21 September 2026

.

Belajar dari Para Penulis Produktif

Oleh : Cahyadi Takariawan

“There are books of which the backs and covers are by far the best parts” –Charles Dickens

.

Charles Dickens adalah seorang novelis produktif asal Inggris. Ia dikenal memiliki kepedulian terhadap masyarakat miskin dan marginal. Ia mengangkat realitas ketimpangan masyarakat dalam novel, untuk menjadi kritik konstruktif bagi pemerintah Inggris.

Novel Oliver Twist , David Copperfield, dan A Christmas Carol adalah karya monumental Dickens yang disukai banyak masyarakat dunia, dan mengangkat namanya. Menulis novel bagi Dickens, adalah proses menyuarakan realitas kehidupan. Maka ia memilih gaya penulisan yang ia sebut sebagai ‘natural’.

Pada beberapa postingan sebelumnya, sudah kita bahas tips produktif dari Charles Dickens. Kali ini saya tambahkan lagi tips produktif menulis dan Dickens. Tentu saja tidak semua hal bisa ditiru. Pilih yang cocok untuk masing-masing kita, tinggalkan yang tidak bisa kita lakukan.

Dickens : Ada Banyak Tulisan ‘Ngaco’ Di Luar Sana

“A writer’s main goal is to make sure they don’t bore, irritate, or traumatise their reader or editor with the content. Every day, aim to be a better writer no matter what it is you are writing. It’s the only way to avoid the sin of becoming a ‘bad’ writer” –Alex J. Coyne, 2021.

Terkadang, kita menemukan tulisan yang ‘ngaco’, bahkan menyesatkan persepsi masyarakat. Saat membaca tulisan yang cenderung ‘destruktif’, membuat kita geram dan gemas. Ingin membuat tulisan yang meluruskan. Ini menjadi salah satu motivasi produktivitas menulis.

Bukan hanya soal isi tulisan. Dickens menemukan banyak tulisan serampangan. Tidak indah. Ia merasa tertantang untuk menghadirkan karya yang lebih berkualitas, agar dunia literasi tidak dipenuhi sampah. Agar pembaca berhak mendapatkan karya-karya bermutu dari para penulis yang bersungguh-sungguh menghadirkan tulisan bermakna.

“Ada buku-buku yang bagian belakang dan sampulnya merupakan bagian terbaik”, ujar Dickens sebagaimana ditulis di buku Oliver Twist. Sebagai penulis yang berdedikasi, tentu Dickens sangat sedih melihat buku yang hanya bagus covernya saja.

Salah satu orientasi penulis adalah mengupayakan tidak membuat bosan, jengkel, atau trauma pembaca atau editor. Jangan sampai pembaca dan editor merasa tidak nyaman dengan tulisan yang dibuatnya. Maka para penulis berusaha menghadirkan karya terbaik untuk membuat pembaca terhibur.

“Good writing says stuff, but remarkable writing says stuff with less (and usually more carefully chosen) words” –Alex J. Coyne, 2021.

Kritik pedas Dickens tentang buku yang hanya bagus covernya, mengungkapkan fakta bahwa pada era 1800-an sudah ditemukan banyak tulisan tidak bermutu beredar di pasaran. Bukan saja beratakan secara tata bahasa, namun juga tidak masuk akal secara isi. Rupanya kondisi ini justru menjadi motivasi Dickens untuk terus berkarya dan memperbaiki kualitas tulisannya.

Alex J. Coyne (2021) menyarankan, “Setiap hari, berusahalah untuk menjadi penulis yang lebih baik, apa pun yang sedang Anda tulis”. Belajar dari kritik Dickens tentang buku yang hanya bagus covernya, sudah sepatutnya kita selalu berusaha menghasilkan karya yang semakin baik dari waktu ke waktu.

Dickens: Pilih Kata untuk Menghadirkan Makna

A word in earnest is as good as a speech” –Charles Dickens.

Menulis bukan sekedar menuangkan kata dengan semena-mena. Setiap kata-kata harus dipilih untuk menghadirkan makna. Bukan sekedar memenuhi halaman kertas atau lembar-lembar buku dengan tulisan. Penulis harus berusaha memilih kata-kata yang memiliki kekuatan pesan.

“Sebuah kata yang dipilih dengan kesungguhan, sama baiknya dengan pidato”, ungkap Dickens dalam buku ‘Bleak House’. Bahkan sebenarnya, kata-kata yang ditulis jauh lebih kuat dibandingkan pidato yang berapi-api.

Seorang orator yang membakar emosi massa di tengah pidato, hanya akan memberikan pengaruh sesaat. Namun sebuah tulisan yang memiliki kekuatan makna, akan berdampak sangat panjang. Tulisan itu bisa dibaca antar generasi, sehingga pengaruhnya cenderung ‘abadi’.

Coyne memaknai ungkapan Dickens “A word in earnest is as good as a speech” sebagai “Satu kata yang dipilih dengan benar, bernilai seribu kata”. Ada penggandaan kekuatan dari sebuah kata, saat kata itu hadir secara tepat. Pengaruh yang ditimbulkan menjadi lebih kuat, dan memberikan kesan mendalam bagi pembaca.

“If you were a painter, you would use the best paints on the market, or mix your own pigments. You’re a writer. Use your words, and mix them around” –Alex J. Coyne, 2021.

Belajar dari semangat Dickens, menulis harus dirancang secara teliti untuk statistik keterbacaan. Apakah pembaca masih akan setia meneruskan bacaannya, atau mereka berhenti membaca karena jenuh. “Tulisan yang bagus menyatakan makna, sedangkan tulisan yang luar biasa menyatakan makna dengan kata-kata yang lebih sedikit”, ujar Coyne.

“Jika Anda seorang pelukis, Anda akan menggunakan cat terbaik, atau mencampur warna. Sebagai penulis, gunakan kata-kata terbaik Anda, dan mainkan”, ujar Coyne. Jadi bukan soal berapa banyak warna yang Anda miliki untuk melukis, namun seberapa tepat Anda memilih warna dan mencampurkannya.

Bukan sebanyak apa kata Anda tulis, namun seberapa tepat Anda memilih kata dan menggunakannya. Bagaimana dengan Anda?

Bahan Bacaan

Alex J. Coyne, 7 Bits Of Writing Advice From The Works Of Charles Dickens, https://www.writerswrite.co.za, 7 Februari 2021

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *