.
Belajar dari Para Penulis Produktif
Oleh : Cahyadi Takariawan
“I must write each day without fail” –Leo Tolstoy.
.
Menulis adalah aktivitas kreatif, yang bercorak sangat dinamis. Pada dasarnya tidak ada satu cara atau teknik untuk produktif menulis yang bisa berlaku secara umum. Setiap penulis bisa memiliki cara dan teknik yang paling cocok untuk dirinya –yang bisa berbeda dengan orang lain.
Namun kita juga menyadari, tidak semua orang berbeda secara keseluruhannya. Selalu akan ditemukan orang-orang dengan sifat dan karakter yang sama atau hampir sama. Selalu ada orang-orang dengan situasi dan kondisi yang sama atau hampir sama. Untuk itu kita bisa saling belajar.
Salah satu tips untuk bisa produktif menulis, adalah dengan banyak belajar dari para penulis produktif. Mereka sudah terbukti memiliki banyak karya, maka kita belajar kepada mereka bagaimana bisa mendapatkan produktivitas dalam menulis. Tidak semua tips cocok untuk kita, namun akan ada hal yang bisa kita ambil sebagai inspirasi.
Kita batasi wilayah pembelajaran, hanya dalam konteks proses kreatif dan produktivitas menulis. Kita tidak sedang belajar atau mengadopsi ideologi, isme, keyakinan, ataupun ajaran. Kita tengah belajar tips kreatif dan produktif menulis.
Seri # 20 – Belajar Produktif dari Leo Tolstoy
Kali ini kita akan belajar dari Leo Tolstoy, seorang penulis yang produktif. Siapakah jati dirinya? Mari kita simak.
Lev Nikolayev Tolstoy yang lebih populer dengan sebutan Leo Tolstoy adalah novelis asal Rusia. Tolstoy juga menulis naskah cerita pendek, drama dan esai. Karyanya yang terkenal antara lain War and Peace dan Anna Karenina. Lahir di Rusia pada 1828, Tolstoy menjadi terkenal ke seluruh dunia karena kepribadian serta keyakinannya yang dianggap “rumit dan paradoks”.
Novelnya yang berjudul Childhood (1852), Boyhood (1854), dan Youth (1856), sering dianggap sebagai cerminan kehidupan pribadinya. Ia menghasilkan 119 karya tulis di sepanjang hidupnya. Tolstoy meninggal pada tahun 1910, dalam usia 82 tahun. Meninggal dunia di stasiun Astapovo setelah jatuh sakit –ketika dia meninggalkan rumah di tengah musim dingin.
Menurut Rossiyskaya Gazeta (2015), Tolstoy bukan hanya seorang penulis, melainkan juga seorang filsuf. Bahkan ia dikenal sebagai pendiri aliran agama dan moral yang disebut Tolstoyisme. Pandangan Tolstoy terbentuk di bawah pengaruh ajaran Timur, agama Budha hingga Islam. Salah satu penganut ajaran ini adalah Mahatma Gandhi.
Dasar ideologi dalam perlawanan terhadap kejahatan adalah kesempurnaan moral. Pengikut Tolstoy mengkritik gereja Ortodoks dan karena hal inilah Tolstoy dianggap sebagai sekte berbahaya. Akibatnya, Tolstoy pun dikucilkan dari gereja (Gazeta, 2015).
Terus Rutin Menulis
“I must write each day without fail, not so much for the success of the work, as in order not to get out of my routine” –Leo Tolstoy.
Salah satu yang bisa kita pelajari dari produktivitas menulis Tolstoy adalah kemampuannya untuk menjaga rutinitas menulis. Ia harus memastikan bahwa setiap hari ada tulisan yang dihasilkan, tanpa gagal.
“Saya harus menulis setiap hari tanpa gagal, bukan untuk keberhasilan pekerjaan, tetapi agar tidak keluar dari rutinitas saya,” ujar Tolstoy.
Sebuah etos menulis yang luar biasa. Ia menjaga ’mesin’ menulis dalam dirinya agar tetap panas. Ia menjaga ‘otot-otot kreativitas’ agar tidak loyo dan kendor. Hanya dengan disiplin menulis setiap hari, ‘otot-otot kreativitas’ akan terlatih dan terus siap bekerja.
Tidak Banyak Makan
“Then he, too came up to have his breakfast, for which he usually ate two boiled eggs in a glass. He did not eat anything after that until five in the afternoon” –Mayo Oshin, 2017.
Salah satu pemacu produktivitas Tolstoy rupanya adalah pada ‘puasa’. Ia tidak banyak makan, tidak suka ngemil. Ia hanya sarapan dua butir telur di waktu pagi, dan tidak lagi makan apapun hingga pukul lima sore.
“Pada akhir tahun 1880, Tolstoy membiasakan makan siang pada pukul dua atau tiga. Dia tidak banyak bicara saat sarapan dan segera pindah ke ruang kerjanya dengan segelas teh,” tulis Mayo Oshin (2017). Ia terus menulis hingga tiba waktu makan malam.
Kadang dijumpai penulis yang membawa banyak jenis minuman dan cemilan di meja kerjanya. Hingga ketika menemui kebuntuan ide, mereka asyik menikmati cemilan dan tidak jadi menulis.
Menulis dalam Kesunyian
“According to Sergei, Tolstoy worked in isolation — no one was allowed to enter his study, and the doors to the adjoining rooms were locked to ensure that he would not be interrupted” –Mayo Oshin, 2017.
Setiap penulis memiliki kebiasaan yang berbeda dalam mendapatkan kondisi optimal menulis. Ada yang senang menulis dalam kesunyian dan kesendirian. Ada yang suka menulis dalam keramaian dan kebersamaan. Semua sesuai kebiasaan dan kenyamanan setiap penulis, dan tidak perlu ‘diseragamkan’.
Tolstoy termasuk yang lebih suka menulis dalam ‘isolasi’. Tidak ada yang diizinkan masuk ke ruang kerjanya saat ia menulis. Pintu akses ke kamar-kamar yang bersebelahan dikunci untuk memastikan bahwa dia tidak akan diganggu. Ini sebuah ‘ritual’ yang membuat Tolstoy nyaman menulis tanpa gangguan.
Tentu setiap penulis bisa berbeda cara kerjanya. Saya sendiri bisa menulis dalam kesunyian, bisa pula dalam kebisingan. Saya tidak perlu mengunci dan mengurung diri untuk bisa menulis. Kecuali ketika saya tengah mengejar deadline atau menantang diri untuk menyelesaikan projek menulis dalam waktu tertentu.
Bagaimana dengan Anda? Keramaiankah yang memicu inspirasi menulis Anda, atau kesunyian? Selamat berkarya.
Bahan Bacaan
Mayo Oshin, The Daily Routine of 20 Famous Writers (and How You Can Use Them to Succeed), https://medium.com, 15 Agustus 2017
Rossiyskaya Gazeta, Siapakah Sebenarnya Leo Tolstoy? https://id.rbth.com, 9 September 2015
Story Artist, 12 Habits That Made Tolstoy a Highly Profilic Author – Conquer the Writing Battle, https://storyartist.me, diakses 1 Desember 2021
.
Ilustrasi : https://www.history.com/

Kesunyian dalam menulis, sangat saya sukai, karena menambah konsentrasi untuk beinspirasi. Syukran katsira ustaz Cahyadi Takariawan atas suntikan sarapan paginya.