19 September 2026

.

Oleh : Eka Putra Aprilyanawati (Alumni Kelas Menulis Online Alineaku)

Kemampuan berbicara sebenarnya merupakan salah satu pendukung dari kemampuan menulis” –Eka Putra Aprilyanawati, 2022.

.

Berbicara dengan tulisan ataupun menulis untuk berbicara, adalah hal yang hampir sama; tergantung bagaimana kita mengartikannya. Pada kedua hal tersebut  terdapat persamaan, yaitu kita harus pandai mengolah kata dan kalimat, agar audiens forum atau pembaca tulisan tidak bosan dan meninggalkan kita.

Beberapa orang di antara kita lebih hebat dalam kemampuan berbicara daripada menulis. Sebagian yang lain, lebih hebat dalam menyusun tulisan dibanding berbicara di depan umum. Ada yang hebat dalam keduanya, ada pula yang lemah dalam keduanya. Namun keduanya merupakan keterampilan yang bisa dipelajari dan dikembangkan.

Pendengar atau audiens dalam suatu forum mungkin tidak akan membuat penilaian yang mendetail tentang tata bahasa ataupun susunan kata dari pembicara. Mereka hanya akan menikmati isi pembicaraannya. Jika isinya menarik, cara penyampaian menarik, audiens tidak akan peduli lagi dengan tata bahasa yang disampaikan pembicara.

Namun ketika membaca sebuah tulisan, apalagi jika membaca secara berulang, akan mudah tampak dengan jelas apabila dalam tulisan tersebut terdapat tata bahasa yang tidak pas. Di sini letak perbedaan antara keduanya. Dalam hal ini, menulis bisa dikatakan lebih sulit dibandingkan berbicara.

7 Persamaan Menulis dan Berbicara

Orang yang percaya diri lebih mampu mendorong dirinya sendiri untuk menjadi lebih baik. Termasuk dalam melakukan pembicaraan maupun membuat tulisan” –Eka Putra Aprilyanawati, 2022.

Sebenarnya, menulis itu sama saja dengan berbicara, yaitu sama-sama berkomunikasi dengan kata-kata serta kalimat. Bedanya ada pada media. Berbicara menggunakan suara, sedangkan menulis menggunakan tulisan.

Dengan memahami hal ini, maka saat menulis kita bisa membayangkan suasana pembicaraan dalam forum. Jika kita sudah terbiasa berbicara, maka bawalah suasana bicara tersebut ke dalam tulisan.

Berikut tujuh persamaan menulis dengan berbicara, agar saat menulis sama mudahnya dengan bicara.

  • Salam pembuka

Memberikan salam adalah salah satu norma kesopanan antar sesama. Penting dilakukan, sebagai bentuk perkenalan diri, di mana seseorang menciptakan kesan yang baik  kepada orang lain.

Salam pembuka bisa menciptakan suasana yang lebih akrab, nyaman dan menghindari adanya kesalahpahaman. Tidak hanya pada saat berbicara secara langsung seseorang memberikan salam, di dalam tulisan juga penting dilakukan.

Pada sebuah buku, salam pembuka ini biasanya tertuang dalam bagian kata pengantar ataupun bagian pembuka. Namun untuk artikel pendek, bisa ditampilkan di bagian pendahuluan.

  • Percaya diri

Percayaan diri adalah kemampuan seseorang untuk melakukan hal-hal sesuai keinginan dan memiliki tanggung jawab akan tindakan yang dilakukannya. Kepercayaan diri juga dapat diartikan bagaimana sikap seseorang berdasarkan pencapaian yang telah berhasil dilakukan.

Sepenting apa kepercayaan diri perlu dimiliki? Kepercayaan diri sangatlah penting, karena menentukan jalan hidup seseorang. Orang yang percaya diri lebih mampu mendorong dirinya sendiri untuk menjadi lebih baik. Termasuk dalam melakukan pembicaraan maupun membuat tulisan.

Berbicara ataupun menulis, sangat penting memiliki rasa percaya diri. Jika tidak percaya diri, akan grogi saat bicara, dan akan bingung saat menulis. Maka miliki rasa percaya diri, niscaya Anda lancar menulis sebagaimana lancar bicara.

  • Tidak dengan emosi negatif

Pada saat menulis maupun berbicara secara langsung dengan orang lain, tidak patut kita menuangkan dengan emosi negatif. Meskipun emosi adalah salah satu hal yang alami bisa terjadi pada seseorang, akan tetapi harus bisa menempatkan diri.

Contoh emosi negatif misalnya menumpahkan kemarahan atau kekecewaan kepada seseorang melalui pembicaraan maupun tulisan. Selain bisa menyinggung orang lain, isi pembicaraan atau isi tulisan tersebut bisa berpotensi melanggar UU ITE terkait pencemaran nama baik atau ujaran kebencian.

Maka kita harus mampu mengendalikan emosi negatif sebelum menulis maupun berbicara dengan orang lain. Karena akan berdampak buruk, orang lain dapat berbalik membenci dan meninggalkan kita.

Ketika sedang mengalami emosi negatif, akan lebih baik jika kita diam sejenak untuk menenangkan diri. Tarik napas dalam, mencoba untuk berpikir jernih, sampai merasa tidak dikuasai emosi negatif. Setelah tenang, baru mulai bicara atau menulis.

  • Menetapi etika berkomunikasi

Mengenali lawan bicara ataupun segmen pembaca dari tulisan kita, sangat penting untuk menentukan sikap dan etika. Memilih menggunakan bahasa formal atau nonformal, pemilihan kosa kata, cara menyapa, dan lain sebagainya, ditentukan oleh siapa yang menjadi audiens atau segmen pembaca kita.

Pada saat seorang mahasiswa berbicara dengan dosen tentu sebaiknya berbicara dengan bahasa formal, memilih kosa kata yang sopan, dengan cara yang hormat. Namun ketika berbicara dengan sesama teman, terlebih teman akrab, maka kita dapat menggunakan bahasa nonformal, kosa kata gaul dan cara menyapa yang santai.

Sama halnya pada saat menulis, perhatikan siapa segmen pembaca tulisan kita. Ketika menulis artikel ilmiah atau akademik, harus ditulis dengan bahasa formal dan baku. Namun untuk jenis tulisan kreati dan populer, bisa  menggunakan kombinasi antara bahasa formal dan nonformal.

  • Menggunakan kata yang tepat dan tidak bertele-tele

Secara umum, orang akan merasa bosan dengan bentuk pengulangan. Kata-kata yang bertele-tele dan berulang bisa membuat orang lain merasa dalam lingkup yang sempit.

Kebanyakan orang akan lebih suka dengan sesuatu yang diungkap ringkas, padat dan jelas. Tulisan yang bagus adalah tulisan yang lebih mudah dicerna melalui penggunaan kalimat yang sederhana, efektif dan efisien.

Baik berbicara maupun menulis, hendaknya menggunakan bahasa yang sesuai dengan audiens ataupun segmen pembaca. Pilih kosa kata yang tepat agar tidak membuat lawan bicara atau pembaca seolah terkesan bodoh.

  • Kemampuan berimajinasi

Dalam memberikan pemahaman kepada orang lain akan lebih mudah menggunakan perumpamaan atau cerita. Misalnya dengan memberikan contoh kasus atau contoh kejadian untuk menggambarkan suatu kondisi. Hal ini mengajak pendengar atau pembaca berimajinasi.

Dalam tulisan, ada gaya telling dan gaya showing. Keduanya bisa dipadukan dengan tepat. Gaya telling artinya memberi tahu pendengar atau pembaca secara langsung. Gaya showing artinya mengajak pembaca atau pendengar berimajinasi, membayangkan sesuatu, sehingga mereka bisa mengambil kesimpulan sendiri.

  • Tidak mendominasi

Beberapa orang akan lebih nyaman apabila diberikan pilihan atau solusi. Namun ada pula orang yang cenderung lebih sulit memilih. Sebaiknya, pola pembicaraan ataupun tulisan kita, tidak mendominasi dengan pemikiran pribadi kita sebagai solusi mereka.

Dalam tulisan, terutama jenis nonfiksi, akan lebih baik apabila menampilkan beberapa pendapat sebagai materi pendukung. Hal ini membuat pembaca memiliki kekayaan perspektif dan pilihan.

Saling Mendukung

Keterampilan menulis akan tumbuh apabila keterampilan berbicara sudah kita miliki” –Eka Putra Aprilyanawati, 2022.

Sebelum menusia bisa menulis, terlebih dahulu mereka bisa bicara. Lihatlah pertumbuhan dan perkembangan bayi. Mereka berlatih mengucapkan kata-kata, hingga akhirnya fasih bicara. Pada fase perkembangan berikutnya, mereka baru belajar untuk menulis.

Dengan demikian, kemampuan berbicara sebenarnya merupakan salah satu pendukung dari kemampuan menulis. Jika kita telah terbiasa berbicara, sebenarnya juga akan mudah untuk menulis. Berbicara dan menulis hanya berbeda dari segi media. Keduanya merupakan keterampilan penting dalam menyampaikan informasi.

Keterampilan menulis akan tumbuh apabila keterampilan berbicara sudah kita miliki. Sebaliknya, jika sudah terampil menulis, akan mendukung ketarmpilan berbicara. Keduanya bersifat saling mendukung.

.

Eka Putra Aprilyanawati, lahir di Boyolali pada 9 April 1987. Saat ini tinggal di Sragen, Jawa Tengah. Menyelesaikan pendidikan di Akbid Kusuma Husada Surakarta, saat ini bertugas di Puskesmas Purwodiningratan Surakarta. “Nikmati hidup dengan santai tapi tidak menyepelekan,” demikian motto hidupnya.        Nomor HP / WA: 081222226714. Alamat email : [email protected].

1 thought on “Agar Menulis Semudah Bicara

  1. Selamat pagi kak Eka Putra Aprilyanawati. Manfaat menulis sungguh banyak sekali. Di antaranya melatih berbicara. Seperti saya yang belum bisa PD berbicara, saya lebih baik pilih tulis saja. Terima kasih remindernya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *