19 September 2026

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

“I think that from my story, other people can learn to love and care, especially those who may be losing their patience in giving care to their handicapped family members” –Wesley Wee.

.

Bagaimana cara Anda menulis? Tentu saja, dengan jari jemari tangan Anda. Tetapi, apakah setiap orang menulis selalu menggunakan jari jemari tangan? Ternyata, tidak.

Adalah Wesley Wee, seorang lelaki asal Singapura. Terlahir dengan serebral palsy, ia tidak bisa mengontrol gerakan tubuhnya. Setelah menjalani prosedur pembedahan saat masih kecil, ia justru kehilangan kemampuan berjalan. Ia harus rela berkegiatan dengan bantuan kursi roda.

Apakah Wee tidak menulis karena kondisi itu? Ternyata Wee bertekad menulis dan menghasilkan buku. Bagaimana caranya menulis?

Menulis dengan Satu Ibu Jari kaki

“I hope that when people read (my book), they will see my story with hope and will never give up no matter what they are going through” –Wesley Wee.

Ia menulis menggunakan satu ibu jari kaki. Ya benar, hanya dengan satu ibu jari kaki. Bukan ibu jari tangan. Ia tekun menulis, setiap hari untuk menyelesaikan bukunya. Ternyata, ia bisa melakukannya.

Satu per satu huruf diketikkan melalui keyboard komputer. Tekun ia melakukan itu dengan satu ibu jari kakinya. Dari satu huruf, terbentuk kata, terbangun kalimat, mewujud paragraf. Hingga selesai satu naskah buku.

Begitu cara ia membuat naskah buku, sama dengan kita. Bedanya, kita memiliki anggota tubuh yang lengkap. Bersyukurlah, alhamdulillah. Namun sepertinya, ia lebih bersemangat menulis dibandingkan sebagian dari kita.

Sepanjang 38 tahun Wesley hidup di kursi roda, bahkan ia tidak bisa makan dan mengenakan baju sendiri. Lebih mengerikan lagi, ia kerap mendapat perlakuan tak menyenangkan dari orang-orang dekatnya.

Dengan melewati sangat banyak kendala, Wesley bertekat kuat untuk berbagi dan menginspirasi orang banyak.  Ia berpesan, jangan pernah menyerah dengan kedaan. Jika ia bisa melakukannya, orang lain pun pasti bisa.

wesley wee

Menyelesaikan Satu Buku dalam Lima Tahun

“I always believe that God is with me. Even though sometimes I feel like giving up, I always thought that the sun would shine after the rain” –Wesley Wee.

Wesley harus rela menghabiskan waktu lima tahun untuk menyelesaikan sebuah buku. Dengan ketekunan yang luar biasa, buku itupun berhasil diterbitkan. Sebuah perjuangan yang sangat berat, tentu saja.

Buku berjudul ‘Finding Happiness Against The Odds’ ditulis dengan penuh kesungguhan. Buku setebal 68 halaman ini diterbitkan sendiri, bercerita tentang perjuangan hidup dengan cerebral palsy, kecenderungan bunuh diri dan bagaimana mengubah hidupnya.

“Saya berharap, pembaca buku saya akan menyimak cerita hidup saya, sehingga mereka memiliki harapan dan tidak akan pernah menyerah, apapun yang tengah mereka alami,” katanya.

“Saya pikir dari cerita saya, orang lain bisa belajar untuk mencintai dan peduli, terutama mereka yang mungkin kehilangan kesabaran dalam merawat anggota keluarga mereka yang menyandang disabilitas,” tambahnya.

Hidup yang Berat

“It has not been easy for me to write because each time I recalled an incident, my tears would fall” –Wesley Wee.

Buku ini ditulis dari saran salah seorang teman. Wee menghabiskan waktu lima tahun untuk menulis menggunakan iPad di malam hari. Pada siang hari, Wee bekerja menjual tisu di Orchard Road, untuk mendapatkan rezeki.

“Tidak mudah bagi saya untuk menulis. Setiap kali mengingat suatu kejadian, air mata saya langsung bercucuran,” ujarnya. Karena mengidap cerebral palsy, masa kecilnya dipenuhi oleh konflik keluarga. Ini membuatnya depresi.

Puncaknya, pada tahun 2007, ia mencoba bunuh diri. Namun usaha itu gagal, dan ia dirawat di rumah sakit. “Saya selalu percaya bahwa Tuhan bersama saya. Meski terkadang saya merasa ingin menyerah, saya selalu berpikir bahwa matahari akan bersinar setelah hujan,” katanya.

Lorena Buan, perempuan yang dinikahi pada tahun 2010 lalu, menceritakan tentang Wee. “Dia berharap ceritanya dapat menginspirasi banyak orang, bahwa dia telah melalui semua hal pahit, tetapi ia tidak pernah kehilangan harapan,” katanya.

Wee telah membuktikan kepada masyarakat dunia, bahwa tidak ada hal mustahil jika bersungguh-sungguh mengupayakannya. Buku perdana tersebut telah dilaunching pada 23 Agustus 2019 di markas Google Singapura.

“Saya ingin menginspirasi kehidupan orang-orang, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan, jangan menyerah karena apabila menyerah maka semuanya selesai”, ujarnya.

Wesley menjadi bukti, menulis bisa dilakukan oleh siapa saja. Tak hanya oleh mereka yang memiliki sepuluh jari normal. Keterbatasan fisik bukan alasan untuk tidak menulis.

Kesimpulan : jangan pernah menyerah di tengah keterbatasan. Anda tetap bisa produktif menulis dan menghasilkan banyak buku, sepanjang memiliki tekad yang kuat untuk mewujudkannya.

Bahan Bacaan

Alden Boon, Abused Because of Cerebal Palsy, But Still Wesley Wee Rises Above Finding Happiness and Love in The Face of Adversity, http://magazine.nedla.sg, 2 Juni 2018

Foo Jie Ying, Man with Cerebral Palsy Types with His Toe to Complete His Book, https://tnp.straitstimes.com, 15 Agustus 2017

Lee Chia Ming, Unwanted as A Child, Homeless as An Adult, Wesley Wee Finds Happiness Against the Odds,  https://saltandlight.sg, 10 September 2019

1 thought on “Agar Selalu Produktif Menulis – 107

  1. Matahari akan bersinar setelah hujan. Yakinlah akan ada kemudahan setelah badai (kesulitan). Syukran katsira usatz Cahyadi Takariawann.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *