Menulis adalah bercerita. Rasanya menulis dengan gaya bertutur sangatlah membantu bagi saya seorang pemula. Menuangkan segala rasa dalam tulisan, begitu deras mengalir ide-ide, karena referensinya adalah diri kita sendiri.

Mengikuti Event Kepenulisan

Saya terobsesi untuk mengumpulkan 100 e-sertifikat kepenulisan. Hanya satu tujuannya : mengukuhkan diri bahwa saya adalah seorang penulis” –Dudi Safari, 2022.

Banyak event kepenulisan yang di-share di media sosial, semisal Facebook, Instagram, blog dan sebagainya. Para pemilik akun tersebut menyediakan berbagai hadiah menarik dari mulai uang tunai jutaan rupiah, tropi, tulisan dibukukan sampai dengan penghargaan berupa e-sertifikat.

Menarik bagi saya untuk ikut mengasah ilmu kepenulisan dalam berbagai lomba tersebut. Lomba menulis artikel, puisi, cerpen dan lain-lain. Suatu kebanggaan bagi saya ketika tulisan tersebut mampu menembus kriteria penyelenggara lomba.

Sekitar enam event kepenulisan nasional yang pernah saya ikuti, di antaranya lomba menulis puisi. Dari 600 peserta yang mengikuti, hanya 300 peserta saja terpilih sebagai puisi yang berhak dibukukan dan ber-ISBN.

Di antara 300 peserta itu puisi saya termasuk yang layak dibukukan. Rasa senang dan tentu saja bahagia ketika tulisan kita menjadi sesuatu yang dihargai dan terpilih menjadi tulisan yang layak dibukukan.

Event ini benar-benar mengasah ilmu kepenulisan saya, tak ayal lagi saya pun menjadi ketagihan untuk menulis di setiap perlombaan menulis. Akhirnya saya terobsesi untuk mengumpulkan 100 e-sertifikat kepenulisan. Hanya satu tujuannya : mengukuhkan diri bahwa saya adalah seorang penulis.

Obsesi ini semoga ada di “jalan yang benar” artinya obsesi tidak menjadikan diri saya menjadi seorang yang sombong lagi angkuh. Karena saya berkeyakinan bahwa ketika kita menulis maka kita adalah penulis, bukan calon penulis.

.

Dudi Safari, lahir dan tinggal di Sumedang. Alumni Basic Batch 46 dan Antologi 15.

1 thought on “Ketika Kita Menulis, Kita Adalah Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *