.
Oleh : Cahyadi Takariawan
“Working inspires inspiration. Keep working. If you succeed, keep working. If you fail, keep working. If you are interested, keep working. If you are bored, keep working” –Michael Crichton.
.
Aktivitas menulis yang dilakukan dengan rutin dan teratur, akan memunculkan semakin banyak inspirasi. Hal ini mudah dipahami, karena jika seseorang lama tidak menulis, maka mesin kreativitasnya tertidur. Harus dibangkitkan lagi dengan berbagaimacam cara. Namun jika mesin kreativitas terasah setiap hari, seseorang akan semakin kreatif.
Michael Crichton menyatakan, “Menulis akan memunculkan inspirasi. Tetaplah menulis. Jika Anda berhasil, teruslah menulis. Jika Anda gagal, teruslah menulis. Jika Anda bersemangat, teruslah menulis. Jika Anda bosan, teruslah menulis”. Ini adalah usaha mendesain habit menulis harian.
Menulis Rutin Memunculkan Banyak Inspirasi
“The truth is that the inspiration comes when you’re working, never forget that” –Brian Rowe, 2019.
“Working inspires inspiration” ujar Crichton. Bukan melamun, bukan menunggu, bukan duduk-duduk di tepi pantai yang memunculkan inspirasi menulis. Yang akan memasok inspirasi menulis adalah ketika Anda rutin menulis setiap hari. Begitu Anda mulai menulis, di saat itu inspirasi bermunculan.
Brian Rowe (2019) mengomentari ungkapan Crichton tersebut. “Itu yang saya pelajari sejak lama hingga hari ini: inspirasi ada dalam menulis, bukan sebelum atau sesudahnya”, ujar Rowe. Sebelum memulai proses menulis, mungkin saja kita belum memiliki inspirasi. Namun begitu aktivitas menulis sudah kita jalankan, berbagai inspirasi datang mengalir.
Sebelum menulis, kita memiliki tema atau topik untuk ditulis. Misalnya, saya akan menulis tentang tema parenting, yaitu komunikasi efektif antara orangtua dengan anak. Sebelum mulai menulis, saya masih meraba-raba hal-hal yang akan saya hadirkan dalam tulisan. Namun begitu sudah mulai menulis, muncullah banyak inspirasi segar terkait tema tersebut.
“It’s what I learned a long time ago that I think about to this day: inspiration is in the doing of writing, not in the before or after. It’s why I try not to sit and think before I start writing. It’s why as soon as I power up my laptop, I get started” –Brian Rowe, 2019.
“Itu sebabnya saya mencoba untuk tidak duduk dan berpikir sebelum mulai menulis. Itu sebabnya begitu menyalakan laptop, saya segera mulai menulis”, ujar Rowe. Tidak perlu duduk merenung di depan laptop sebelum menulis. Tidak perlu duduk melamun untuk menemukan inspirasi menulis. Buka laptop, dan langsung menulis sesuai tema yang kita pilih.
“Yang benar adalah, inspirasi datang ketika Anda menulis, jangan pernah lupakan itu”, sambung Rowe. Sebagai penulis produktif, Brian Rowe memiliki pengalaman yang membuatnya sangat yakin. Inspirasi hadir ketika kita sudah mulaimenulis. Bukan sebelumnya. Dengan demikian, tak ada yang perlu ditunggu. Buka laptop Anda, tentukan tema, dan segera mulai menulis.
Mencintai Proses Menulis
“And when it comes to writing, try as much as possible to be in love with the process. Keep working when you succeed and keep working when you fail” –Brian Rowe, 2019.
Salah satu faktor pendorong munculnya inspirasi adalah ketika kita mencintai proses menulis. Rasa suka terhadap proses menulis, membuat Anda menikmati semua kondisi dan kesulitannya. Di saat itulah berbagai inspirasi menghampiri Anda. Proses menulis menjadi sedemikian lancar dan menyenangkan.
“Dalam aktivitas menulis, cobalah sebisa mungkin untuk mencintai prosesnya”, saran Brian Rowe. Sebenarnya ini berlaku untuk semua hal dan semua aktivitas. Segala sesuatu, jika Anda lakukan dengan rasa cinta, akan ringan melakukannya. Bekerja keras untuk mencari nafkah, terasa ringan dan menyenangkan jika dilakukan sepenuh cinta. Demikian pula dalam proses menulis.
“Teruslah menulis ketika Anda berhasil dan teruslah menulis ketika Anda gagal”, ujar Rowe. Misalnya menulis naskah artikel untuk koran. Ketika naskah Anda dimuat oleh koran yang Anda inginkan, teruslah menulis. Jika naskah Anda ditolak oleh koran yang Anda inginkan, teruslah menulis.
“The only way to fail at writing, ultimately, is to quit” –Brian Rowe, 2019.
Jangan berputus asa saat naskah Anda belum berhasil dimuat oleh koran dan majalah. “Para penulis yang sukses adalah mereka yang bertahan untuk tetap menulis dalam jangka panjang”, ungkap Rowe. “Satu-satunya cara untuk gagal dalam menulis, pada akhirnya, adalah berhenti”, sambungnya.
Jika Anda terus menulis, akan ada masa dimana kualitas tulisan Anda meningkat,menjadi lebih baik seiring proses. Namun jika Anda berputus asa dan memutuskan berhenti, maka Anda benar-benar telah gagal menjadi penulis. Benarlah ungkapan Richard Bach, bahwa penulis profesional adalah amatir yang tidak berhenti menulis.
“If you are interested in writing, and even if you are totally bored with writing, keep working anyway. If you work hard and work smart and learn from your mistakes and take chances, you will get there eventually, I guarantee it!” –Brian Rowe, 2019.
“Jika Anda tertarik dan bersemangat untuk menulis, dan jika Anda benar-benar telah bosan dengan menulis, tetaplah menulis”, saran Rowe. Saya menyebut hal ini sebagai upaya menjaga otot-otot kreativitas menulis, atau menjaga mesin kreativitas menulis agar tetap hangat.
Jika lama tidak menulis, otot-otot kreativitas dan produktivitas menulis kita bisa rusak. Harus berlatih lagi dari awal, harus memulai lagi dari nol. Namun jika kita menjaga rutinitas menulis, walau hanya 10 menit setiap hari, maka otot-otot itu akan tetap terjaga dan terlatih.
“Jika Anda bekerja keras, bekerja cerdas dan belajar dari kesalahan, serta berusaha mengambil peluang, Anda akan sampai pada tujuan, saya jamin!”, ujar Rowe.
Bagaimana dengan Anda?
Bahan Bacaan
Brian Rowe, 3 Quotes by Michael Crichton to Make You a Better Writer, https://medium.com, 19 Juni 2019

Bekerja keras, bekerja cerdas,belajar dari kesalahan serta berusaha mengambil peluang. Syukran katsira ustadz Cahyadi Takariawan