.
Belajar dari Para Penulis Produktif
Oleh : Cahyadi Takariawan
“I write every morning, seven days a week. I write starting about eight o’clock and finish around eleven….I am so compulsive that I have a quota of pages” –Alice Munro.
.
Alice Munro adalah penulis fiksi produktif dan penerima penghargaan Nobel bidang sastra tahun 2013. Munro terkenal dengan gaya tulisan yang sederhana dan bersahaja. Mayoritas karya tulisnya berupa cerita pendek, namun dengan ukuran yang panjang untuk setiap cerpennya.
Pada beberapa postingan sebelumnya, sudah kita bahas tips produktif menulis dari Alice Munro. Kali ini saya tambahkan lagi tips produktif menulis dan Munro. Tentu saja tidak semua hal bisa ditiru. Pilih yang cocok untuk masing-masing kita, tinggalkan yang tidak bisa kita lakukan.
Tega Menilai Tulisan Sendiri
Ketika kita menulis satu naskah –baik fiksi maupun nonfiksi, sebelum melakukan publikasi harus kita lakukan pemeriksaan akhir. Dengan jujur kita menilai tulisan sendiri, apakah sudah sesuai jiwa kita, atau bahkan masih sangat jauh dari jiwa kita? Jika belum sesuai dengan keinginan kita, apa tindakan yang harus kita lakukan?
Alice Munro memiliki pengalaman tentang tulisan yang harus ditinggalkan. “Saya bisa saja menulis lancar suatu hari dari pagi sampai malam dan menghasilkan lebih banyak tulisan dari biasanya. Tapi keesokan harinya saya sadar bahwa saya tidak suka terhadap apa yang sudah saya tulis kemaren”, ujar Munro.
Kadang kita sedemikian semangat menulis, hingga mampu menghasilkan karya tulis lebih banyak dari hari-hari lainnya. Namun bukan berarti semua hasil tulisan kita tersebut sudah sesuai dengan arah yang kita inginkan. Bagi Munro, ia harus mengambil keputusan terhadap tulisan yang tidak sesuai jiwanya.
Bagaimana cara Munro menilai tulisannya sendiri? “Tolok ukur yang saya tetapkan adalah: jika saya merasa enggan mendekati cerita yang sedang saya tulis, atau jika saya harus memberikan dorongan ekstra pada diri saya sendiri untuk melanjutkan cerita tersebut, maka pasti ada yang salah dengan cerita itu”, ungkapnya.
Kadang Munro mengambil keputusan tragis. Ia harus meninggalkan tulisan yang sudah tinggal seperempat lagi final. “Biasanya setelah menuliskan tiga-perempat isi cerita, saya tiba pada titik di mana saya merasa cerita yang sedang saya tulis lebih baik ditelantarkan”, ungkapnya. Ia mengambil keputusan untuk meninggalkan tulisan yang sudah tigaperempat jadi, karena tidak sesuai dengan jiwanya.
Tentu ini keputusan berat. “Kalau sudah begitu saya pasti rewel selama satu, dua hari”, lanjut Munro. “Lantas saya akan memikirkan hal lain yang ingin saya tulis”, lanjutnya. Ia benar-benar meninggalkan cerita tersebut, karena tidak sesuai keinginan. Munro segera mencari ide untuk menulis cerita yang lain lagi. Ia tidak berputus asa.
Pelajaran penting bagi kita semua, bahwa terkadang kita terlalu mudah berputus asa. Namun di lain pihak, kita juga terlalu menyayangi hasil karya tulis kita. Mereka yang mudah berputus asa, akan cenderung meninggalkan setiap tulisan yang baru saja dimulainya. Mereka yang terlalu sayang terhadap karya yang telah ditulis, akan cenderung mempertahankan mati-matian –walau tulisan itu sangat jauh dari harapan.
Munro mengajarkan sikap idealis, namun sekaligus realistis. Idealis dalam sisi kualitas, bahwa ia ingin kualitas tulisan terbaik. Realis dalam sisi melihat hasil karya yang telah dibuatnya. Jika tidak sesuai harapan, ia akan rela meninggalkannya.
Menulis itu Seperti Kehidupan Pernikahan
Ada ungkapan yang sangat menarik dari Alice Munro, terkait kesamaan menulis dengan kehidupan pernikahan. “Antara diri saya dan proses menulis ada hubungan yang tidak jauh berbeda dengan percintaan”, ungkap Munro. Ada suasana hati, suasana jiwa, sebagaimana para pecinta.
Bagi Munro, mengenali potensi cerita tak ubahnya mengenali pasangan hidup kita dalam pernikahan. “Mengenali potensi cerita itu sama dengan mengenali potensi pasangan hidup”, ujar Munro. Hal ini menunjukkan betapa dalam penghayatan Munro dalam melahirkan satu cerita. Ia benar-benar berusaha mengenali dengan detail, dengan sepenuh perasaan, sebagaimana mengenali pasangan.
“Terkadang kita menghabiskan banyak waktu dengan orang yang tidak begitu kita sukai dan akhirnya mendulang kekecewaan dan kesedihan—tapi kita tak sadar di mana kesalahan kita”, ungkap Munro. Dalam pernikahan, selalu muncul kekecewaan dan kesedihan. Namun kita juga menyadari andil kekurangan dan kesalahan diri sendiri –tidak hanya menyalahkan pasangan.
“Namun setelah itu saya cenderung menemukan jalan keluar terbaik untuk menyelesaikan cerita yang sudah saya telantarkan”, ungkap Munro. Sebagaimana dalam kehidupan pernikahan, setiap konflik, setiap pertengkaran, setiap masalah, selalu ada jalan keluar terbaik yang bisa diambil.
Dinamika menulis tak ubahnya dinamika hidup berumah tangga. Ada cinta, ada harapan, ada pertengkaran, ada kekecewaan, namun juga ada jalan keluar terbaik di setiap kejadian. Menikah harus siap berada dalam dinamika tinggi : mengambil hal-hal yang sesuai keinginan, meninggalkan atau membuang hal-hal yang tidak sesuai harapan. Semua demi keutuhan, kebahagiaan dan keharmonisan keluarga.a
“Sayangnya, jalan keluar itu baru terpikir setelah saya menyerah”, lanjut Munro. Ketika Munro telah menyerah, ia tinggalkan tulisan yang tidak sesuai harapan, maka ia segera menulis kisah yang lain. Di saat itu, ia menemukan solusi untuk cerita yang telah ditinggalkan.
Bahan Bacaan
Brian Rowe, 5 Quotes by Alice Munro to Make You a Better Writer, https://medium.com, 31 Maret 2020
Jeanne McCulloch & Mona Simpson, Alice Munro : The Art of Fiction No. 137, https://www.theparisreview.org, Issue 131, Summer 1994
Mayo Oshin, The Daily Routine of 20 Famous Writers (and How You Can Use Them to Succeed), 15 Agustus 2017, https://medium.com
