.
Oleh: Slamat Raharjo (Alumni KMO Alineaku / 2021)
“Proses menulis saya adalah hasil yang pagi-pagi ditanam oleh orang tua saya dan kubang-kubang lingkungan hidup masa kanak-kanak di Sekolah Dasar” –JB. Mangunwijaya
.
Setiap penulis –baik pemula maupun yang telah terbiasa, pasti sepakat akan pentingnya ide atau gagasan. Namun bagi penulis pemula seperti saya, ide juga sering menjadi hal yang menyulitkan untuk memulai menulis.
Apakah sebenarnya ide itu? Bagaimana proses kita mendapatkan ide? Bagaimana mengembangkan dan meramu ide menjadi sebuah tulisan? Bagaimana merawat dan menjaga konsistensi ide dalam tulisan? Masih banyak pertanyaan lain yang bisa muncul berkaitan dengan peranan ide dalam menulis.
Pengertian Ide
“Setiap orang memiliki ide yang dapat dikembangkan menjadi tulisan” –Slamat Raharjo, 2022.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ide adalah rancangan yang tersusun di dalam pikiran, dapat berupa sejumlah gagasan atau cita-cita (Balai Pustaka, 2007: halaman 416).
Dari definisi singkat tersebut, para penulis pemula dapat berbesar hati. Ide dapat menjadi milik semua orang. Bukankah setiap orang dapat memiliki cita-cita, gagasan, berbagai rancangan dalam pikirannya?
Manusia disebut juga sebagai homo sapiens, mahluk yang mampu berpikir. Dengan kata lain setiap orang memiliki ide yang dapat dikembangkan menjadi tulisan.
Jika ide atau gagasan dianggap merupakan modal bagi seorang penulis berarti semua orang sebenarnya memiliki potensi untuk dapat menjadi penulis. Persoalannya mungkin terletak pada cepat atau lambatnya untuk menemukan sebuah ide.
Penulis yang sudah terlatih akan cenderung lebih mudah mendapat ide sebagai modal untuk melahirkan sebuah tulisan. Sementara penulis pemula membutuhkan waktu yang lebih lama. Hal ini tentu saja tidak terlepas dari latihan atau pembiasaan hidup yang dijalani.
JB. Mangunwijaya, penulis yang sangat produktif hingga akhir hanyatnya pernah menyampaikan, “…proses menulis saya adalah hasil yang pagi-pagi ditanam oleh orang tua saya (yang keduanya guru SD) dan kubang-kubang lingkungan hidup masa kanak-kanak saya di Sekolah Dasar”.
“Dalam SD kami dulu, dengan guru-guru biarawan-biarawati Belanda, murid-murid benar-benar dididik untuk berfikir, memperdalam citarasa dan terutama cinta pada kebenaran, pada fairplay, pendek kata pemupukan cita-cita manusia mulia hati”.
“Apakah usaha guru-guru saya itu saya tangkap tentulah masih menjadi soal, tapi yang jelas, sungguh bermutulah metode-metode mereka memuliakan dunia pikiran, citarasa kanak-kanak; melalui pendidikan gemar mencari cakrawala-cakrawala yang luas, pengajaran ilmu bumi yang menyalakan fantasi ke negeri-negeri jauh dan adat kebudayaan yang menarik, penceritaan peristiwa-peristiwa sejarah yang menyuburkan imajinasi agar anak mampu menembus ruang dan waktu, semua itu kami terima dari guru-guru SD kami” (Erneste Pamusuk, 2009, hal. 120).
Proses Meramu Ide
“Ide bagaikan secuil gagasan yang tersembunyi di antara bongkahan gagasan lainnya yang memenuhi pikiran kita” –Slamat Raharjo, 2022.
Bagaimana mengembangkan dan meramu ide menjadi sebuah tulisan? Ide tak pernah tampil sebagai sejumlah gagasan yang telah tersusun rapi dan siap dituangkan menjadi sebuah tulisan. Ide bagaikan secuil gagasan yang tersembunyi di antara bongkahan gagasan lainnya yang memenuhi pikiran kita. Ide perlu dibersihkan sehingga kelihatan mencorot (Jawa: bersinar).
Membersihkan ide berarti memilah dan memilih berbagai gagasan yang muncul sehingga kita temukan gagasan pokok untuk dikembangkan menjadi sebuah tulisan. Bagi seorang penulis pemula seperti saya, tak jarang proses menulis sudah berhenti pada tahap ini. Rencana menulis terhenti karena gagal menemukan mana gagasan pokok yang layak dikembangkan menjadi sebuah tulisan.
Selanjutnya ide atau gagasan yang telah dibersihkan dari berbagai gagasan yang tidak relevan perlu dibentuk seperti kita inginkan. Saya jadi ingat pengalaman awal di Kelas Menulis Online yang diasuh oleh Pak Cahyadi. Ketika saya telah memiliki sebuah ide langkah selanjutnya akan saya tuangkan dalam bentuk tulisan apa? Saya mau membuat tulisan jenis fiksi, non fiksi, atau faksi?
Langkah pembentukan ide selanjutnya adalah menyusun outline. Dengan outline, proses menulis bisa terarah, tidak melebar dan tidak meluas kemana-mana, serta hanya berisi hal-hal yang relevan.
Berdasarkan outline yang telah disusun kita dapat melanjutkan proses penulisan. Agar tulisan yang kita kita buat lebih berisi, maka kita perlu memperkaya tulisan itu dengan berbagai data yang relevan.
Keterampilan memilih berbagai diksi, menuangkan gagasan dalam kalimat sederhana, dan membingkai gagasan pokok dalam sebuah alinea atau paragraf yang baik tentu akan membuat tulisan kita menjadi lebih menarik.
Tulisan telah selesai. Apakah yang masih perlu kita lakukan untuk merawat dan menjaga konsistensi ide dalam tulisan itu?
Jika sebelumnya kita telah berlelah-lelah menulis, mengolah ide dengan berbagai sudut pandang seorang penulis kini saatnya mengistirahatkan sejenak tulisan itu. Kita dapat mengambil waktu sejenak untuk membaca beberapa kali tulisan yang kita buat. Sekarang kita beralih dari sudut pandang penulis kepada sudut pandang seorang pembaca.
Pada tahap ini mungkin kita dapat menambahkan atau mengurangi beberapa gagasan pendukung sehingga menjadi semakin jelas ide pokok yang ingin kita sampaikan. Kita juga dapat memperbaiki pemilihan diksi, penyusunan kalimat atau paragraf agar pembaca lebih nyaman menangkap pesan yang ingin kita sampaiakan lewat tulisan tersebut.
Setelah dirasa cukup maka tiba saatnya kita melepas ide tersebut kepada pembaca. Biarlah ia berkelana di sudut-sudut benak pembaca, dewasa berkat celaan atau pujian yang diterima.
.
Slamat Raharjo, lahir di Tunggul Jawa Timur, 24 Juli 1971. Tinggal di Kulonprogo DIY. Ia adalah seorang guru Pendidikan Agama Katolik Sekolah Dasar (SD) Negeri Totogan, Samigaluh, Kulon Progo, DIY. Nomor HP : 085801310800, email: [email protected]
