19 September 2026

.

Belajar dari Para Penulis Produktif

Oleh : Cahyadi Takariawan

Be the person who works in humble, quiet isolation, then emerges from hibernation having completed something of substance” –Bobby Powers, 2020.

.

Salah satu tips untuk bisa produktif menulis, adalah dengan banyak belajar dari para penulis produktif. Mereka sudah terbukti memiliki banyak karya, maka kita belajar kepada mereka bagaimana bisa mendapatkan produktivitas dalam menulis. Tidak semua tips cocok untuk kita, namun akan ada hal yang bisa kita ambil sebagai inspirasi.

Pada postingan sebelumnya, kita sudah belajar dari Ernest Hemingway. Kali ini, masih kita teruskan pembelajaran dari cara menulis Hemingway.

Tips Produktif Menulis Ernest Hemingway

Ernest Miller Hemingway adalah penulis novel The Old Man and the Sea (1952) dan puluhan lainnya. Ia mendapat penghargaan Pulitzer 1953, Award of Merit Medal for Novel dari American Academy of Letters, bahkan Nobel Sastra pada 1954.

Ada beberapa tips menarik dari Hemingway untuk produktif menulis. Tidak semua cocok untuk kita, maka pilih dan sesuaikan yang bermakna untuk produktivitas menulis kita. Tips pertama sudah saya sampaikan dalam postingan sebelumnya. Sekarang saya sampaikan tips kedua.

Kedua, Menulis Tanpa Mengharap Pujian

“So I am going to [continue writing For Whom The Bell Tolls] until it is finished. I wish I could show it to you so far because I am very proud of it but that is bad luck too. So is talking about it” –Hemingway, in a letter to Maxwell Perkins

Apakah produktivitas menulis bisa dipicu oleh motivasi pujian dan penghargaan? Mungkin. Namun jika hanya itu yang menjadi motivasi, akan terlalu cepat padam dan meninggalkan dunia menulis. Sebab realitas dalam dunia tulis menulis, selalu ada pembaca yang suka dan tidak suka. Akan selalu ada yang memuji dan mencela.

Menurut Bobby Powers (2020), salah satu kunci produktivitas menulis Hemingway adalah justru ketika dirinya fokus kepada karya. Hemingway tidak fokus kepada meriahnya tepuk tangan pembaca atas karya-karyanya –atau cemoohan para kritikus. Ia berusaha menciptakan karya terbaik.

Pada zaman Hemingway hidup, belum ada facebook, instagram, twitter, youtube atau tiktok. Andai itu semuanya sudah ada, efek popularitas Hemingway akan semakin mengglobal. Sangat banyak likers, followers dan fans yang akan memviralkan semua postingan dan karya Hemingway –melalui medsos. Namun itu tidak terjadi.

Waktu itu, baru berkembang sarana tradisional. Saling berkirim dan berbalas surat. (Kita jadi mengingat Kartini –setiap mendengar kata surat menyurat). Demikianlah yang juga dilakukan Hemingway, ia berkirim dan berbalas surat kepada sahabat dan para fans.

Dalam sepucuk surat untuk Maxwell Perkins, Hemingway menyatakan, “Saya akan terus menulis novel ‘For Whom The Bell Tolls’ hingga selesai. Saya berharap bisa menunjukkannya kepada Anda proses penulisan sejauh ini, karena saya sangat bangga akan hal itu. Tetapi hal ini juga sekaligus merupakan nasib buruk. Demikian pula untuk membicarakannya.”

Kerja Dulu, Perayaan Kemudian

“People tend to accept credit before doing the work. Think of all the people who post on Facebook the moment they begin training for a marathon. Or the friends who post a “before” picture on the first day of their new fad diet. Or the writers who tell the instagram world that they just wrote the first page of their novel” –Bobby Powers, 2020.

Disimpulkan oleh Bobby Powers, pada intinya Hemingway mengajak “jangan mencari pujian untuk pekerjaan yang belum selesai”. Menurut Powers, banyak orang cenderung menerima kredit sebelum melakukan pekerjaan.

Tindakan ini dijelaskan oleh Powers seperti orang yang sudah pamer postingan di facebook, menceritakan tengah latihan untuk sebuah pertandingan maraton. Padahal pertandingan belum dilakukan, dan hasil belum diketahui. Namun sudah ingin mendapat ‘kredit’ pujian dari proses berlatih.

Sebagian orang memosting foto “before” pada hari pertama diet mereka. Berharap dalam sepekan atau sebulan akan ada foto “after” yang lebih langsing dan menarik. Padahal diet belum dilakukan, baru mengawali proses hari pertama. Tindakan ini –menurut Powers—menandakan ingin mendapat ‘kredit’ pujian dari proses ‘memulai diet’.

Demikian pula para penulis –termasuk saya, yang sudah heboh di instagram dan facebook, bahwa mereka baru saja memulai menulis halaman pertama untuk sebuah buku. Padahal baru mendapat satu dua paragraf, namun sudah ingin mendapat ‘kredit’ pujian dari proses ‘memulai menulis’.

Ehem, apakah Anda juga demikian? Duh, ternyata saya termasuk di dalamnya. Jadi malu nih sama mbah Hemingway….

Powers mengingatkan dengan keras, “Jangan menjadi orang seperti itu”. Ia banyak belajar dari Hemingway tentang ketulusan dan kerendahhatian. “Jadilah orang yang bekerja dalam kerendahan hati, dalam kesendirian yang tenang, lalu hadir dari proses hibernasi setelah menyelesaikan sesuatu karya yang substansial”, lanjut Powers.

“Don’t be that person. Be the person who works in humble, quiet isolation, then emerges from hibernation having completed something of substance” –Bobby Powers, 2020.

“Tentu tidak masalah untuk sharing ide dengan beberapa teman dekat, atau memberi tahu keluarga mengapa Anda menghabiskan begitu banyak waktu sendirian di ruang kerja. Namun jangan mengambil kredit publik untuk sesuatu yang belum Anda lakukan”, ujar Powers, mencoba mengambil inti sari proses menulis Hemingway.

Nah, ini ternyata menyangkut setting mental kita. Rupa-rupanya banyak di antara kita yang terjebak dalam ‘kebesaran diri’ yang belum ada wujudnya. Ingin segera memetik hasil pada saat kita baru menyiapkan lahan. Belum lagi mulai menanam benih, sudah membayangkan panen raya atau panen besar.

Optmisme? Saya kita harus dan wajib. Namun jangan sampai berubah menjadi ketidaktulusan dan ketinggian hati, yang menyebabkan kita terkurung dalam obsesi berlebihan. Sampai akhirnya kita lebih fokus kepada menghitung jumlah likers, comment dan share –dibanding fokus berkarya. Belum ada karya bermakna, namun sudah berisik di mana-mana.

“Sure, it’s fine to workshop ideas with a few tight friends or tell your family why you’re spending so much time alone in the basement. But don’t take public credit for something you haven’t done yet” –Bobby Powers, 2020.

Sampaikan kepada sahabat dekat dan keluarga, minta doa, pengertian dan dukungan dari mereka, untuk karya Anda. Berusahalah dengan bersungguh-sungguh untuk menciptakan karya bermakna. Bukan karena berharap pujian dan dielu-elukan di mana-mana, bukan karena ingin mendapat jutaan efek viral di media. Namun karena ingin menciptakan karya yang bermakna.

Selalu Bersemangat, Tanpa Menunggu Tepuk Tangan Meriah

“You must be prepared to work always without applause. When you are excited about something is when the first draft is done. But no one can see it until you have gone over it again and again until you have communicated the emotion, the sights and the sounds to the reader, and by the time you have completed this the words, sometimes, will not make sense to you as you read them, so many times have you read them” –Ernest Hemingway.

Sebuah nasehat yang mak-jleb dari Hemingway, “Anda harus selalu siap bekerja (menulis) tanpa tepuk tangan”. Inilah penyakit zaman medsos. Penyakit yang menggerogoti niat ikhlas dan ketulusan hati. Muncullah penulis baper : bersemangat menulis saat mendapat banyak likers. Berhenti menulis saat tak ada yang like postingannya.

Kapan saat yang tepat bagi Anda untuk menjadi bersemangat? Menurut Hemingway, “saat draf pertama Anda selesai”. Nah, ini menunjukkan harus bekerja dulu, sampai semua naskah selesai ditulis pada kesempatan pertama kali. Ini yang draf pertama –naskah jadi yang belum diedit.

“Menulis menuntut jam kerja penuh ketenangan, ketulusan dan tanpa pamrih. Apakah Anda bersedia menginvestasikan waktu itu?” tanya Powers. Seorang penulis tidak tiba-tiba mendapat penghargaan level nasional maupun internasional. Mereka telah bekerja dalam waktu yang cukup, dengan investasi kesungguhan, ketulusan dan dedikasi.

“Writing demands hours of silent, thankless work. Are you willing to invest that time?” –Bobby Powers, 2020.

“Mereka bekerja berjam-jam,” ujar Powers. “Mereka masih bangun ketika kota telah tertidur, mereka bekerja ketika orang lain menyebutnya malam”. Namun untuk Hemingway, ia adalah tipe ayam jago, yang menulis di pagi hari. Ia mendedikasikan waktu terbaik untuk menghasilkan karya terbaik.

Bagaimana dengan Anda?

Bahan Bacaan

Bobby Powers, Ernest Hemingway’s Top 13 Writing Tips, https://writingcooperative.com, 17 Maret 2020

1 thought on “Agar Selalu Produktif Menulis – 21

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *